LIONA

LIONA
Fakta



...Ran...



...Liona...



.........


Ran tersenyum. "Sejak datang ke istana ini, banyak sekali aturan yang harus kuikuti. Ibu selalu melarangku untuk melakukan ini dan itu. Dia memintaku hanya menuruti perintahnya. Aku pun tahu diri mengenai siapa aku yang sebenarnya. Karena nyatanya aku hanya anak angkatnya saja. Aku berutang budi kepadanya. Tapi di lain sisi aku juga mencoba untuk membahagiakan diriku sendiri dengan mencintaimu." Ran menjelaskan pada Liona.


Saat mendengarnya, saat itu juga Liona tersipu malu. Kini Ran sudah berani menunjukkan keseriusannya setelah Ratu Nia meminta kepadanya langsung. Ran pun mulai menunjukkan sifat penyayangnya kepada Liona. Ia seringkali mengusap kepala Liona. Dan Liona pun merasa disayang olehnya.


"Kau adalah orang penting di istana ini. Sedang aku hanya seorang tabib biasa. Aku juga tak mengerti mengapa Yang Mulia memperlakukanku dengan khusus. Padahal aku tidak berbuat banyak untuknya." Liona menceritakan.


"Tidak berbuat banyak?" Ran terheran. "Tidak, Liona. Kau telah menyelamatkan ibu. Ibu telah lama diduga menderita penyakit gila. Apakah kau tidak tahu itu?" Ran bertanya kepada Liona.


"Penyakit gila?" Liona bertanya balik.


"He-em." Ran mengangguk. "Waktu itu aku masih kecil. Aku tidak ingat kapan pertama kalinya ibu diduga sakit gila. Tapi saat aku berumur tujuh tahun, aku baru mengerti mengapa ibu dikurung di kamarnya. Orang-orang membicarakan jika ibu telah gila." Ran menceritakan.


Ran menggelengkan kepalanya. "Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas ibu sakit dan sering berteriak sendiri di kediamannya. Ibu juga katanya pernah mengasari pelayan yang mengantarkan obat ke sana. Aku juga tidak berani menanyakan kebenarannya. Tapi yang jelas aku datang dulu ke sini, baru beberapa tahun kemudian ibu diduga gila." Ran menceritakan masa kecilnya.


"Oh ...." Liona pun mengangguk-angguk.


Ini aneh sekali. Benarkah dugaanku terhadap ratu berambut pirang itu? Jika dia adalah penyebab dari sakitnya ratu?


Liona bertanya-tanya sendiri. Ia pun teringat kembali dengan apa yang terjadi di ruang pengobatan istana waktu itu. Di mana Liona memergoki Blonde bersama seorang nenek tua sedang membicarakan bisa ular hitam. Liona jadi curiga jika semua ini ada kaitannya. Ia lantas menanyakan sesuatu yang lebih rinci lagi kepada Ran.


"Apakah kau tahu kapan Yang Mulia Raja menikahi ibumu? Bagaimana keadaan Ratu Nia saat itu?" tanya Liona lagi.


Ran mengangguk. Ia mengerti keinginantahuan Liona akan istana ini. Ia lantas mengatakan sejujurnya.


"Ibu dulunya adalah seorang penari kerajaan. Ibu datang ke sini saat aku berusia tiga tahun. Dan ibu dipersilakan untuk tinggal di istana selama dua tahun lamanya. Barulah tahun berikutnya ibu menikah dengan ayah raja. Kata orang-orang satu tahun setelah pernikahan ibu, ibu suri jatuh sakit. Tapi belum terlalu parah sampai seperti kemarin." Ran menuturkan.


Astaga!


Saat itu juga Liona menyadari apa yang terjadi di istana. Ternyata dugaannya selama ini tidaklah salah. Jika malapetaka yang menimpa Ratu Nia adalah saat Ratu Blonde sudah berada di istana. Liona pun mencurigai ratu ke dua sebagai pelaku utama dari sakitnya ratu pertama. Tapi, ia menyadari jika pengaruh Blonde masih besar di istana. Terlebih Ran yang merupakan anak angkatnya adalah seorang panglima. Liona harus berhati-hati dalam bicara.


Aku harus mengatakan hal ini kepada Yang Mulia. Kebenaran harus terungkap secepatnya.