Love, Life, and Jennifer Season II

Love, Life, and Jennifer Season II
Tingkah aneh suamiku!



"Apa kodenya sudah berubah sekarang? Hahahaaa!"


Seseorang mengangkat tubuhku yang saat ini tersungkur di lantai.


Dia memapah tubuhku, dan aku menatap wajahnya, lalu segera mendorong tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan disini! Bukankah kau harusnya tidak pulang, malam ini?" Ketusku, kemudian kembali melanjutkan langkahku yang sedikit sempoyongan.


Laki-laki itu kembali memapah tubuhku, namun aku memberontak sekuat tenaga, hingga membuatnya membopong tubuhku menuju ke kamarku, dalam keadaan yang terus meronta.


Laki-laki itu sedikit kewalahan sebenarnya, hingga ketika kami sudah berada di kamarku, dia agak membanting tubuhku di atas ranjang.


Dia membukakan sepatuku, kemudian berlalu, hendak meninggalkanku.


Aku menatap ke arahnya,


"Aku minum dengan Aoyama tadi..." Ucapku mengejek


Dia kembali berbalik ke arahku.


"Dia yang mengantarku pulang barusan..." Ucapku, seraya menatap ke arah langit-langit kamar.


"Dia sungguh manis sekali... BAHKAN DIA MEMELUKKU DI SAAT HATIKU SEDANG BENAR-BENAR KACAU!!!" Aku menceracau


Aku benar-benar tampak seperti orang yang sudah kehilangan akal sekarang.


Young Joon segera berlalu meninggalkanku, dan dia kembali pergi entah kemana.


Aku dapat mendengar suara mesin mobilnya menjauh meninggalkan rumah kami.


"Hahahahahhaaaa... Dasar bangsaaatt!!! Laki-laki bajingan sialan!!! Lu pikir lu siapa! Terus aja lu pergi setiap kali gw hancur begini! Anjeeeeeeng!"


Keesokan paginya, kepalaku benar-benar pening ketika bangun tidur.


Seorang asisten membawakanku teh madu.


"Nyonya, tadi pagi tuan berpesan kepadaku untuk memberikanmu ini, ketika kau bangun." Ucap wanita paruh baya itu


Aku menatap cangkir beralaskan nampan yang dibawakan oleh Marie, asisten yang beberapa tahun ini, setia melayani kami


"Ah, taruh saja disana." kataku menunjuk ke arah nakas dengan ujung mataku.


"Baik, nyonya... Aku permisi dulu." Marie segera berlalu sesaat setelah menaruh cangkir itu.


"Marie, tunggu." Kataku, menghentikan langkah Marie


"Ya, nyonya." Marie kembali menghampiriku


"Apakah baby Joey sudah bangun?" Tanyaku


"Belum, nyonya." Jawab Marie


"Ahhh, baiklah... Segera bawa dia kesini, jika dia sudah bangun, ya." Kataku tersenyum.


"Baik nyonya." Jawabnya, kemudian Marie meninggalkan kamarku.


Aku masih memikirkan kejadian semalam, kata-kata Aoyama begitu membekas dalam pikiranku.


Aku tersenyum ketika mengingat sikapnya semalam kepadaku.


Dan Young Joon...


Aku tersenyum getir, mengingat sikapnya belakangan ini.


Entah apa yang ada di dalam pikiran Young Joon. Aku sempat berpikir, apa mungkin Joon sudah mulai lelah dengan semua ini?


Apakah dia sedang mempersiapkan sesuatu?


Ya, mungkin dia sedang mempersiapkan perceraian kami!


Mungkin saja, kan?!


Aku kembali tersenyum getir.


Entahlah, aku sudah lelah untuk selalu menangis.


Ponselku berdering, aku melihat layar ponselku sekilas, Aoyama!


Ketika aku hendak meraih ponsel yang memang selalu ku letakkan di atas nakas yang berada di samping ranjangku, tiba-tiba Young Joon masuk, dan meraih ponselku, menatap layarnya, kemudian menjawab panggilan itu.


Itu cukup membuatku membeku untuk beberapa saat!


"Apakah kau ingin mengucapkan selamat pagi, kepada wanita yang saat ini masih berstatus sebagai istri dari pria lain?" Young Joon menatap tajam ke arahku.


Aku segera bangkit, dan berusaha merebut ponselku darinya, namun Young Joon berhasil mengelak, kemudian melihat ke arah layar ponsel, lalu memasukkan ponselku ke dalam saku celananya.


Aku benar-benar muak melihat ekspresi wajah Young Joon yang tersenyum mengejekku.


Aku menghela nafas kasar, kemudian tersenyum kesal kepadanya


"Kembalikan ponselku!" Aku melotot kepadanya


Young Joon sedikit membungkuk, dan mendekatkan wajahnya ke arahku, hingga membuatku sedikit menggeserkan wajahku


"Apa kau ingin kembali melakukan reuni secara diam-diam di belakangku?"


Wajah Young Joon benar-benar sangat memuakkan, hingga membuatku...


'Paaaaakkkk!!!'


Aku menamparnya sekuat tenaga!


Hingga meninggalkan luka di sudut bibir Young Joon.


Young Joon tersenyum, kemudian menatap wajahku yang saat ini benar-benar menatapnya dengan penuh amarah.


Dia tersenyum bahagia melihat keadaanku saat ini.


"Dengar, tuan Park Young Joon! Aku tidak pernah memintamu untuk menikahiku saat itu!" Aku memekik kepadanya


"Memang." Jawabnya santai, seraya menyapu darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan ibu jarinya, kemudian sedikit menyeringai.


Sikapnya sungguh membuatku kehabisan kata-kata, dan tersenyum getir


"Aku ingin kita segera mengakhiri semua ini!" Kataku, kemudian air mataku menetes


"Hahahahahahaaaaaa!!!"