
Lagi...
Aku kembali melihat pemandangan memilukan itu...
Tidak!
Bukan memilukan! Bahkan ini sungguh sangat mengerikan!!!
Aku begitu histeris melihat penampakkan putraku melalui dinding kaca ruang ICU ini...
Aku meraung, bahkan meronta-ronta melihat dokter dan juga beberapa perawat, melakukan hal yang sama, seperti apa yang ku lihat beberapa tahun silam terhadap mendiang nenekku, dan juga mendiang Clarence...
Lagi...
Mereka saling menatap satu sama lain, dokter menggelengkan kepala, lalu melihat ke arah arloji yang terdapat pada lengan kirinya...
Duniaku seolah berhenti berputar, hingga, semua berubah menjadi gelap...
**************************
POV AUTHOR
Bocah kecil itu, kini telah berada di dalam peti kayu...
Wajah polosnya, terlihat begitu manis, dengan setelan jas yang membalut tubuh mungilnya
Jika diperhatikan, bocah kecil itu bahkan terlihat seperti tengah tertidur dengan nyenyak, di atas pembaringan terakhirnya...
Yeah... Sudah tiada lagi rasa sakit yang sebelumnya begitu terlihat jelas, dari wajah polos bocah manis itu...
Jenny, sang ibu hanya memandang kosong ke arah wajah putra semata wayangnya itu...
Sesekali ia bergumam...
"Hey, aku tidak menyukai pakaianmu ini... Dapatkah kau menggantinya dengan yang lain? Dengan seragam sekolahmu, mungkin?"
Wanita itu kini bangkit dari duduknya, dan mencoba untuk melepas kancing jas yang melekat pada bocah kecil, yang telah terbujur kaku itu...
"Bukankah kau pernah bilang, bahwa kau telah mendapat seragam dari tempat dimana kau akan bersekolah?" Ucapnya seraya tersenyum perih
Young Joon, serta kedua orang tua Jenny, yang akhirnya menyadari tindakan Jenny, kini bergegas ke arah wanita itu, untuk menghentikan tindakannya
"Sayang... Cukup... Ku mohon..." Ucap Young Joon lirih, seraya memeluk tubuh ringkih istri yang paling dicintainya itu
Kedua orangtua Jenny, tak kuasa untuk menahan air mata, melihat sikap putri semata wayangnya tersebut...
"Sudah, nak... Sudah... Joey sekarang sudah nggak ngerasa sakit lagi, sayang..." Ucap ayah Jenny, seraya mengusap lembut rambut putrinya itu
Jenny melepas pelukan Young Joon, kemudian menatap kosong ke arah ayahnya
"Pa, Jen nggak suka Joey pake baju itu... Joey... Hiks... Hiks... Joey..." Tubuh Jenny seketika ambruk
Young Joon segera meraih tubuh istrinya, namun Jenny segera menepis tangan suaminya.
Tubuhnya bergetar hebat, menahan tangis yang kapanpun dapat pecah...
"Kenapa jadi begini? Kenapa? KENAPAAAAA!!!"
Pemandangan memilukan itu, di saksikan oleh para kerabat dan orang-orang yang tengah menyambangi kediaman mereka.
Bahkan ketika jasad Joey hendak di kebumikan, Jenny seolah enggan melepas putranya tersebut
"Jangan! Jangan disana!!! Nanti Joey kedinginan!!! Tadi aku lupa pakein Joey Sweater!!! Pak! Jangan, pak! Jangan!!!"
Young Joon yang bahkan juga merasakan kesedihan yang sama, seolah kewalahan menahan tubuh istrinya yang kini tengah meronta-ronta
"Jen, jangan gini donk, Jen... Please... Kasihan Joey, Jen..." Ucap Clara, sesekali terisak melihat sikap sepupunya itu
"Ra... Joey, Ra! Joey... Hiks... Joey... Hiks... Hiks... Joey..."
Jenny seolah telah kehilangan akal sehatnya...
Bahkan sikap tersebut, berlangsung hingga tiga bulan setelah kepergian putra kesayangannya itu, hingga suatu hari...
"Jen, sampai kapan mau begini terus, nak?" Ucap ibu Jenny, kepada putrinya, yang kini tengah menatap kosong ke luar jendela kamarnya
Ia segera menatap wajah ibunya tersebut, kemudian tersenyum...
"Aku kangen Joey, ma..." Ucapnya, tersenyum lirih
Ibu Jenny tersenyum, kemudian menghela nafas perlahan.
Ia segera meraih kedua tangan putrinya
"Sayang, bahkan kita semua kaaaaaangeeen banget sama Joey, tapi..."
"Tapi tuhan itu memang nggak adil ya, ma."
Ucapan Jennifer, dengan serta rerta, melenyapkan senyum ibunya.
Wanita paruh baya itu, menatap lirih wajah pucat putrinya, yang semakin hari, semakin terlihat tirus
"Aku minta sama tuhan, aku mau anakku hidup sehat, ceria, dan riang seperti dulu!" Ucap Jenny, lalu kembali menatap ke arah jendela kamarnya
"Tapi dengan kejamnya, Dia ambil gitu aja, satu-satunya anak yang aku punya!" Ucapnya, kemudian tersenyum sinis
"Jen! Nggak boleh ngomong gitu, ah!" Ucap ibu Jenny, kemudian menghampiri putrinya
"Aku rajin ibadah, aku juga jarang minta sama Dia, tapi kenapa begitu aku minta anakku baik-baik aja, Dia..." Ucapan Jenny terhenti, lalu ia kembali menatap wajah ibunya, dengan mata yang berkaca-kaca
"Tuhan tuh, benaran ada nggak sih, ma?"
"Jenny! Kok kamu ngomong gitu sih, nak!"
"Kalau tuhan benar ada, Dia pasti dengar permintaanku waktu itu!" Ucapnya, kemudian bergegas pergi, meninggalkan ibunya yang hampir putus asa menghadapi sikap wanita itu
Malamnya, ketika seluruh keluarga Jenny, termasuk Young Joon, tengah berkumpul di ruang keluarga rumah peninggalan mendiang nenek Jenny, Jenny yang keadaannya telah sedikit lebih baik, walaupun sikapnya masih dingin, tiba-tiba menghampiri mereka.
Mereka yang berada disana, terkejut sekaligus bahagia, melihat Jenny akhirnya mau berkumpul bersama mereka
"Jenny!" Ucap ayah Jenny, kemudian menghampiri putrinya itu.
Jenny tersenyum tipis, dan sekilas melihat ke arah Young Joon yang tersenyum lega, melihat sikap istrinya tersebut
"Ada yang mau aku sampaikan." Ucap Jenny tenang, sesaat setelah duduk di tengah-tengah antara ayah dan ibunya
Semua orang yang ada di ruangan tersebut, kini menatap dengan saksama, apa yang hendak Jenny ucapkan.
"Jenny mau ngomong apa, nak?" Ucap ibu Jenny, seraya membelai bahu putrinya itu
Jenny segera menoleh ke arah ibunya, kemudian meraih tangan ibunya, lalu mengecup punggung tangan wanita paruh baya itu.
Ia tersenyum setelahnya, lalu kembali menatap ke arah orang-orang yang kini duduk di hadapannya
Jenny menghela nafas perlahan, sesaat sebelum berkata...
"Aku mau memulai hidup baru..." Ucapnya mantap
Semua yang ada di ruangan itu, tersenyum mendengar penuturan Jenny
"Aku mau buka lembaran baru dalam hidup aku, dan mungkin..." Ucapannya terhenti sejenak
"Untuk sementara waktu, aku mau pergi dari Indonesia." Ucap Jenny dengan mata yang berkaca-kaca
"Baiklah, kita dapat kembali ke Amerika!" Seru Young Joon, dengan penuh semangat
Jenny langsung menatap laki-laki yang bahkan hingga saat ini, masih berstatus sebagai suaminya itu.
Ia menarik nafas dalam, kemudian menghelanya perlahan
"Young Joon..." Ucap Jenny dengan tatapan nanar
"Hmmmm? Ya, sayang?" Ucap Young Joon dengan senyum bahagia
Jenny menatap lekat, wajah Young Joon, alih-alih langsung menjawab pertanyaannya.
Ia tersenyum, hingga akhirnya mantap berkata...
"Mari kita akhiri saja hubungan kita..."