
Liona ....
Sedang hati Ran berbunga-bunga melihat Liona. Ran seolah tidak ingin berpindah ke yang lainnya. Cukup hanya Liona saja.
"Aah, sepertinya aku sudah kekenyangan. Aku pergi dulu ya." Tiba-tiba terdengar suara Ratu Blonde berbicara seperti itu di tengah suasana makan malam yang belum selesai.
"Ratu, Anda baik-baik saja?" Baginda pun segera menanyakannya.
Ratu tersenyum-senyum. "Aku baik. Hanya saja keadaan hatiku sedang tak baik." Ratu pun beranjak berdiri dari kursinya. Tapi saat itu juga tubuhnya terhuyung seperti orang yang kelimpungan.
"Yang Mulia!" Pejabat yang duduk di dekat ratu pun segera menahan tubuh Blonde agar tidak sampai jatuh.
"Ran!" Saat itu juga baginda raja memanggil Ran yang sedang bersama Liona.
"Ayah? Liona tunggu ya." Ran pun segera menuju meja makan.
"Ran, bawa ibumu ke kamarnya! Dia mabuk!" Raja pun merasa malu karena Blonde berbicara tak pantas di hadapan para tamu istana.
Sontak ketegangan sedikit terjadi kala ratu ke dua mabuk di meja makan. Ran pun segera membawa ibunya ke dalam kamar.
Kita berhasil, Liona.
Sementara itu Ratu Nia tampak senang karena rencananya berjalan dengan sempurna. Blonde mabuk dan membuat malu raja. Ia pun meneruskan santap malam penutupnya bersama tamu istana. Tak memedulikan Blonde yang dibawa ke kamarnya.
Ada apa dengannya? Mengapa dia sampai semabuk itu? Padahal yang dia minum sama seperti kami. Ukuran gelas kecil untuk arak yang diberi. Apakah dia ingin mempermalukanku? Aku harus menanyakan hal ini padanya.
Raja pun tampak memikirkan hal ini. Ia merasa kesal jika Blonde sesuai dengan pikirannya yang hanya ingin membuatnya malu. Lantas raja pun meminta para tamu istana untuk meneruskan santap malam penutupnya. Sedang ia sendiri menemaninya. Raja mencoba untuk tidak memedulikan Blonde sementara waktu karena perjamuan makan malam yang belum selesai. Tapi setelahnya ia akan menemui Blonde segera di kamarnya. Menanyakan mengapa Blonde bisa bersikap seperti itu.
Han dan Liona berjalan-jalan sebentar di pekarangan belakang istana Rusmania. Setelah tugas mereka selesai, mereka pun bisa bersantai. Han kemudian mengajak Liona untuk duduk di dekat kolam istana. Liona pun mengikutinya. Keduanya memandangi rembulan yang bersinar terang di sana. Saat itu juga Han teringat dengan kenangannya bersama Liona.
"Kau masih ingat waktu kita duduk di teras kolam bunga teratai?" tanya Han kepada Liona.
"Tentu." Liona pun tersenyum seraya mengangguk kepada Han.
"Malam itu rasanya sungguh aneh sekali bagiku." Han mulai mengungkapkan.
"Benar, kah? Tapi kurasa lebih aneh malam ini." Liona menambahkan.
"Maksudmu?" tanya Han.
"Ya ...," Liona mengembuskan napasnya. "Semua orang sekarang sedang sibuk menjenguk ratu di kamarnya. Tak terkecuali raja, ratu Nia bahkan pejabat istana. Putra angkatnya juga ada di sana menemani ibunya. Jadi kita ditinggal sendiri di sini." Liona menuturkan.
Han tersenyum. "Semua berjalan sesuai rencana. Aku juga tidak melihat ada tanda-tanda penyerangan ke istana. Sepertinya memang murni perjamuan tanpa ada tujuan tertentu dari pihak luar." Han mengungkapkan.
"Syukurlah kalau begitu. Aku berharap yang terbaik untuk istana ini. Semoga saja semua kebenaran juga akan terungkap," kata Liona lagi.
Han mengangguk. Ia kemudian menarik napas dalam-dalam untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Liona. Jantungnya pun berdebar mengikuti hela napas yang semakin cepat karena perasaan grogi yang ia rasakan.
"Liona, sebenarnya aku ...." Han mulai mengatakannya.
"Sebenarnya kenapa, Pangeran?" tanya Liona kemudian.