Love, Life, and Jennifer Season II

Love, Life, and Jennifer Season II
42



Duniaku seolah berhenti berputar untuk beberapa waktu!


Mataku berkaca-kaca, menatap nanar ke arah papan bertuliskan nama 'Park Young Joon' di atas sebuah meja, yang berada tepat di hadapan seorang pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya...


"Jennifer Elizabeth Lie?" Ucap pria itu, kemudian menatap tajam ke arahku, sesaat setelah meletakkan CV ku


"Eh?" Seketika ucapannya membuyarkan lamunanku


"Jika ku lihat dari CV mu, kau dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, kan?" Ucapnya dengan tatapan serius


"Eh?" Aku mengerutkan keningku


Apakah ini hanya kebetulan?


Apakah ada pria Korea lain, yang juga bernama Park Young Joon, yang memiliki suara, wajah, serta aroma yang sama dengan Park Young Joon, yang pernah, bahkan masih ada di dalam hatiku ini?


Atau, Jangan-jangan laki-laki ini memang benar Park Young Joon yang sampai saat ini dan entah sampai kapan selalu ada di hatiku?


Namun, jika memang ia adalah Park Young Joon-ku, mengapa sikapnya bagaikan orang asing, walaupun bentuk visualnya benar-benar tidak menunjukkan sedikitpun perbedaan?


"Hallo, nona?!" Ucap pria itu, seraya melambaikan tangannya kepadaku


"Eh, i-itu..."


Pria itu kini melipat kedua tangannya di depan dada, seraya menyandarkan tubuhnya, di sandaran kursi kebesarannya, sambil tersenyum, seolah mengejekku!


"Apa kau telah memanipulasi data dirimu?" Ucapnya seolah menyelidik


Apa?!


Bagaimana maksud dari ucapannya tadi?!


Itu membuatku berdecak sebal, seraya tersenyum sinis!


"Maaf, tuan..."


"Park Young Joong!" Ucapnya tegas, seolah mengingatkanku tentang nama yang tertulis di papan yang berada di atas meja kerjanya


"Yeah, tuan Park Young Joon..." Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghelanya secara perlahan


Tuan Park, sssshhhhh... Maksudku, Young Joon, ohh tuhaaaann!!! Atau siapapun pria itu! Ia tampak menginstruksi diriku untuk melanjutkan ucapanku, melalui ekspresi wajahnya!


Jika saja, aku belum menandatangani kontrak itu...


Jika saja, aku mendengarkan ucapan Clara, Denis, dan juga Bagus...


Jika saja...


Aku tidak membutuhkan pekerjaan ini...


Huuuuffftttt...


Ingin rasanya aku memaki pria berwajah angkuh itu, lalu meninju wajah menyebalkannya itu dengan segenap kekuatanku, namun...


Keadaanku sungguh memaksaku untuk menekan dengan sangat kuat ambisiku saat ini, hingga aku... Lebih memilih untuk tersenyum, alih-alih meluapkan kekesalanku kepadanya...


"Tentu saja aku tidak dapat memanipulasi data yang terdapat disana, mengingat... Itu adalah perbuatan pidana." Ucapku setenang mungkin


"Hukum di negara ini begitu ketat, dan aku tidak ingin menorehkan namaku di catatan kriminal kepolisian negara ini." Imbuhku lagi


Laki-laki itu tersenyum takjub, kemudian menghampiriku, lalu menatap wajahku, masih! Masih dengan senyum takjub, seolah mengejek!


"Waaaahhh... Apa kau..."


"Aku adalah lulusan BISNIS INTERNASIONAL, bukan hukum, tuan Park!" Aku langsung menyela ucapannya, seraya tersenyum dengan senyuman penuh usaha


Yeaaahhh!!!


Aku sudah mengetahui secara pasti, kemana arah ucapannya!


Dan, yeah!


Dia adalah Park Young Joon, yang selama ini ku kenal...


Dan jika kalian berpikir, bahwa aku akan bersikap seperti layaknya Jennifer yang selama ini seolah selalu mendominasi hidupnya, kalian tentu salah besar!


Aku telah membuka lembaran baru dalam hidupku, dan sikapku saat berhadapan dengan Park Young Joon saat ini, adalah juga bagian dari lembaran baru hidupku.


Hanya sikap, tapi tidak untuk perasaanku terhadapnya...


Jantungku bahkan terasa seolah berhenti berdetak, ketika saat ini Young Joon sedikit membungkukkan tubuhnya, seraya menatap ke arah dalam mataku, yang saat ini tengah gugup setengah mati!


"Sejujurnya, tidak ada satupun pegawai yang berani menyela ucapanku!" Ucapnya dengan wajah serius


'Deeeeegggghhhh!'


Mati rasa...


Bahkan tubuhku bergetar, begitu mendengar ucapan pria itu...


Aku segera memejamkan mata, begitu pria itu berbalik, lalu berjalan ke arah kursi kebesarannya, dan kembali membuka mataku, begitu ia telah duduk disana...


"Namun, tidak mengapa, jika kau merasa bahwa kita adalah teman yang cukup dekat..." Ucapnya santai


'Deeeegggghhh!'


Aku menghela nafas kasar, seraya tersenyum miris...


Seolah ada makna tersirat, dibalik ucapannya tadi


"Ma-maafkan aku, jika aku sudah lancang, tuan Park..." Ucapku tegas, namun malah terdengar lirih


Pria itu menyunggingkan sudut bibirnya, seolah puas setelah melihat sikapku


"Santai saja! Jangan terlalu kaku! Baiklah! Kau dapat menemui Shanty, gadis yang saat ini duduk di kursimu, dan tanyakan kepadanya tentang jadwalku hari ini, dan... Segera datang lagi kesini, setelah kau mendapatkan jadwalku!" Ucapnya, kemudian kembali fokus ke arah komputer yang berada tepat di hadapannya.


"Baik, tuan! Saya permisi sekarang!" Ucapku kemudian berlalu, sesaat setelah aku mendengarnya bergumam


"Hmmm..."


Aku bahkan seolah tak bisa merasakan tubuhku sendiri, begitu melangkahkan kakiku menuju ke luar ruangan ini.


Dan ketika aku baru saja membuka pintu ruangan ini, mataku terbelalak, melihat penampakan beberapa karyawan, termasuk Bu Linda yang seolah tengah menantiku tepat di depan pintu ini.


Bu Linda langsung menarik tubuhku, kemudian segera menutup pintu ruangan Park Young Joon.


"Gimana? Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" Ucap Bu Linda khawatir, sesaat setelah melepas tangannya, dari lenganku


Tidak!


Tidak hanya Bu Linda yang tampak khawatir!


Bahkan beberapa karyawan yang berjumlah sekitar 5 orang di hadapanku ini, ahhh... Termasuk Bagus tentunya! Juga bersikap sama!


Mereka terlihat begitu mencemaskan keadaanku


"Eh, i-itu... Itu... Ng-nggak pa-pa, kok!" Jawabku dengan senyum kikuk


"Huuufffttt... Syukurlah..." Sahut mereka bersamaan


"Trus, Mr. Park ngomong apa aja, mbak?" Tanya Sisi


"Kata Mr. Park..."


Belum sempat aku menjawab pertanyaan Sisi, terdengar suara telepon berdering, dari sebuah meja yang terdapat hanya beberapa meter dari ruangan ini, dan seorang gadis langsung berhambur pergi ke arah sana, untuk menjawab telepon itu, diikuti tatapan harap-harap cemas, dari karyawan yang saat ini tengah berkumpul bersamaku


"Baik, tuan!" Ucap gadis itu, kemudian kembali berjalan ke arah kami, seraya membawa sebuah tablet


"Mbak Jen, Mr. Park minta Mbak Jen ke ruangannya sekarang juga..." Ucapnya merasa tidak enak


"Eh?" Jawabku bingun


"Dia langsung kerja, Shan?" Ucap Bagus


Gadis yang ternyata bernama Shanty itu, mengangguk seraya meringis, hingga membuat 6 orang yang berada di hadapanku ini, menatap iba kepadaku