Love, Life, and Jennifer Season II

Love, Life, and Jennifer Season II
Firasat



Dadaku terasa sangat sesak, begitu mendengar ucapan polos putraku tadi!


Aku bahkan merasa kehilangan sedikit keseimbangan tubuhku, hingga perawat yang sebelumnya berkata ingin kembali melanjutkan pekerjaannya di ruangan lain, langsung meraih tubuhku...


"Ibu baik-baik aja?" Ucapnya dengan wajah khawatir


Aku yang segera menegakkan tubuhku, sesaat setelah perawat tadi meraih tubuhku, berusaha menghirup udara secara perlahan, dan tersenyum setelahnya, entah senyum yang seperti apa!


"Saya ok ko' sus! Makasih banyak, ya! Uuumm... Tadi sus bilang, sus mau ke ruangan lain?"


Perawat tadi terlihat dilema kini, antara ingin memastikan keadaanku, atau pergi sesuai ucapannya beberapa waktu yang lalu


"Uummm... Tapi ibu yakin, ibu..."


"Saya baik-baik aja kok, sus!" Aku langsung menyela ucapannya, dan berusaha untuk meyakinkannya


"Baiklah, kalau gitu, saya permisi sekarang, ya?" Ucap perawat itu, kemudian berlalu, sesaat setelah aku mengangguk sambil tersenyum


Sepeninggal perawat tadi, aku kembali menatap putraku, yang lagi-lagi tertidur pulas...


Ku tatap wajah pucatnya, yang semakin hari semakin terlihat tirus, serta, ku usap rambut berwarna kecoklatannya...


Ku kecup lembut keningnya, hingga tiba-tiba, ia membuka matanya perlahan...


"Mommy... Peluk aku... Tidurlah di sampingku..." Ucapnya dengan suara lemah


Periiiihhh.... Sungguh perih!


Putra semata wayangku, yang ku lahirkan dengan mempertaruhkan nyawaku, kini bersikap tidak seperti biasanya!


Firasat buruk seolah menari-nari di dalam pikiranku, walau aku berusaha untuk menepisnya!


Tidak!


Putraku adalah laki-laki yang tangguh, walaupun ia adalah seorang bocah kecil!


Putraku akan segera pulih!


Segera, secepatnya!


Dan kami akan kembali mengukir kebahagiaan dalam kehidupan kami, setelah badai ini berlalu...


Tubuhku bergetar hebat, menahan tangis, seraya terus memeluk erat, tubuh mungil pangeranku...


Mungkin getarannya begitu hebat, hingga putraku yang sebelumnya tidur membelakangiku, kini berbalik ke arahku, lalu menatap wajahku, dengan tatapan sayunya...


Persis! Sangat persis!


Caranya menatap wajahku, sangat persis dengan cara Young Joon menatapku...


"Mommy, mengapa menangis?" Ucapnya seraya mengusap air mata, yang tak lagi mampu untuk ku tahan...


Joey tersenyum...


Maniiiiissss sekali...


Entahlah!


Apakah ini hanya perasaanku saja, atau memang, senyum itu, adalah senyum yang tak pernah Joey tunjukkan padaku sebelumnya?


"Apakah mommy menangis karena keadaanku?" Ucapnya, masih terus mengusap air mataku


Aku menggeleng samar, berusaha keras untuk menghentikan deraian air mata ini...


Joey tersenyum, lagi...


"Mommy, tenanglah... Sebentar lagi, aku tidak akan merasakan sakit lagi..."


Bagai tersambar petir rasanya, mendengar putraku berkata seperti itu!!!


Aku langsung memeluknya...


Eraaatttt sekali, seakan enggan untuk melepasnya, walau hanya sekejap!


Aku terus memeluk, seraya menghujaninya dengan kecupan, tak peduli dengan air mata yang tetap saja mengalir, seolah enggan untuk berhenti


Aku hanya ingin memeluk putraku...


Yeah! Hanya itu...


Suara paraunya menghentikan kecupanku, hingga akhirnya, aku menguraikan pelukanku kepadanya.


"Ya, sayang?" Ucapku seraya menatap wajah tampan putraku


"Aku mencintaimu... Tanpa batas waktu... Karena waktuku telah berhenti, sesaat setelah aku menyadari, bahwa aku mencintaimu... Lebih dari apapun..." Ucapan Joey, seolah terdengar bersamaan dengan suara Young Joon, ketika Young Joon mengucapkan hal itu padaku, dulu...


Ucapan, serta cara bicaranya pun sama seperti Young Joon pada saat itu!


Bagaimana mungkin Joey dapat berkata seperti itu, sedangkan pada saat Young Joon mengucapkan kalimat tadi, itu adalah jauuuhhh sebelum Joey lahir!


Tercengang, tentu saja!


Bagaimana bisa, bocah yang bahkan belum genap berusia lima tahun ini, dapat berbicara dengan kalimat seperti itu?!


Apa yang sebenarnya sedang terjadi???


Oohhh Tuhaaaan...


Perasaanku semakin tak menentu...


Joey lalu memelukku, eraaaattt sekali...


Seakan enggan untuk membiarkanku pergi dari sisinya...


Entah sejak kapan, namun tiba-tiba suara Young Joon menyadarkanku dari tidurku...


"Hey, kau sudah kembali?" Ucapku srasa mengusap mataku


Young Joon mendekat ke arahku, menatap lekat manik mataku...


Wajahnya terlihat khawatir...


"Kau menangis?" Ucapnya


Aku menggeleng samar, seraya tersenyum...


"Hey, pukul berapa sekarang? Mengapa kau kembali secepat ini?" Aku berusaha mengalihkan perhatian Young Joon


"Sayang... Jawab dulu pertanyaanku..." Ucapnya lembut, masih ingin mengetahui kebenarannya


Aku kembali tersenyum, alih-alih langsung menjawab pertanyaannya...


"Aku hanya merasa sedikit lelah... Omong-omong, apa aku tertidur, ya?" Ucapku, kemudian bangkit dari bangkar


"Ummm... Sepertinya, ya... Ketika aku datang, kau sudah terlelap, seraya memeluk putraku."


"Kapan kau datang... Uuummm... Maksudku, sudah berapa lama..."


"Sekitar satu jam yang lalu..." Young Joon langsung menyela ucapanku


"Pukul berapa, seka... Ya tuhan! Jadi aku terlelap selama 2 jam!" Ucapku sesaat setelah melihat ke arah jam dinding yang berada di tembok yang berada tepat di atas pintu masuk ruangan ini!


Sudah pukul empat sore, itu tandanya, sebentar lagi dokter akan memeriksa keadaan Joey


"Heeeyyy... Tenanglah..." Ucap Young Joon, seraya menakup wajahku, dengan kedua tangannya


"Bagaimana keadaan putra kita?" Ucap Young Joon, dengan senyumnya yang menawan


Ucapan Young Joon, kembali mengingatkanku akan ucapan Joey, beberapa jam yang lalu...


"I-itu..."


'Tookk... Toookk... Tookkk!'


"Masuklah!" Ucap Young Joon


Tidak lama kemudian, Dokter Benny, beserta dua orang perawat segera masuk ke dalam ruangan ini


"Selamat sore, Ibu, Tuan..." Ucap dokter Benny, tersenyum hangat


"Sore, dok!" Jawabku dan Young Joon, sesaat sebelum dokter Benny menghampiri Joey


Begitu salah satu perawat menyentuh pergelangan tangan Joey...


"Dok, denyut nadinya lemah!"