LIONA

LIONA
Jujur



Raja Rus menarik napas panjang. "Aku tidak mengerti mengapa dia bisa seperti ini. Tapi jika itu jalan pengobatan terbaik, aku serahkan padamu. Aku hanya ingin dia sembuh," tutur raja kepada sesepuh tabib istana.


Sesepuh tabib istana pun mengangguk. Sedang Ratu Nia yang menemaninya tampak prihatin mengenai keadaan Blonde saat ini. Walau nyatanya ia hanya pura-pura saja.


Riwayatmu berakhir, Blonde. Sebentar lagi semuanya akan terungkap secara terang-terangan.


Ratu Nia beniat menjalankan rencana selanjutnya agar Blonde mau mengakui perbuatannya selama ini. Yang mana kini ia tengah menunggu Liona datang untuk membawakan ramuan obat penawarnya. Liona akan menjalankan rencana terakhir dengan tanpa meninggalkan jejak. Sedang Ran, putra angkat dari Blonde sendiri sedang ke dapur istana untuk memanggil semua koki yang menyajikan hidangan semalam. Ia akan menyidak semua koki yang ada di sana.


Menjelang siang...


Semilir angin menjelang siang ini menjadi saksi jendela ruang pengobatan yang terbuka lebar. Tampak raja, ratu pertama, sesepuh tabib istana beserta Liona dan Han berada di sana. Ran juga dengan setia menemani ibunya yang masih dalam keadaan setengah sadar. Hingga akhirnya ratu pertama memberikan ramuan kepadanya. Blonde pun meminum ramuan tersebut.


"Ini adalah ramuan penawar segala penyakit yang Liona buatkan untukmu, Blonde. Sekarang katakan apa yang kau sembunyikan selama ini agar hatimu tenang. Karena obat ini bisa lekas bekerja jika kau jujur pada dirimu sendiri."


Dan begitulah yang Ratu Nia katakan saat meminumkan ramuan penawar ke Blonde. Tampak Blonde yang lemah dan sudah tidak bertenaga akibat kuras lambung yang dilakukannya. Ia pun merasa lemas sekali. Seperti tidak berdaya sama sekali. Otaknya pun masih belum bisa berpikir dengan sempurna. Ia samar-samar melihat orang-orang di sekelilingnya. Dan entah mengapa dorongan dari dalam hatinya begitu kuat untuk jujur.


"Aku terlalu banyak berbuat kejahatan selama ini." Blonde akhirnya jujur.


"Apa?!"


"Aku berbuat curang untuk menjadi orang yang paling berpengaruh di istana ini. Aku menggunakan sihir untuk mengikat hati raja. Aku juga mencoba meracuni Nia dengan bisa ular hitam yang kudapatkan. Kejahatanku terlalu banyak," tutur Blonde lagi dalam keadaan setengah sadar.


"Ibu! Apa yang Ibu katakan?!" Ran pun segera mendekati ibunya. Ia tak percaya dengan apa yang dikatakan ibunya.


"Ran! Biarkan ibumu jujur!" Baginda raja pun melarang Ran untuk menahan ibunya bicara.


Kepala Blonde terasa sangat pusing sekali. Ia pun memegangi kepalanya karena penglihatannya mulai kabur. Sesepuh tabib istana pun tampak mencemaskan hal ini. Ia kemudian beralih ke Liona untuk mempertanyakan komposisi dari ramuan penawar tersebut.


"Nona Liona, apakah Anda sedang meracuni ratu?" Sesepuh tabib tampak kesal.


Ratu Nia menoleh. "Tuan Tabib, Liona bukanlah orang seperti yang Anda pikirkan. Tolong jaga bicara Anda." Ratu Nia membela Liona.


Pada akhirnya sesepuh tabib istana diam dan tidak bicara kembali. Sedang Blonde mulai meracau tak karuan sambil memegangi kepalanya. Ia seperti tidak sanggup untuk bertahan lagi. Pada akhirnya Blonde pun jatuh pingsan. Ia tidak sadarkan diri. Saat itulah Ran berteriak keras melihat ibunya.


"Ibu!!!"


Linangan air mata pun keluar dari persembunyiannya. Ran menangis. Untuk yang pertama kalinya Ran menangis. Ia tidak tega melihat keadaan ibunya. Walau nyatanya hanya sekedar ibu angkat, tapi Ran begitu menyayanyi ibunya.