
"Maksudmu?" tanya Ratu segera.
"Waktu itu..."
Liona pun segera menceritakan apa yang pernah dilihatnya di pergantian hari waktu itu. Di mana ia melihat Blonde bercakap-cakap dengan seorang nenek tua di ruang pengobatan istana. Ratu Nia pun mendengarkannya.
Waktu itu...
Liona sedang mencari-cari di mana letak ruang pengobatan istana. Sampai akhirnya pergantian hari membawanya menuju sebuah tempat yang berada di ujung sana. Setelah bertanya dengan beberapa prajurit yang berjaga, Liona akhirnya sampai di tempat tujuan, ruang pengobatan istana.
"Kenapa ruangan ini terletak di paling ujung, ya?"
Liona terheran. Ia merasa ada ketidakberesan yang terjadi. Ia pun lekas-lekas masuk ke halaman ruang pengobatan itu. Seorang diri tanpa ada yang menemani. Namun, beberapa menit kemudian langkah kakinya terhenti. Ia mendengar percakapan yang berbisik-bisik dari balik dinding pengobatan. Liona pun lekas-lekas mendekati untuk mengetahui apa yang terjadi.
Siapa itu?
Liona bersembunyi di balik dinding dan ia melihat seorang wanita berambut pirang, bermahkota tengah berbicara dengan nenek tua yang ada di dalam ruang pengobatan. Karena suaranya hampir tak terdengar, Liona pun berjalan mengendap-endap untuk mencari tahu apa yang mereka bicarakan. Pada akhirnya ia harus bersembunyi di bawah jendela untuk mendengar percakapan mereka.
"Persediaannya sudah habis, Yang Mulia. Kita tidak mempunyai ular hitam lagi," tutur suara nenek tua itu kepada wanita bermahkota.
Saat itu juga Liona menyadari jika wanita itu adalah ratu negeri ini. Liona pun terus menguping pembicaraan mereka.
"Apa tidak ada cara lain untuk mendapatkannya lagi?" tanya wanita tersebut.
"Tidak ada, Yang Mulia. Sepertinya kawanan ular hitam itu sudah mengungsi ke tempat lain sejak ratusan temannya kita bunuh dan ambil bisanya." Terdengar suara nenek tua itu menjawab.
"Di mana kita harus mencarinya? Kita sudah hampir sampai di garis finis tetapi malah tidak bisa lagi mendapatkannya. Ini mengesalkan sekali," tutur wanita bermahkota tersebut.
.........
"Jadi begitu?" tanya Ratu Nia memastikan.
Liona mengangguk. "Saya mengatakan yang sejujurnya, Yang Mulia. Tidak ditambahkan atau dikurangi sedikitpun. Begitulah yang saya lihat waktu itu." Liona mengatakan.
Ratu Nia mengepalkan tangannya. Ia merasa kesal mendengar cerita Liona.
Ini keterlaluan! Jadi benar jika dialah yang telah mencoba meracuniku. Aku harus lekas bertindak sebelum semakin terlambat. Blonde, tamatlah riwayatmu. Hari kematianmu akan segera tiba!
Ratu Nia kesal bertubi-tubi. Ia merasa telah dibunuh secara perlahan oleh Blonde. Walaupun belum tahu kebenarannya, tapi apa yang Liona ceritakan memiliki keterkaitan. Ia pun ingin membalas dendam. Sedang Liona sendiri tampak terdiam melihat raut wajah ratu yang berubah merah padam. Baru kali ini ia melihat amarah yang tersirat dari wajah ratu. Ratu Nia berada di puncak amarahnya.
"Katakan lagi apa yang kau tahu."
Pada akhirnya Ratu Nia meminta Liona untuk menceritakan semuanya. Ratu ingin menjadikan cerita Liona sebagai bukti untuk membalas dendam. Ia tidak terima perlakuan Ratu Blonde kepadanya.
Beberapa jam kemudian...
Seusai percakapan, Liona segera beristirahat di kamarnya. Dan kini ia terbangun karena kebelet pipis. Liona pun segera keluar dari kamar lalu menuju kamar mandi. Namun sebelum sampai, ia seperti melihat seseorang tengah berada di teras kediaman ratu pertama. Liona pun memerhatikannya.
Siapa ya?
Tapi karena kebelet pipis, Liona pun tidak jadi menggubrisnya. Ia terlebih dahulu menyelesaikan hajatnya.