
Menjelang siang...
Liona dan Han berjalan-jalan di halaman belakang istana untuk mencari akar-akaran yang diperlukan. Tampak Liona sedang memikirkan cara agar bisa membuat ramuan khusus untuk mengungkapkan kebenaran. Sebuah ide pun muncul di benaknya.
"Pangeran, apakah kau tahu akar-akaran apa yang bisa memabukkan?" tanya Liona kepada Han.
"Kau ingin membuat minuman?" tanya Han sambil membantu memilihkan akar-akaran yang bagus.
"Em, aku punya ide. Kita bisa saja membuat ratu ke dua untuk mengakui perbuatannya selama ini dengan ramuan tersebut. Alam bawah sadarnya akan mengambil alih alam sadarnya. Sehingga saat itu kita bisa menanyakan apa saja yang ingin kita ketahui darinya," terang Liona.
Han teringat dengan pembicaraannya dengan Liona semalam. Yang mana Liona sudah menceritakan apa yang terjadi di istana. Han pun berniat membantunya. Ia berpikiran yang sama dengan Liona.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk berada di sini, Liona. Hanya empat hari saja terhitung dari hari ini. Jika kau ingin, maka bergegaslah. Kita ke perbatasan hutan untuk mencarinya." Han memberi saran.
"Itu berarti akar-akaran yang kumaksud ada di sana?" tanya Liona segera.
Han mengangguk. "Aku pernah tahu jenis tumbuhan apa yang bisa membuat mabuk peminumnya. Kita bisa mencampurnya nanti dengan buah agar aromanya tidak terlalu terasa. Aku rasa kita juga bisa dengan segera menguak rahasia selama ini." Han berkata lagi.
Semburat senyum itu terlukis di wajah Liona. "Kau memang bisa kuandalkan, Pangeran. Kita akan meminta izin ratu untuk ke perbatasan hutan sekarang juga." Liona begitu bersemangat.
Han mengangguk. Tanpa sadar Ran melihat keduanya yang sedang berbincang di sana. Ran pun segera menghampiri mereka.
"Liona." Ran menyapa Liona. Saat itu juga atmosfer persaingan mulai terasa. Han dan Ran saling berhadapan.
Liona pun tidak siap dengan kedatangan Ran. Ia kemudian mengalihkan pembicaraan. "Pangeran Ran, kenalkan ini kakakku. Namanya Han." Liona mengenalkan Han kepada Ran. "Kakak, ini Pangeran Ran. Dia seorang panglima militer di sini." Liona mengenalkan Ran ke Han.
Han tersenyum. Tapi tidak untuk Ran. Ia mendongakkan kepala seolah mau menunjukkan siapa dirinya. "Baguslah kalau kau adalah kakaknya Liona. Salam kenal, Kakak Ipar." Ran pun tersenyum kepada Han.
Kakak ipar?!
Sontak Han terkejut mendengar perkataan Ran. Sedang Liona segera tersadar dengan maksud perkataan dari Pangeran Rusmania itu.
"Em, Pangeran. Kakakku seorang peramu obat-obatan herbal. Dan kini kami sedang ditugaskan ratu untuk membuat campuran minuman. Kami permisi dulu, ya."
Liona pun segera berpamitan kepada Ran. Ia juga menarik tangan Han agar segera mengikutinya. Tampak Ran dan Han yang berpapasan. Mereka saling melirik satu sama lain.
Kakak Liona? Sejak kapan Liona mempunyai seorang kakak?
Ran pun bertanya-tanya dengan kebenaran Liona apakah mempunyai seorang kakak atau tidak. Ia pun ingin menanyakannya secara langsung. Tapi Ran juga tahu jika sekarang Liona tengah sibuk. Ia hanya bisa melihat keduanya pergi dari hadapannya. Ran berbalik untuk melihat Liona dan Han yang pergi bersama.
Sore harinya...
Izin dari ratu pertama didapatkan Liona dan Han untuk mencari akar-akaran yang memabukkan. Tampak keduanya baru saja sampai di perbatasan hutan. Mereka pun turun dari kereta kuda dan melihat hutan yang sangat lebat. Seketika Liona jadi teringat di mana ia dibesarkan. Tapi kini ia pergi bukan hanya bersama Han, melainkan bersama pasukan berkuda dan tim pemanah yang diutus Ran. Liona pun tidak bisa bebas bergerak apalagi kembali ke istana serigala.