
"Saya ... menerimanya." Pada akhirnya Liona pun menyetujui pernikahan ini. Saat itu juga Ran tersenyum bahagia di samping Liona. Ternyata Liona mau menerima perasaannya yang sempat tertunda.
Liona, apakah ini mimpi?
Dan akhirnya kesedihan itu mulai berganti kebahagiaan. Sepasang insan telah menyetujui untuk diadakan pesta pernikahan. Raja dan ratu pun tampak senang. Tinggal satu masalah lagi yang harus diselesaikan. Yaitu pembuktian Liona anak kandung raja atau bukan.
Dua minggu kemudian...
Pesta pernikahan akhirnya segera diselenggarakan. Setelah dua minggu disibukkan dengan segala persiapan, akhirnya Liona dan Ran dapat menjadi sepasang pengantin. Tampak Ran dan Liona yang sedang diberi nasihat oleh sesepuh istana sebelum memulai pengucapan ikrar pernikahan. Keduanya pun mengenakan pakaian pengantin yang berwarna merah cerah. Dan ya, raja dan ratu tampak senang melihatnya.
Setelah nasihat pernikahan diberikan, Liona dan Ran diminta untuk mengucapkan ikrar pernikahan. Dan setelah ikrar itu diresmikan, Liona dan Ran diminta untuk saling menyuapi satu sama lain. Dengan malu-malu mereka pun melakukannya. Sampai-sampai Ratu Nia jadi kesal sendiri melihatnya. Ia teringat dengan pesta pernikahannya bersama baginda raja.
"Dulu apa aku seperti itu?" tanya ratu kepada rajanya.
"Sepertinya tidak. Kau galak waktu itu." Raja pun mencandai ratunya.
"Dasar!"
Ratu pun tersenyum lalu merebahkan kepalanya di bahu sang raja. Ia tampak bahagia melihat pernikahan Liona. Liona pun akhirnya resmi menjadi istri dari Ran, seorang panglima istana. Berharap kehidupan rumah tangga mereka akan baik-baik saja ke depannya. Tanpa masalah, tanpa problematika tak berarah.
Malam pengantin...
Liona dan Ran memasuki kamar pengantin yang telah dihias dengan bunga mawar merah. Tampak Liona yang takjub melihat kamar pengantinnya. Sedang Ran sendiri tak menyangka jika semuanya telah dipersiapkan oleh Ratu Nia. Ran pun merasa disayang oleh ibu ratunya. Ia seperti mempunyai seorang ibu kembali. Dan kini Liona juga sudah menjadi istrinya. Membuat hidup Ran jadi lebih bahagia dan sentosa.
"Ya?"
Ran tampak malu-malu untuk bicara. "Kau ingin langsung memulainya?" tanya Ran kepada Liona.
Liona pun langsung memukul Ran yang berdiri di sisinya. Tapi saat itu juga Ran segera memegang tangan Liona.
"Sayang." Ran menyebut Liona dengan kata sayang.
Liona pun terdiam di tempatnya. Ia seperti tidak bisa melakukan apa-apa. "Aku masih takut." Liona pun jujur ke Ran. Ia tertunduk malu di hadapan suaminya.
Ran tersenyum. Ia kemudian memegang pipi istrinya. "Pelan-pelan saja. Jika tak berhasil, besok malam kita coba kembali." Ran berkata kepada istrinya.
Sontak Liona tersipu malu. Ia pun tertunduk malu di hadapan Ran. Tapi Ran segera menarik dagu Liona dengan jari telunjuknya. "Jangan menghindar lagi. Kita sudah sah menjadi suami istri. Mari bersama obati duka di hati." Ran pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Liona.
Pangeran ....
Tak ada yang menyangka jika akhirnya begini. Tak ada yang menyangka jika Liona dan Ran akan menikah. Pangeran sekaligus panglima istana itu merebahkan tubuh Liona di atas kasur pengantinnya. Liona pun tampak pasrah dengan setiap pergerakan suaminya. Ia tahu jika sudah sepenuhnya menjadi milik Ran.
Pada akhirnya lampu kamar itu dimatikan. Sebuah kecupan lembut pun Liona terima dari Ran. Tampak Liona yang memejamkan matanya. Ran juga melepas pakaiannya. Dan malam ini hanya milik mereka berdua. Dalam cinta kasih dan ikatan yang suci.