Love, Life, and Jennifer Season II

Love, Life, and Jennifer Season II
Diriku yang baru...



"Mengapa mommy seperti ini?! Aku tidak menyukai mommy-ku yang seperti ini! Aku ingin mommy bahagia! Mommy membuatku sedih jika seperti ini... Mommy... Ku mohon, kembalilah seperti mommy yang dulu... Kembalilah seperti mommy yang ku kenal dulu... Aku begitu menyayangimu, mommy... Ku mohon... Kembalilah, dan hiduplah dengan bahagia..."


"JOEY!!!"


"Kenapa, nak! Ada apa, sayang?!" Ibuku begitu khawatir melihat keadaanku saat ini


Entahlah!


Hampir satu tahun, setelah kepergian Joey untuk selamanya, ini adalah pertama kalinya, aku memimpikan putra semata wayangku itu...


"Ma... Joey, ma... Joey!!!" Ucapku diiringi Isak tangis


Ibuku yang saat ini menyodorkan segelas air kepadaku, kini berusaha untuk menenangkanku


"Iya, nak... Tenang dulu, ini, diminum dulu..." Ucapnya


Aku kemudian meraih gelas berisi air putih tersebut, kemudian menyesapnya.


"Tenangin diri kamu dulu, ya... Baru nanti mulai cerita." Ucap Ibuku, seraya mengusap punggungku


Aku kembali menangis sejadi-jadinya, tanpa mampu untuk mengatakan satu patah katapun kepada ibuku...


Yeah...


Yang dapat ku lakukan malam itu adalah, membiarkan diriku terluka...


Benar...


Aku sungguh benar-benar terluka, tiap kali ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut Joey, walau hanya melalui mimpi, terngiang di telingaku...


Kejadian malam itu, sungguh mempengaruhi diriku selama berhari-hari, hingga suatu malam, ketika aku hendak pergi ke dapur untuk mengisi botol air minumku yang telah kosong, aku mendengar percakapan ibuku dengan seseorang, melalui panggilan seluler...


"Iya, pa... Uang mama cuma cukup untuk kehidupan beberapa hari lagi disini... Papa kan tau, biaya hidup disini, sepuluh kali lipat dari indo."


Aku mendengar dengan saksama dari balik pintu kamar ibuku, yang ternyata tengah berbincang dengan ayahku, di seberang sana


"Ya udah, nggak apa-apa, kita gadaikan aja kalo gitu, pa... Yang penting anak kita kembali seperti semula..."


Tunggu dulu!


Apa aku tidak salah dengar?!


Gadai?!


Apa yang hendak mereka gadaikan?!


Hening, hingga ku dengar ibuku terisak pilu...


"Mama cuma mau Jenny kita kembali seperti dulu, pa... Hiks... Hiks... Mama, cuma... Hiks..."


Tanpa terasa, air mataku ikut menetes, mendengar penuturan ibuku...


Ingin rasanya aku masuk ke dalam ruangan Ini, dan langsung memeluk erat tubuh wanita yang paling ku cintai di dunia ini, namun...


Tidak!


Tidak sekarang!


Yeah!


Esok, aku akan menyampaikan sesuatu kepada ibuku!


*****************************


Keesokan harinya, seperti biasa, ibuku yang telah selesai menyiapkan sarapan, menghampiriku untuk segera menyantap sarapan buatannya.


Belaian lembut jemarinya, yang tidak luput dari rambut serta wajahku, seolah menjadi candu untukku, dan membuatku semakin enggan untuk membuka mata.


"Jenny, bangun yuk, sayang... Sarapannya udah mateng, tuh... Mama bikinin mie ayam untuk Jenny... Jenny bilang, Jenny mau makan mie ayam, tuh mama udah bikinin..." Ucap ibuku lembut


Aku semakin meringsut di bawah selimut, mengingat, udara pagi disini, selalu menusuk hingga ke tulangku...


"Iyaaa... Sebentar lagi ya, ma..." Ucapku malas


Entah sihir apa yang ibuku gunakan, hingga akhirnya, tidak butuh waktu lama, aku telah berada di hadapan mie ayam yang sungguh sangat menggiurkan ini!


"Waaaahhh!!! Enak banget ini pasti!!!" Ucapku dengan penuh semangat


Ku lihat sekilas, mata ibuku agak sembab...


Tentu saja aku mengetahui apa penyebabnya, hanya saja, aku tidak ingin membahas perihal itu, karena aku sungguh sangat mengenal ibuku!


Beliau, adalah ahlinya penyimpan luka...


Yeah!


Jika ku perhatikan, hampir setahun selama kami hidup di negeri ini, tubuhnya semakin lama, semakin terlihat kurus...


Dan jujur saja, mata sembab itu, hampir setiap hari aku melihatnya, hanya saja... Aku baru menyadarinya, semenjak kejadian semalam...


Betapa bodohnya aku, yang begitu terhanyut dalam lukaku sendiri, hingga tidak menyadari hal sebesar ini!


Yeah...


Nyatanya, kehancuranku, juga berdampak kepada keluargaku...


Bahkan ibuku yang dulu selalu ku banggakan kecantikannya, meskipun usianya semakin bertambah, kini terlihat tidak ada bedanya, dengan wanita sebayanya...


Dan ayahku...


Terakhir kali aku bertemu dengannya secara langsung, dua bulan yang lalu, secara fisik, tidak ada bedanya dengan ibuku...


Yeah...


Lagi-lagi, aku kembali menjadi penyebab atas setiap masalah!


Dan aku kembali membawa serta orang terdekatku, masuk ke dalam lingkaran kehancuran hidupku!


"Ma, mama dapat bahan-bahannya darimana, ma?" Ucapku seraya mengaduk-aduk mie yang sebelumnya terlihat cantik ini, guna meratakan bumbunya


"Kemarin anaknya Aunty Claire yang nikah sama orang indo, bawain mama oleh-oleh bumbu-bumbu indo gitu, eh... Inget kamu beberapa hari lalu bilang pengin makan mie ayam, ya sudah..." Ibuku tersenyum, seraya mengaduk mie


Aku tersenyum, seraya sekilas menatap wajah sayu ibuku, yang walaupun ku tahu, seberapa keras usahanya untuk menutupi kesedihan dalam hatinya dengan senyuman, tetap saja masih jelas terlihat...


"Ma, kayaknya nggak enak banget ya, semisal pengin makan masakan indo, kita kudu banget nungguin oleh-oleh dari orang!" Ucapku seraya menyantap hidangan ini


"Maksud kamu?" Ibuku menghentikan makannnya, seraya menatapku heran


"Iya, tiap kali mau makan masakan indo aja, kudu nunggu menantunya Aunty Claire dulu, dan itupun nggak sebulan sekali! Ditambah lagi, kita kan nggak bisa ngarepin mereka ngasih kita oleh-oleh terus, ma..." Ucapku, lalu kembali memasukan mie ke dalam mulut


"Mmmmmm... Bener juga, sih!" Ibuku mengangguk, lalu kembali menyantap mie


"Kalo gitu, next kalo kamu mau makan masakan khas indo, kita belanja online aja, ya..."


"Iiihhhh!!! Jangan! Jangan! Jangan!" Aku langsung menyela ucapan ibuku


"Harganya bisa sepuluh kali lipat, lho! Belum lagi ongkos kirimnya! Hadeeuuh! Nggak deh, ma! Nggak usah!" Sahutku, kemudian menyesap segelas penuh air putih, begitu selesai menghabiskan makananku


"Ya habis, mau gimana lagi, nak..." Ucap ibuku dengan tatapan teduhnya


"Kita pulang ke indo aja yuk, ma! Aku bosen disini terus, lho! Lagian juga, dah tiga bulan ini, aku lepas dari psikiatri." Ucapku yakin


Ibuku menatapku, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ku ucapkan...


Yeah...


Kejadian semalam, serta ucapan Joey, yang walau hanya melalui mimpi, seolah menjadi cambukan untukku!


Cambukan yang menyadarkanku, bahwa hidup tidak melulu tentang kehancuranku...


Cambukan yang menyadarkanku, bahwa aku tidak boleh membuat orang di sekitarku ikut hancur, karena sikapku, juga...


Cambukan yang menyadarkanku, bahwa hidup harus tetap berjalan, walau apapun yang akan terjadi, aku harus menghadapinya...


"Ma-maksudmu..."


"Orang Swiss itu, sibuk semua... Mana ada waktu untuk nemenin aku yang pengangguran ini terus-menerus, beda sama di indo... Ada Clara, ada Ginna, ada banyak lah pokoknya!" Ucapku berusaha meyakinkan ibuku


"Kamu yakin, nak?" Ucap ibuku lirih


Aku tersenyum, seraya mengangguk dengan penuh semangat, hingga ibuku menghampiri, dan langsung memelukku dengan erat...


Aku begitu mengetahui, bahwa ibuku merasa sangat bahagia saat ini, itu terlihat dari senyumnya, yang walaupun terdapat air mata disana, itu adalah air mata kebahagiaan!


"Kapan kamu mau kita pulang, nak?" Ucap ibuku, seraya mengusap sisa air mata di pelupuk matanya


"Hari ini? Gimana?!" Ucapku dengan penuh semangat


"Mana bisa! Kita kan harus beres-beres dulu, cari tiket dulu, beli oleh-oleh dulu!" Protes ibuku


"Oh iya, ya! Hahahaha!!!"


Yeah... Hari ini, pada akhirnya aku kembali dapat melihat raut kebahagiaan di wajah ibuku, bahkan ayahku yang kami hubungi melalui panggilan video, tidak kalah bahagianya melihat perubahannku saat ini...


Inilah yang sebenarnya obat atas rasa sakitku, ditinggal pergi oleh satu-satunya putra yang ku miliki di dunia ini...


Melihat kebahagiaan kedua orang tuaku, di usia mereka yang semakin senja...


Dan hari ini, kepada semesta aku bersumpah, bahwa aku akan menghadapi apapun yang hendak semesta lakukan kepadaku, tanpa keluhan, juga tanpa rasa ingin menyerah!!!