LIONA

LIONA
Perjamuan



Perjamuan makan malam...


Meja makan yang besar telah terisi segala macam hidangan. Lilin-lilin berwarna putih juga dihidupkan di sana. Gelas kristal dan sendok garpu berlapis tembaga menjadi saksi makan malam yang akan segera dimulai. Liona pun tampak mendampingi ratu di sana. Ratu kemudian meminta Liona untuk menuangkan arak kepada semua tamu yang hadir.


"Liona, tolong tuangkan arak untuk kami."


Begitulah yang dikatakan ratu kepada Liona. Liona pun segera menuangkan arak buatannya. Satu per satu gelas hadirin dituangkan arak olehnya. Namun, saat sampai di gelas Blonde, Liona menambahkan ramuan berupa bubuk ke gelasnya tanpa Blonde ketahui. Liona menyelipkan ramuan itu di lengan bajunya.


Kini raja pun mempersilakan para hadirin untuk meminum arak tersebut. "Silakan, Para Tamu Kehormatan."


Pada akhirnya mereka pun bersulang untuk merayakan kedatangan para pejabat tinggi dari Negeri Eurasia, tetangga terdekat Rusmania.


"Em, siapa yang membuat arak ini? Mengapa rasanya begitu enak sekali?" Seorang pejabat dari Eurasia memuji arak yang diminumnya.


"Itu buatan Liona. Tabib temuda di istana ini." Ratu pertama pun menyahutinya.


"Iya, benar. Rasanya enak sekali. Seketika badan jadi terasa lebih hangat." Pejabat lain ikut memuji.


Tentu saja kata pujian itu membuat Blonde tidak suka. Ia sangat tidak menginginkan kehadiran Liona di istana. Lantas ia pun enggan meminumnya.


"Ratu Blonde, kenapa tidak ikut mencobanya?" Baginda raja menanyakannya.


Blonde tersenyum. "Aku kurang suka arak," katanya yang menolak untuk minum.


"Em, Yang Mulia. Arak ini sungguh nikmat. Sayang sekali jika tidak dicicipi. Lagipula persediaannya terbatas. Apakah Anda takut mabuk?" Seorang pejabat dari negeri seberang menanyakannya.


Raja tampak tak enak hati. "Ratu, minumlah. Walau sedikit." Raja pun meminta Blonde untuk meminumnya.


Blonde mendapat tekanan dari banyak pihak untuk segera meminum arak yang disediakan Liona tersebut. Ia pun kesal dan akhirnya meminum arak itu sampai habis. Blonde seolah-olah menunjukkan rasa kesalnya kepada raja. Yang mana membuat tamu istana menertawainya. Dan pada akhirnya raja harus mengalihkan perhatian dengan bercanda. Raja meminta para tamunya untuk tidak memedulikan Blonde yang marah.


Satu jam kemudian di ruang makan istana...


Ran baru saja datang setelah memastikan kondisi istana aman dari para penyusup ataupun serangan dadakan. Karena bagaimanapun perjamuan makan malam mengundang kelengahan tuan rumah yang didatanginya. Sehingga Ran harus berjaga ekstra untuk istananya. Dan kini ia baru sampai di ruang makan kerajaan.


Ran tampak lelah. Tentu saja ia lelah setelah menghabiskan harinya untuk berjaga. Dan kini ia belum beristirahat juga.


"Pangeran." Tiba-tiba Liona menghampiri Ran dengan senyum cerianya. Tentu saja Ratu Nia yang meminta Liona untuk melakukannya.


"Liona, kau cantik sekali." Ran pun memuji Liona.


"Anda juga tampan, Pangeran," kata Liona yang seolah menggoda Ran.


Saat itu juga Ran tersipu malu sendiri. Ia tak mengerti mengapa hatinya begitu malu saat Liona berkata seperti itu. Liona dan Ran pun berdiri di sudut ruangan sambil memerhatikan para tamu istana yang masih bercengkrama di depan meja makan. Ran pun diam-diam meraih tangan Liona. Ia menggenggamnya. Saat itu juga Liona tahu jika Ran begitu menginginkannya.


Pangeran, kau ...?