Love, Life, and Jennifer Season II

Love, Life, and Jennifer Season II
Pesta telah usai...



Dua hari setelah operasi, Joey kembali ceria seperti biasanya, walaupun jika ku perhatikan, wajahnya jauh lebih pucat dari sebelum ia menjalani operasi.


Dokter Benny bilang, jika kondisi Joey memungkinkan, Joey akan menjalani proses transplantasi ginjal, itulah mengapa, Joey masih berada dalam proses observasi.


Pagi ini, Young Joon kembali berangkat kerja dari rumah sakit ini, mengingat, semenjak Joey menjalani operasi, Young Joon menginap bersamaku disini.


"Jadi, jagoan... Daddy pergi sekarang, ya!" Ucap Young Joon, sesaat setelah mengecup kening putra kesayangannya itu


Joey mengangguk dengan penuh semangat, walaupun matanya sungguh satu.


"Sayang, aku pergi sekarang, ya.." Ucap Young Joon, hendak mengecup bibirku.


Namun aku dengan sigap menghalaunya!


"Pergilah! Kau akan terlambat nanti!" Ketusku


Young Joon terlihat kesal sekali, seakan tak terima dengan perlakuanku tadi!


"Iiissshhh!!! Baiklah! Aku pergi sekarang!" Kesalnya, kemudian berlalu, dan akupun tersenyum puas!


"Mommy..."


Suara lemah Joey memanggilku, dan akupun langsung menghampirinya


"Ya, sayang... Ada apa, anak manis?" Ucapku seraya mengusap pipi tirusnya, sesaat setelah duduk tepat di samping bangkarnya


"Kapan papa akan kembali?"


"Lho, bukankah papa kemarin papa berkata kepadamu, sebelum ia meninggalkanmu kemarin, bahwa jika pekerjaannyaa telah usai, ia akan kembali menemuimu?"


Joey hanya tersenyum, mendengar ucapanku...


Entahlah, apakah ini hanya perasaanku saja, atau Joey memang menunjukkan sikap tak biasa kepadaku?


"Apa hubungan papa dan Daddy sudah membaik?"


'Deeeeeegggh!!!'


Mengapa putraku berbicara seperti itu?!


Apakah ia mengetahui keadaan kami yang sesungguhnya?!


Kalaupun Joey mengetahui keadaan kami yang sebenarnya, siapa yang memberi tahunya?


Tidak mungkin mama dan papa!


Ku pikir, Aoyama dan Young Joon sudah pasti tidak akan pernah membahas hal ini di depan Joey!


Lalu, bagaiman bisa, bocah kecil itu berbicara seperti tadi?!


"Paman itu bilang, aku dapat pergi jika hubungan Daddy dan papa sudah membaik..."


Paman?!


Paman yang mana?!


Paman siapa yang Joey maksud?!


"Paman? Paman mana yang kau maksud, nak?" Ucapku khawatir...


"Mommy, aku lelah sekali... Aku istirahat sekarang, ya..." Joey langsung menutup matanya, sesaat setelah mengucapkan hal tadi


Mengapa?


Mengapa perasaanku kembali tidak enak, begitu mendengar ucapan Joey tadi?!


Mengapa hatiku terasa begitu sakit, melihat sikap putraku kepadaku tadi?


'Tookkk... Tookk... Tookkk...!'


"Masuk!" Sahutku


Seorang perawat datang, namun tidak seperti biasanya...


Ia datang hanya seorang diri, tidak seperti pagi tadi, ia datang dengan dokter.


Ku lihat cairan infus milik Joey masih penuh, dan tidak terjadi masalah pada selangnya!


Perawat itu juga tidak membawa obat-obatan, atau apapun di tangannya!


Sedangkan, jika menilik jadwal kunjungan dokter, harusnya dokter dan perawat akan datang pada pukul 11 nanti!


Dan ini, lebih cepat dua jam dari jadwal biasanya!


Lalu, apa alasan perawat ini datang ke ruangan ini?


"Mama Jonathan..." Sapa perawat itu ramah


"Ya, ada apa, sus?" Jawabku


"Dokter Benny meminta anda untuk ke ruangan beliau."


Apa lagi, ini???


Mengapa dokter Benny memintaku untuk menemuinya lagi?


"Ummm... Kalau boleh tau, ada apa ya, sus?"


"Lebih jelasnya, Mama Jonathan langsung ke ruangan beliau saya, ya..." Ucap perawat itu, sambil tersenyum


"Oh, ok deh... Kalau gitu, saya titip Joey ya, sus!" Ucapku kemudian berlalu, sesaat setelah perawat itu mengangguk


Sepanjang perjalanan menuju ruangan dokter Benny, entah mengapa, ada sesuatu yang aneh di dalam hatiku.


Mengapa dokter Benny tidak mengatakan apapun kepadaku ataupun Young Joon, ketika beliau mengunjungi Joey pagi tadi?


Mengapa harus sekarang, beliau ingin berbicara kepadaku?


Apakah ada hal yang serius?


Entahlah!


Semoga pikiran burukku, hanyalah sekedar firasat tak beralasan!


Begitu tiba di dalam ruangan dokter Benny, beliau langsung memintaku untuk duduk di kursi yang berbeda tepat di hadapannya.


"A-ada apa ya, dok?" Ucapku ragu


Dokter Benny menghela nafas berat, disertai dengan ekspresi wajah yang tak dapat ku gambarkan.


"Ibu, saya mohon maaf sekali, ya..."


Kalimat pertama ini, seolah menjawab perasaanku yang tidak baik ini


"Y-ya... Ada apa memangnya, dok?"


"Bu, terjadi komplikasi dalam tubuh Jonathan..."


Aku tersenyum sinis, seolah mengejek ucapan dokter!


"maksudnya gimana ya, dok?"


"Saya juga bingung sebenarnya, Bu... Bahkan jika dilihat secara langsung, sikap Joey tidak menunjukkan jika dia sedang mengalami sakit yang teramat..."


"Maksudnya, dok?"


Dokter segera menunjukkan hasil Rontgen yang semalam Joey jalani.


Sejujurnya, aku tidak begitu mengerti, bagaimana cara membaca sketsa tubuh bagian dalam putraku ini, hanya saja...


"Ini adalah ginjal Jonathan, dan ini... Yang ukurannya lebih besar ini..." Ujar dokter Benny,seraya menunjukkan dua buah gumpalan yang terdapat pada sketsa itu


"Ini adalah batu ginjal..."


Apa?!


Bagaimana mungkin!!!


Bukankah dua hari yang lalu, mereka baru saja melakukan tindakan pengangkatan batu ginjal terhadap putraku?!


Lalu, mengapa benda sialan itu masih terdapat disana?!


"Lho, dok! Bukannya..."


"Itulah yang membuat kami heran, Bu..." Dokter segera menyela ucapanku


"Ini terlalu cepat, jika kita hitung semenjak tindakan Nephrolithitomy..." Ucap dokter Benny dengan wajah serius


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Ucapku dengan suara bergetar


Dokter Benny menghela nafas, seolah tengah memilah, kalimat apa yang tepat untuk ia ucapkan, agar aku tidak terluka...


"Untuk saat ini, kami hanya dapat melihat perkembangan pada Jonathan, karena... Bahkan untuk transplantasi sekalipun, itu tidak dapat kami lakukan, mengingat jarak operasi yang begitu dekat..."


"Ummm... Jika dipaksakan, itu akan mengancam nyawa Jonathan, Bu..."


'Deeeeeeggghhhhh!!!'


Kalimat inilah yang paling aku takutkan...


Kalimat yang menurutku adalah kalimat terlarang yang paling enggan untuk ku dengar di muka bumi ini...


Tubuhku melemas seketika...


Rasa sakitnya bahkan terasa hingga menusuk ke relung hatiku...


Takut, sudah pasti!!!


"Bu, kita pasrahkan semua..."


"Cukup, dok! Cukup..." Aku segera menghentikan ucapan dokter, seraya tersenyum miris


"Apa sudah selesai?" Ucapku lagi


Dokter Benny menghela nafas berat, seraya memandangku lesu, alih-alih langsung menjawab ucapanku...


"Baiklah, kalau begitu, saya permisi sekarang!" Ucapku kemudian berlalu


Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju ruangan dimana putraku berada...


Rasa bersalah, tentu saja begitu hebat mencengkram relung jiwaku...


'Jika saja'


Yeah...


Kalimat itu kembali terngiang di dalam benakku, seolah membuat diriku kembali terbelenggu rasa bersalah yang tidak pernah ada habisnya...


Bahkan putraku tercinta, juga memiliki andil dari kalimat 'jika saja' itu


Joey...


Apapun akan ku lakukan, untuk menebus semua dosaku kepadamu...


Joey...


Bahkan jika malaikat maut memintaku untuk menukar nyawaku demi kesembuhanmu, dapat ku pastikan! Aku akan melakukan itu!


"Mommy!" Ucap Joey riang, begitu aku membuka pintu ruangan ini


Aku tersenyum... Yeah!


Untuk saat ini, hanya ini yang dapat ku lakukan, untuk menenangkan hatiku, juga untuk membuat putraku merasa nyaman...


"Sayangku... Ooohhhh"


Aku langsung memeluk tubuh mungil putraku, erat...


Enggan rasanya untuk melepas pelukan ini...


Aku bahkan menghujani wajahnya dengan ciuman bertubi-tubi...


Perawat yang semenjak tadi menjaga Joey, bahkan keheranan, melihat sikapku kepada Joey!


"Mommy... Tadi aku bertemu dengan seorang nenek..." Ucap Joey, di dalam pelukanku


Aku langsung menguraikan pelukanku, seraya menatap wajah lesunya.


Heran!


Tentu saja!


Apakah Joey dapat bermimpi dalam tidur yang sangat singkat?


"Kau bermimpi lagi?" Ucapku, kemudian dudu di sisi kosong ranjangnya


Joey menggeleng, kemudian tersenyum...


Ku lihat sekilas wajah perawat yang saat ini tengah memeriksa aliran cairan infus.


"Nenek itu sering sekali menjumpaiku, akhir-akhir ini... Dia bilang, dia akan membawaku bersamanya, jika semua telah membaik!"


Aku mengerutkan kening


"Sus, tadi mama saya kesini, ya?" Ucapku kepada suster yang tengah bersiap untuk pergi


"Nggak, Bu..."


"Bukan, mom! Itu bukan nenek!" Ucap Joey sambil tersenyum


Aku dan perawat itu, kini saling menatap, mengerutkan kening kami masing-masing


"Mommy mungkin mengenalnya, karena fotonya ada di rumah nenek!"


'Deeeeeeeeggghhh!!!!!'