
"Jadi bagaimana dengan perkembangan terkini dari kediaman Blonde? Apakah dia sudah mulai menyusun rencana?" tanya Ratu Nia kepada seorang pria berpakaian prajurit biasa.
"Sepertinya belum, Yang Mulia. Saya belum mendengar apa-apa saat berjaga di sana. Tapi entah jika nanti. Karena sepertinya Ratu Blonde mulai risih dengan perubahan raja." Seseorang itu mengabarkan.
Ratu Nia mengangguk. "Baik. Kalau begitu pantau terus kediamannya. Usahakan hanya kau yang tahu hal ini." Ratu berpesan kepada seseorang tersebut.
"Baik, Yang Mulia."
Pria berpakaian prajurit biasa itu kemudian berpamitan dari kediaman Ratu Nia. Ia segera pergi begitu selesai melaporkan pemantauannya. Ia adalah mata-mata dari Ratu Nia untuk Blonde di istana.
Aku harap Liona dan Ran dapat segera menikah, sehingga aku bisa mencuci pikiran Ran agar tidak berpihak ke ibunya. Karena jika Ran sampai demikian, pasti akan terjadi perlawanan besar di istana. Blonde pintar menempatkan anak angkatnya di posisi vital pemerintahan. Maka dari itu aku harus berjaga-jaga.
Sebagai seorang ratu, Nia mempunyai mata-mata khusus untuk menyelidiki apa yang terjadi. Seusai dirinya perlahan sembuh dari penyakit yang diderita, Nia berniat membalikkan keadaan kembali. Ia tidak ingin jadi ratu ke dua yang diabaikan raja. Karena bagaimanapun ini adalah istananya.
Nia mempunyai tujuan tersendiri menjodohkan Ran dengan Liona. Ia beranggapan jika Liona dan Ran sampai menikah, maka mudah baginya untuk mengendalikan pikiran Ran agar tidak berpihak kepada Blonde. Karena jika hal itu sampai terjadi, Nia akan menghadapi kesulitan untuk meruntuhkan pengaruh Blonde. Ran masih menjadi panglima di istana. Yang mana tentunya persenjataan dikuasainya. Maka dari itu Nia berniat menjodohkan Liona dan Ran terlebih dahulu agar Ran berpihak padanya. Nia tahu Liona sangat memedulikannya.
"Sayang."
Tak lama kemudian suara baginda raja terdengar, mengetuk pintu kediaman Nia. Nia pun segera membukakan pintunya.
"Baginda?" Nia pun menyambut hangat suaminya.
"Aku punya kabar baik untukmu," kata raja kepada istrinya.
Raja mengangguk. Ia kemudian masuk ke kediaman istrinya. Melangkah menuju kamar sang istri untuk beristirahat sebentar menjelang sore ini. Sedang Nia segera menutup pintu kediamannya. Ia ingin melayani suaminya. Ratu Nia dan Raja Rus akhirnya bicara bersama.
Sepuluh menit kemudian...
"Tanda seperti hati di panggul?"
Itulah pertanyaan yang diajukan Nia kepada sang suami tercinta. Yang mana beberapa menit setelah perbincangan terjadi. Raja Rus memberi tahu tentang bagaimana ciri-ciri putrinya yang telah tiada.
"Ya. Itu benar. Putri kita mempunyai tanda lahir berbentuk hati di sekitaran tulang panggulnya. Aku rasa sedikit sulit untuk memastikannya."
Raja Rus menceritakan hasil pertemuannya dengan sesepuh istana. Di mana sang sesepuh menceritakan ciri-ciri bayi yang dilahirkan Ratu Nia.
Ratu Nia menelan ludahnya. Ia memikirkan hal ini, bagaimana cara agar dapat melihat panggul Liona tanpa menimbulkan kecurigaan sama sekali.
"Apakah ada tanda lain, Baginda?" tanya Nia lagi.
Sang raja melepas jubah kebesarannya. "Hanya itu. Tanda itu berbentuk kemerahan bukan hitam seperti tanda lahir biasanya. Aku rasa sangat sulit untuk meminta Liona menampakkan panggulnya. Aku khawatir dia malah mengira kita meminta yang tidak-tidak." Raja tampak ragu sendiri.
Ratu Nia mengerti. "Baik. Nanti aku akan mencari cara bagaimana agar bisa melihat tanda itu darinya. Besar harapanku tanda itu ada padanya. Karena selama ini aku merasa dialah putriku. Semoga secepatnya aku bisa melihatnya." Ratu Nia berharap besar.