Love, Life, and Jennifer Season II

Love, Life, and Jennifer Season II
Semangat baru!



"Tapi boss saya tuh, ribet banget, ci! Nci yakin, mau?" Ujar laki-laki bertubuh gempal, bernama Bagus itu


Dua hari setelah perbincanganku dengan Clara dan Dennis di mobil mereka, Dennis segera menghubungi sepupunya itu, dan kami berempat sepakat untuk bertemu di sebuah kafe yang tidak jauh dari kediamanku.


"Nah, tuh Pel! Lu pikir-pikir dulu dah, tuh!" Sahut Dennis


"Iya, nggak papa, yang penting, boss kamu tuh, nggak mesum, kan?" Selidikku


"Beeeuuhhh!!! Kalo itu sih, saya jamin, nggak, ci! Boss saya kayak nggak punya nafsu sama cewek!"


Aku menghela nafas lega, seraya mengusap dadaku


"Tapi umur saya udah tiga lima, lho!" Aku kembali memastikan!


"Itu sih, nggak masalah, ci! Yang penting nci siap sama kerjaannya! Gajinya memang gede banget! Dua digit, belum termasuk tunjangan! Cuma, ya gitu..." Bagus kembali menjelaskan


"Sriusan, umur nggak masalah?! Oh iya, gosah ca ci ca ci, laah! Panggil nama aja! Kita seumuran, kan!" Ujarku


"Pel, si Bagus mah, badan doank gede! Umurnya masih 28! Emang boros mukanya! Hahahahaaa!!!" Dennis tertawa lepas, ketika mengejek saudara sepupunya itu


"Sialan lu, bang!" Kesal Bagus


"Eh, i-iya ci! Eh..."


"Panggil mbak aja! Kalo nggak, kak!" Sahutku


"Eh, iya, ci! Eh, kak! Eh, mbak..."


"Deeeuuuhhh! Ribet! Panggil senyaman lu aja, Dudut!" Ujar Clara gemas


Bagus hanya tersenyum kikuk, mendengar ucapan sepupu iparnya itu


"Tapi ci, eh kak... Di pikir-pikir dulu, mending... Soalnya, untuk kandidat yang sekarang, semisal ACC, calon sekretaris harus mau tanda tangan kontrak, yang isi kontraknya itu, udah di revisi dari kontrak sebelumnya." Bagus kembali menerangkan


"Maksudnya gimana, Dut?" Selidik Clara


"Gini, kak! Karena yang kerja sama boss saya itu, nggak pernah ada yang sampe tiga bulan, jadi, kontrak yang baru itu, hasil revisi dari kontrak pertama, si pekerja nggak boleh keluar dari perusahaan, sebelum kontrak berakhir, yaitu selama 3 tahun!" Ucap Bagus serius


"Ya bagus, donk!" Sahutku


"Bagus pala lu! Lu nggak denger itu, si Bagus ngomong apaan! Sekretarisnya nggak ada yang kuat gawe sama tuh orang!" Sahut Clara


"Nah, itu dia, ci! Eh, kak! Coba di pikir-pikir lagi, deh!" Bagus kembali memastikan


"Emang se-nyebelin itu ya, boss lu, Dut?" Selidik Clara lagi


"Lebih ke perfectionis sih, kak!" Jawab Bagus


"Orang mana sih, Gus?" Tanya Dennis


"Korea, bang!"


Korea...


Park Young Joon...


Aku kembali teringat akan sosok itu...


Sosok yang entah masih, atau sudah bukan suamiku lagi...


Sosok yang masih sangat ku rindukan, hingga saat ini...


Entah apa yang kini tengah mereka perbincangkan, karena pikiranku kini tengah melayang entah kemana, hingga...


"Gimana, Pel? Lu mau?" Tanya Dennis


"Mau!" Jawabku, tanpa mengetahui apa yang mereka perbincangkan sebelumnya


"Lu yakin, mau bayar denda senilai gaji lu di kali tiga tahun, semisal lu mutusin kontrak secara sepihak?!" Clara seolah tak percaya


"Ma-maksudnya?" Ucapku heran


"Jadi gini, kak... Semisal Kak Jen..."


"Jenny, Gus! Gosah sok manja manggil dia Kak Jen! KAK JENNY!" Protes Dennis


"Eh, i-iya..." Jawab Bagus dengan senyum kikuk


"Ya udah, terserah si Bagus sih, Den! Gw ini yang dipanggil! Kenapa lu yang ribet! Lanjut, Gus!" Protesku


Bagus tersenyum puas, merasa dibela olehku


"Apa, lu! Cengar-cengir!" Kesal Dennis kepada Bagus


"Kagak, Bang!" Bagus membela diri


"Oke, gini, Kak Jenny... Semisal sebelum tiga tahun, Kak Jenny mutusin kontrak secara sepihak, kak Jenny harus bayar denda, setara gaji kakak kerja disana selama tiga tahun... Nah, semisal gaji kakak dua puluh juta, itu dikalikan tiga puluh sembilan bulan..."


"Oowwhh... Ok! Kapan kita bisa ke perusahaan lu?" Aku langsung menyela ucapan Bagus, hingga membuat ke-tiga orang yang duduk di hadapanku ini, menatapku tak percaya


"Gus?" Ucapku seraya melambaikan tangan di depan wajah Bagus


"Eh... Ummm... Kakak bisanya kapan?" Bagus memastikan


"Lebih cepat, lebih baik! Besok, gimana?" Seruku


Lagi-lagi ucapanku, kembali membuat mereka menatapku tak percaya


"Astaga! Kalian ini kenapa, sih!" Protesku


"Bu-bukan gitu, Jen! Mending lu pikir-pikir dulu, deh!" Clara kembali mengingatkanku


"Gw dah yakin, kok! Ya udah, Gus! Besok ketemuan dimana? Apa gw jemput lu aja?" Tanyaku kepada Bagus ayang seolah tak percaya dengan sikapku


"Eh... Nnngggg... Gini aja, kak! Kita ketemu di perusahaan aja, ini alamatnya!" Ujar Bagus, seraya meraih saku belakang celananya, kemudian meraih dompet, dan mengeluarkan sebuah kartu bertuliskan namanya, serta alamat perusahaan, lalu menyerahkannya kepadaku


"Ooowwwhh... Di Gading! Okedeh! Besok kira-kira jam berapa, Gus?"


"Kalo bisa, jam delapan kakak udah sampai disana, biar langsung di interview sama personalia."


"Oke!" Jawabku penuh semangat!