LIONA

LIONA
Jujur



Kini Han sedang menunggu ratu bersama Liona. Tak lama ratu pun datang bersama pengawalnya. Tampak Liona yang segera berdiri diikuti oleh Han untuk menyambut ratu. Ratu pun melihat bagaimana Han.


"Salam, Yang Mulia." Han memberikan salam kepada ratu.


Ratu terkejut melihat Han. Ia tak percaya jika Han adalah kakak dari Liona. "Silakan duduk." Ia kemudian meminta Han untuk duduk kembali. "Liona, tolong buatkan teh untuk kami."


Ratu pun meminta Liona untuk membuatkan teh. Tampak Liona yang segera menurutinya. Ia pun pergi meninggalkan Han bersama ratu di ruang tamu. Ratu dan Han akan berbincang sebentar dengan pengawal ratu yang menunggu di luar ruangan.


.........


...Han...



.........


Beberapa menit kemudian...


"Jadi kau adalah kakak dari Liona?" Ratu segera menanyakannya.


"Silakan." Bersamaan dengan itu Liona pun datang membawakan teh untuk keduanya.


"Em, terima kasih." Han pun berterima kasih kepada Liona. Ia merasa canggung sekali saat ratu langsung menanyakan hal itu.


"Benar, Yang Mulia. Saya adalah kakaknya." Han pun mengakuinya.


Ratu mengernyitkan dahinya. Ia perhatikan Han dan Liona secara bergantian. Namun, tidak ada tanda kemiripan di antara keduanya.


Ini aneh sekali. Liona dan kakaknya tidak mirip sama sekali. Apakah dia sedang berbohong? Atau ...?


"Em, aku rasa sedikit aneh jika kakak beradik tidak mempunyai kemiripan." Ratu akhirnya terus terang mengatakannya.


Saat itu juga jantung Liona berdetak kencang. Ia khawatir ratu menolak Han untuk tinggal di istana.


Han?!


Liona pun terkejut dengan pengakuan Han.


"Kakak angkat?" Ratu pun tampak ingin menginterogasi Han. Ia seolah tak percaya jika Liona mempunyai seorang kakak.


"Ya, Yang Mulia. Kami dibesarkan bersama sejak kecil oleh ayah dan ibu di istana." Han mengatakannya.


Han!


Liona pun segera menyenggol kaki Han agar tidak terlalu banyak bicara. Liona khawatir identitasnya akan diketahui oleh ratu.


"Istana? Apakah kau seorang putra mahkota?" tanya ratu kembali yang terkejut dengan pengakuan Han.


"Em, Yang Mulia. Kami memang dibesarkan di istana atas seizin raja dan ratu yang ada di sana. Ayah dan ibu kami seorang pekerja yang tinggal di istana." Liona pun segera menutupinya.


Tampak ratu yang mengerti perkataan Liona. "Em, baiklah."


Pada akhirnya ratu tidak mengajukan pertanyaan lagi kepada Han. Sedang Liona melihat Han dengan banyak kedipan. Memberi tanda agar Han tidak sembarang bicara. Han sendiri merasa suasana terlalu canggung sehingga membuatnya tidak bisa tidak berkata jujur.


"Kau boleh tinggal di istana ini. Tapi harus mengikuti semua ketentuan dan peraturan yang berlaku. Pengawalku akan memberikan tempat tinggal untukmu di istana timur. Nanti kau bisa bergabung dengan para prajurit yang ada di sana. Tidak keberatan bukan tinggal berjauhan dengan Liona?" Ratu segera menanyakannya.


Liona menyenggol kaki Han. Saat itu juga Han mengiyakannya. "Baik, Yang Mulia."


"Untuk sementara aku ingin melihat perkembangan dulu. Jadi mungkin kalian akan sering bersama untuk menjalankan perintahku. Aku harap kalian bisa diajak bekerja sama karena aku telah percaya sepenuhnya kepada Liona. Liona, tolong bantu aku sesuai pembicaraan semalam." Ratu meminta.


"Baik, Yang Mulia." Liona pun memenuhinya.


"Bagus. Kalau begitu kita segera bekerja. Selamat datang di istana Rusmania, Han. Semoga betah tinggal di sini."


Ratu pun menyambut baik kedatangan Han. Tentunya ia juga mempunyai tujuan tersendiri dari hal ini. Ratu ingin segera melancarkan rencananya yang telah disepakati bersama Liona.