
Ran tak percaya jika Ratu Nia akan menikahkannya dengan Liona. Sedang Liona yang mendengarnya ikut tak percaya. Ia hampir memecahkan gelas yang ada di meja.
"Apa kau menyukai Liona?" tanya ratu lagi kepada Ran.
Saat itu juga Ran bingung untuk menjawabnya. "Ibu, aku ... aku ...." Ran tidak tahu harus berkata apa. Ia senang, gembira dan juga sedih yang bersamaan.
"Katakan saja suka atau tidak. Itu tidak sulit, bukan?" tanya ratu lagi.
Ran menelan ludahnya. Ia tak percaya jika Ratu Nia akan menanyakan hal ini padanya.
"Aku menyukainya, Ibu. Tapi ... dia seperti ingin menghindariku." Pada akhirnya Ran pun berkata jujur kepada ratu.
Ratu tersenyum. "Baiklah. Sekarang pergi ke rumah pohon yang ada di belakang istana. Bicarakan hal ini bersamanya sekarang juga. Katakan sejujurnya tentang perasaanmu padanya. Maka semuanya akan jauh lebih mudah." Ratu Nia menyuruh Ran cepat menyatakan perasaannya.
"Tap-tapi, Ibu. Aku takut Ibu memarahiku." Ran khawatir Ratu Blonde memarahinya.
Ratu Nia menggelengkan kepala. "Tidak. Kau tenang saja. Semua akan terkendali selagi kau menurut padaku. Maka sekarang lekaslah bicara padanya." Ratu Nia menegaskan lagi.
Ran mengangguk. Ia menerima permintaan dari Ratu Nia. Pada akhirnya Ran pun segera berpamitan kepada ratu untuk menuju rumah pohon yang ada di belakang istana. Ratu Nia juga memanggil Liona. Yang mana tak lama Liona datang ke ruang tamu. Saat itu juga Ran terpesona dengan kecantikan Liona. Ternyata Liona sudah didandani oleh ratu.
Sekarang berbahagialah. Karena aku punya rencana untuk ini semua.
Lantas apakah Liona dan Ran siap untuk melepas masa lajangnya? Lalu bagaimana dengan Han?
Di rumah pohon yang ada di belakang istana...
Istana Rusmania sangat luas. Tapi, luasnya istana berbanding imbang dengan penghuninya. Maka dari itu Ratu Nia meminta Ran dan Liona untuk bicara di rumah pohon yang ada di belakang istana, agar tidak ada yang mengganggu pembicaraan mereka. Dan kini Liona dan Ran sedang duduk bersama sambil melihat istana yang megah. Tampak keduanya duduk di teras rumah pohon sambil menghadap ke arah istana.
"Em, sebelumnya ... aku ingin minta maaf." Ran membuka pembicaraan.
Liona mengangguk. Ia sebelumnya sudah dinasihati oleh Ratu Nia agar tidak lagi mengabaikan Ran.
"Aku ... aku tidak ada niatan buruk atau jahat padamu. Aku ... hanya ingin kita lebih dekat lagi saja. Terlebih kau orang baru di istana." Ran menuturkan.
Liona diam. Ia menunggu Ran selesai bicara. Sedang Ran tampak menelan ludahnya berulang kali karena grogi untuk bicara lagi. Pepohonan yang ada di sekitarnya pun seolah menjadi saksi.
"Kau pasti sudah tahu siapa aku. Aku hanya anak angkat Ratu Blonde saja. Aku tidak tahu siapa orang tuaku yang sesungguhnya. Sejak kecil aku dibesarkan olehnya. Jadi jika kau menginginkan aku sebagai seorang pangeran sungguhan, maka tolong tepiskan keinginan itu." Ran mulai bicara. Ia mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya.
Liona mengangguk. Jantungnya berdebar-debar saat duduk berdekatan dengan Ran seperti ini. Rasanya sangat berbeda sekali. Tapi ia pun tidak bisa menjauh karena Ratu Nia telah berpesan padanya. Liona tidak boleh mengabaikan Ran lagi.