
Malam harinya...
Malam baru saja datang. Bintang-bintang pun terlihat berkilauan di angkasa raya. Tampak Han yang sedang membantu Liona membuatkan ramuan. Mereka di ruang pengobatan istana bersama. Tak lama datang seorang pelayan memberi tahu mereka.
"Nona, saya diminta Yang Mulia untuk menanyakan apakah Nona bisa membuatkan minuman segar untuk baginda malam ini?" tanya pelayan tersebut.
"Minuman segar? Seperti apa jenisnya?" tanya Liona segera
"Mungkin jika malam yang bisa menghangatkan tapi juga terasa segar di tenggorokan," tutur pelayan itu lagi.
Liona menoleh ke Han. "Kau tahu minuman apa yang dimaksud, Han?" tanya Liona ke Han.
Han tampak berpikir. "Mungkin sejenis air jahe yang dicampur daun mint. Apakah itu terlihat aneh?" Han balik bertanya kepada Liona.
Liona meletakkan jari telunjuk di dagunya. "Em, aku coba. Nanti jika sudah siap, aku akan mengantarkannya." Liona pun memenuhinya.
"Kalau begitu saya permisi." Pelayan itu pun segera berpamitan pada keduanya.
Malam ini ternyata baginda raja meminta Liona untuk membuatkan ramuan yang menyegarkan. Yang mana Liona jadi bertanya-tanya sendiri dengan minuman apa yang dimaksud. Han pun membantu Liona berpikir tentang apa yang dimaksudkan raja. Liona juga segera membuatkannya. Ia akan membuatkan wedang jahe untuk Raja Rusmania.
"Di sini kau sangat lelah, Liona. Berbeda dengan di istana, kau bisa melakukan apa saja." Han tampak prihatin dengan keadaan Liona.
"Aku baik-baik saja, Pangeran. Kau tenang saja." Liona pun lekas menyiapkan wajan untuk membuat air jahenya.
Han duduk di kursi dekat tungku perapian ruang pengobatan istana. Ia kemudian memerhatikan Liona yang begitu giat bekerja. Sedang dirinya saja sudah mulai merasa kelelahan.
Ayah, ibu, lihatlah Liona sekarang yang sudah menjadi seorang wanita pekerja keras. Sejak pagi dia bekerja sampai malam tiba. Aku tak mengerti mengapa jam kerja manusia sebegitu panjangnya. Apakah mereka tidak merasakan lelah?
"Liona!"
"Pangeran Ran?" Liona pun segera berdiri untuk menyambut Ran.
Ran melihat ada Han di sana. Ia pun melirik tajam ke arah Han lalu kembali ke Liona. Ia kemudian memegang pundak Liona. Sontak hati Han sakit melihatnya.
"Hari ini kau sangat sibuk sekali. Sampai-sampai aku tidak bisa mengobrol denganmu. Besok bisakah libur untuk berjalan-jalan denganku?" Ran meminta Liona libur.
Liona menyadari jika Ran mulai merasa memilikinya. Ia kemudian melepaskan tangan Ran dari bahunya.
"Em, maaf, Pangeran. Aku masih banyak urusan beberapa hari ini. Bagaimana jika dengan kakakku saja?" Liona malah menawarkan Han kepada Ran.
Sontak Ran terbatuk-batuk. "Apa tidak salah?" Ran tak menyangka.
Liona menoleh ke Han. "Kakak, bisakah kau temani pangeran sebentar? Aku masih sibuk."
Pada akhirnya Liona meminta Han untuk menemani Ran berbincang. Ran pun terkejut dengan tindakan Liona malam ini. Ia pun segera menolaknya.
"Em, tidak perlu. Jika sedang sibuk nanti saja. Selamat bekerja, Liona." Ran pun akhirnya berpamitan.
Liona tersenyum. Ia kemudian meneruskan pekerjaannya untuk membuatkan ramuan sang raja. Sedang Han sendiri segera mendekati Liona.
"Dia tampaknya menyukaimu." Han berbicara kepada Liona.
"Biarkan saja. Dia juga punya kebebasan untuk menyukai seseorang," sahut Liona.
"Tapi bagaimana jika aku juga menyukaimu?" Tiba-tiba Han berkata seperti itu.
Saat itu juga Liona menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh ke arah Han. "Pangeran?" Keduanya saling bertatapan tepat di mata.