Love, Life, and Jennifer Season II

Love, Life, and Jennifer Season II
Senjata makan tuan!



"W-eommaga museun tteusiya? (A-apa maksud ibu?)" Young Joon kembali berkata kepada eomma


Eomma kembali tertunduk, sambil terisak, dan Young Joon kembali meraih dagu ibunya, sambil menatap wajah sendu ibunya tersebut...


"Ji Hyo, geumanhae... Deo isang gyesoghajima... Butaghae...(Cukup Ji Hyo... Jangan lanjutkan lagi... Ku mohon...)" Ucap appa lirih, dengan air mata yang semakin deras mengalir


Young Joon kini beralih menatap wajah appa...


"Ige mwoya? ige mwonji malhaebwa? (Apa ini? Katakan, ada apa ini?)" Ujar Young Joon lagi, kemudian berjalan ke arah appa, lalu memegang kedua bahu appa, yang kini tertunduk


"Abeoji! malhaebwa, museun ili isseosseo?! (Ayah!Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?!)"


Young Joon menatap lekat wajah appa, seraya mengguncang-guncangkan bahu appa yang kini mulai terisak


"Abeoji, malsseumhae jusibsio!(Ayah, bicaralah! Ku mohon!)" Young Joon semakin terlihat seperti orang yang tengah frustrasi


"Abeoji..."


"I yeojaneun dangsinui yeodongsaeng ibnida...(Wanita ini, adalah adikmu...)" Ucap eomma, dengan suara bergetar


Young Joon tercengang, begitupun dengan Kimberly!


Entah apa yang eomma ucapkan, hanya saja, mendengar ucapan tadi, Kimberly tiba-tiba bereaksi


"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi!" Kimberly menggeleng-gelengkan kepalanya


Eomma kini menatap datar wajah Kimberly, dengan bibir yang masih bergetar...


"Ayahmu, meninggalkanku, ketika Young Joon masih berada di dalam kandunganku..."


'DEEEEEEEGGGGGHHHHH!!!'


Lututku melemas seketika...


Aku hampir saja terjatuh, jika saja papa tidak meraih tubuhku, namun Kimberly...


Ucapan eomma membuatnya terjatuh...


"Tan Liu Wei, ayahmu... Adalah juga ayah kandung putraku... " Ucap eomma dengan tatapan kosong


Kimberly menangis...


Tak hanya menangis, bahkan ia meratap...


Bukankah harusnya ia berpesta pora, atas kehancuran yang sebelumnya telah ia rencanakan?


Bukankah seharusnya kini ia tengah tersenyum puas, atas hasil karya yang ku pikir, telah ia rencanakan cukup matang?


Lalu, mengapa kini ia menangis histeris?


Ah, lebih tepatnya, meratap!


Kimberly meratap, tanpa ada satu orangpun yang berusaha untuk menenangkannya!


Yeah! Tentu saja!


Tragedi yang seharusnya menjadi senjata untuk memuaskan ambisinya, kini malah berbalik memakannya!


Tidakkah ini nampak seperti, senjata makan tuan?


Semua mata terbelalak!


Yeah! Tentu saja!


Tidak terkecuali dengan diriku, bahkan kedua orang tuaku...


Fakta ini, sungguh sangat mengguncang jiwaku, dan ku rasa, mama dan papa pun merasakan hal yang sama...


Mati rasa, entahlah...


Namun aku dapat dengan jelas merasakan kehancuran yang begitu tampak pada raut wajah suamiku, Park Young Joon...


Ingin rasanya berlari ke arahnya, kemudian memeluk erat tubuh tegapnya, dan membiarkan diriku, menjadi tumpuan untuknya menumpahkan semua rasa sakit dari jiwanya, namun entah mengapa, terasa berat sekali untuk melangkahkan kakiku...


Rasa malu!


Yeah! Itu sudah pasti!


Sebelum kenyataan tentang Park Young Joon terkuak, justeru fakta tentang betapa memalukannya aib-ku lah, yang seharusnya menjadi pusat dari tragedi ini!


"Mommy... Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?"


Joey... Bahkan kejadian ini, membuatku hampir saja melupakan eksistensinya...


Aku bahkan hampir saja melupakan fakta bahwa... Putraku adalah pusat dari awal tragedi hari ini!


Aku segera berjongkok, dan menakup wajah putraku, sambil menatap dalam ke arah matanya...


Sekuat hati, aku menahan air mataku, agar tidak terjatuh...


"Dengar, kami sedang berlatih untuk pertunjukkan setelah pernikahan papa, jadi... Mommy pikir, kita pulang lebih dulu saja, ya... Karena sekarang, belum ada bagianmu..."


Maafkan ibumu, Joey...


Maafkan ibumu... Sungguh maafkan ibumu ini...


"Baiklah! Ayo kita pulang sekarang!" Ujar Joey dengan penuh semangat


Sekuat hati, aku berusaha untuk mengeluarkan suaraku, hanya untuk berkata...


"Ma-maafkan aku, hanya saja... Ku rasa... A-aku harus membawa Joey..." Ucapku, dengan sura bergetar


Ketika baru saja aku baru membawa Joey melangkah...


"Tunggu dulu!"