Love, Life, and Jennifer Season II

Love, Life, and Jennifer Season II
Merasa bersalah...



Aoyama memintaku dan baby Joey untuk makan bersama di salah satu tempat makan yang berada tidak jauh dari pintu masuk mall.


Aku tidak dapat menolaknya, mengingat dia telah membelikan banyak sekali mainan untuk putraku, ditambah lagi, putraku benar-benar bahagia ketika berada di sisinya.


"Senang akhirnya dapat bertemu lagi denganmu." Aoyama terlihat canggung menatap wajahku yang sedikit murung.


Aku menatap wajahnya, dan tersenyum seadanya.


"Bagaimana keadaanmu?" Ucap Aoyama, seraya tersenyum hangat


"A-aku... Aoyama..." Aku menatap wajah Aoyama serius kali ini.


"Hmmmm...?"


"Ada yang ingin ku tanyakan kepadamu." Kataku


"Apa itu?" Aoyama masih tersenyum, lalu menyuapkan sesendok kecil ice cream rasa vanilla kepada baby Joey.


"Dia sangat menyukai ice cream vanilla! Persis sepertiku!" Ucap Aoyama.


Aoyama tersenyum menatap baby Joey yang saat ini tersenyum menatap Aoyama.Itu benar-benar terasa sungguh menyesakkan!


"Apakah kau datang ketika aku masih dalam keadaan koma, dua tahun yang lalu?" Ucapku dengan hati-hati.


Aoyama terdiam mendengar ucapankh tadi.


Ia tertunduk, alih-alih langsungn menjawab pertanyaanku, dan terlihat berpikir, kemudian menatap wajahku dalam.


"Ya..."


Jawaban Aoyama benar-benar menghujam jantungku!


Nafasku sesak dan nyeri secara bersamaan.


Air mataku kembali menetes.


"Dan jika kau mendengar sesuatu pada saat itu, itu bukanlah sebuah mimpi." Aoyama seolah memastikan apa yang selama ini membebaniku.


"Sesuatu seperti apa yang kau maksud?"


Young Joon tiba-tiba berdiri di samping baby Joey, kemudian mengangkat tubuh mungil putraku, dari kursi bayi.


Kami berdua benar-benar terkejut melihat kedatangannya yang tiba-tiba!


"Apa kalian tengah mengadakan reuni secara diam-diam?" Ucap Young Joon, satire


Ia terlihat menahan amarahnya, dan aku langsung berdiri menghampirinya, lalu Aoyama pun akhirnya berdiri.


"Joon..." Kataku mengusap bahu Joon


"Aku tidak sengaja bertemu mereka, jadi..."


"Apa yang sedang kau rencanakan?" Sinis Joon, dan Aoyama tersenyum licik


"Tes DNA!" Ucap Aoyama tegas, seraya menatap baby Joey!


Kami berdua tercengang mendengar ucapan Aoyama!


Young Joon lalu menyerahkan baby Joey kepadaku


"Bawa putra kita..."


"Putra kami!" Sahut Aoyama menatap tajam ke arah Young Joon.


Baby Joey tiba-tiba menangis kencang, seperti sedang disiksa, seolah mengetahui apa yang tengah terjadi.


"Joon, ayo kita pulang sekarang... Baby Joey menangis." Kataku seraya menatap ke arah sekitar, dimana pengunjung tempat makan ini tengah melihat ke arah kami.


Tubuh Young Joon bergetar, seperti menahan sesuatu, kemudian menatapku dan juga Joey.


Mata Young Joon memerah dan berkaca-kaca.


"Baiklah." Ucapnya, kemudian kami berlalu meninggalkan Aoyama


Namun, baru saja beberapa langkah kami meninggalkan Aoyama, tiba-tiba Aoyama berkata...


Ucapan Aoyama menghentikan langkah kami.


Young Joon tersenyum getir, kemudian kami kembali melanjutkan langkah kami.


*********************


Semenjak kembali dari DC mall, aku dan Young Joon sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun!


Bahkan kami lebih memilih untuk menghindar satu sama lain.


Young Joon berada di kamar baby Joey, dan aku duduk di bangku halaman belakang rumah kami, memikirkan apa yang terjadi hari ini.


Aku kembali menangis, memikirkan jika Aoyama benar-benar melakukan apa yang diucapkannya. Aku menenggelamkan wajahku seraya memeluk kedua lututku, dan menangis sejadi-jadinya disana, hingga seseorang memelukku dari samping, serta menempelkan wajahnya di bahuku.


Aku mengangkat wajahku, dan menatap sosok yang saat ini sedang memelukku.


Young Joon, tersenyum, matanya terlihat sembab. Dia menghapus air mataku dengan jemarinya.


Aku kemudian memeluknya, dan kembali menangis di dalam pelukannya.


"Maafkan aku..." Aku terisak mengatakannya.


"Maafkan aku..." Aku benar-benar histeris saat ini.


Young Joon melnguraikan pelukannya, kemudian meraih wajahku dengan kedua tangannya


"Untuk apa?" Ucapnya


Tatapan Young Joon begitu teduh, membuatku semakin merasa bersalah


"Seharusnya aku..."


Young Joon segera mengecup bibirku, untuk menghentikan kata-kata yang akan keluar dari mulutku, kemudian melepaskan kecupannya dan kembali menatapku


"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan." Ucapnya dengan tatapan teduh


Young Joon mendekap erat tubuhku.


Ini benar-benar menenangkanku.


Aku tersenyum lega mendengar kata-kata Young Joon.


"Apapun yang terjadi, kau tetap mommy Joey, dan aku adalah Daddy Joey." Katanya lalu tersenyum manis.


Keesokan harinya, tepatnya Sabtu pagi, kami berencana untuk pergi ke taman bermain siang nanti.


Baby Joey sungguh bersemangat sekali mendengarnya.


Bahkan ia menghabiskan sarapannya untuk merayuku dan juga Young Joon agar segera pergi ke taman bermain secepatnya!


Bukankah baby Joey benar-benar menggemaskan? Tingkahnya benar-benar dapat membuat kami melupakan kejadian kemarin.


Kami menikmati sarapan pagi ini dengan suasana yang benar-benar menyenangkan, hingga kami benar-benar melupakan kejadian kemarin sore.


Bell rumah kamu, berbunyi...


"Siapa yang datang pagi-pagi begini?" Young Joon terlihat heran, hingga tiba-tiba baby Joey berkata


"Papa!"


Baby Joey bersemangat sekali mengatakan itu, hingga membuat Young Joon menatap heran kepadanya.


Dan wajahku, menegang seketika!


"Papa?" Ucap Young Joon mengerutkan dahinya.


Bell kembali berbunyi


"A-aku akan segera memeriksa siapa yang datang." Kataku kemudian meninggalkan mereka, dan segera menuju pintu masuk rumah kami.


Ketika aku membuka pintu rumahku, betapa terkejutnya aku melihat sosok yang ada disana!