
...Liona...
...Ran...
.........
Ran menoleh, melihat Liona. "Nona, cepat naik ke kudaku," pinta Ran kepada Liona.
"Apa?!" Liona pun merasa kesal. "Kau memintaku untuk naik ke kudamu? Yang benar saja!" Liona tak terima.
"Hei, Nona. Kau tidak tahu tempat yang kau kunjungi ini? Ini adalah tempat berbahaya. Kau tidak boleh masuk ke dalam," terang Ran kepada Liona.
"Aku ingin bertemu ayah dan ibuku di sana. Jangan ikut campur urusanku!"
Liona pun merasa diperlambat oleh Ran. Ia melepaskan tangannya dari Ran lalu berbalik untuk menuju ke dalam hutan lagi.
"Tidak!" Tapi, saat itu juga Ran menarik Liona ke dekapannya. Ran tidak ingin Liona pergi ke sana. "Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke dalam hutan itu. Aku akan menjagamu. Sekarang kita pulang ke istana," tutur Ran sambil memeluk Liona.
Liona ....
Tanpa sepengetahuan mereka, Han pun melihat kejadian itu dari balik dinding tembus pandang yang ada di perbatasan hutan. Saat itu juga hati Han seperti tersayat-sayat oleh pedang yang sangat tajam. Ia melihat Liona di pelukan seseorang.
Ran tidak bisa melihat apa yang di dalam hutan selain pepohonan yang lebat dan hijau. Sedang Han mampu melihat apa yang terjadi di luar perbatasan hutan. Dinding tembus pandang itu memperlihatkannya. Yang mana saat ini ia melihat Liona tengah dipeluk seseorang. Hati Han pun kacau balau. Bulir-bulir air mata itu mulai keluar dari persembunyiannya. Usahanya untuk bertemu Liona kembali gagal.
Pupus sudah harapan Han. Ia kemudian berbalik karena tidak ingin melihat adegan itu di depan matanya. Dengan lemas ia pun kembali ke istana. Melompat dari dahan ke dahan pohon dengan hati yang hancur dan perasaan yang terluka. Han kecewa. Ia hancur sehancur-hancurnya. Ternyata Liona sudah ada yang mendampinginya.
Selamat berbahagia, Liona.
Lantas Han pun kembali ke istananya. Dalam derai air mata yang menetes ke setiap dahan. Han kehilangan harapannya.
Sementara itu...
Liona menyadari apa yang Ran lakukan padanya. Ia pun sekuat tenaga melepaskan diri dari pelukan Ran. "Apa yang kau lakukan, Bodoh!" Liona pun mendorong Han.
Ran terdorong ke belakang. Ia menggelengkan kepalanya. Ia merasa kesal dengan Liona yang tidak menurut padanya. Pada akhirnya Ran pun menggendong Liona.
"Dasar gadis bandel." Ran mengangkat Liona lalu mendudukannya di atas kuda. "Kita pulang sekarang!" Ran pun mulai marah kepada Liona.
"Ap-apa?!"
Liona ingin kembali berontak. Tapi Ran segera mengunci tubuhnya. Liona tak lagi bisa bergerak saat Ran duduk di belakangnya. Ran pun mulai melajukan kudanya. Mereka kembali ke istana.
Belasan menit kemudian...
Angin siang menjadi saksi Han yang duduk termenung sendiri di depan kolam bunga teratai. Kenangan akan bersama Liona itu teringat kembali di benaknya. Tapi saat itu juga apa yang dilihatnya di perbatasan hutan mematahkan hatinya. Han melihat Liona dipeluk seorang pria.
Han bersedih. Hatinya sungguh sakit sekali. Kenyataan yang harus diterimanya begitu berat untuk dipikul sendiri. Ia pun memandangi hati yang dibentuk Liona dari bunga teratai. Tanpa sadar air matanya jatuh menetes ke tanah.
Han sedih, hatinya terluka. Ia tak menyangka jika Liona sudah mempunyai pasangan selain dirinya. Padahal ia sangat berharap bisa bersama Liona selamanya. Keinginan untuk bertapa di bukit bunga kristal pun pupus seketika. Han kehilangan semangatnya.