
Han tersenyum kepada Liona, memerhatikan Liona lebih dalam. "Liona, sebenarnya aku--"
"Liona?" Tiba-tiba saja terdengar suara Ratu Nia yang datang.
Liona pun segera tersadar dan menjauhkan diri dari Han. Ia menyambut kedatangan ratu di ruang pengobatan.
"Bagaimana? Apakah sudah dibuatkan? Besok malam ada perjamuan di istana barat. Lekaslah membuat ramuannya dan lakukan uji coba terlebih dulu. Aku ingin kepastian secepatnya." Ratu meminta.
Ratu Nia tiba-tiba datang dan menghentikan apa yang sedang Han katakan kepada Liona. Sontak Han tidak jadi meneruskan pembicaraannya. Ia kembali menempatkan posisinya sebagai kakak angkat dari Liona. Dan ia membantu Liona untuk membuat ramuannya.
Han membantu Liona membuatkan ramuan jujur yang mana bisa membuat siapapun yang meminumnya mabuk dan mengatakan sejujurnya apa yang ditanyakan. Karena ini adalah jalan satu-satunya untuk mengetahui kejahatan yang telah Ratu Blonde lakukan. Liona bekerja sama dengan Han untuk mengungkapkan kebenaran. Tentu saja atas perintah dan seizin dari ratu pertama. Ratu Nia pun menunggu ramuan itu selesai dibuatkan Liona.
Esok harinya...
Pagi hari yang cerah telah datang. Liona pun baru terbangun dari tidurnya. Semalaman ia menyelesaikan ramuannya. Dan kini ia kesiangan.
"Astaga!"
Ia pun segera beranjak bangun untuk melihat keadaan sekitar. Liona tak enak kesiangan di kediaman ratu.
"Yang Mulia, Anda di mana?"
Liona pun mencari ratu. Tapi ternyata ratu tidak ada di dalam kamarnya. Entah sudah jam berapa ini, Liona pun lekas-lekas ke ruang tamu untuk mengecek ratu di sana. Tapi ternyata bukan ratu yang ada, melainkan Ran si panglima istana.
"Pangeran?!"
"Pangeran, kau sedang apa di sini?" Liona pun menarik ujung baju Ran yang tertidur.
Sontak Ran segera tersadar. Ia kemudian membuka matanya. "Liona?" Ia pun beranjak bangun.
Liona memerhatikan Ran. Tak tahu mengapa pangeran yang satu ini sudah mulai berani datang ke kediaman ratu dan tidur di kursi tamunya. Liona pun jadi berpikir tentang keduanya.
Apakah mereka habis bicara? Tapi bicara apa?
Liona pun ingin segera menanyakannya. "Pangeran, kenapa kau bisa ada di sini?" Liona bertanya kepada Ran.
Ran menyandarkan punggungnya di kursi. "Aku rindu. Jadi datang ke sini. Apakah tidak boleh rindu kepada calon istri sendiri?" tanya Ran yang membuat Liona tersipu malu.
Jujur saja Liona malu mendapat jawaban seperti itu dari Ran. Awal mula ia selalu saja menghindar. Tapi kini benang takdir itu seolah mempertemukan mereka ke dalam jenjang keseriusan. Liona pun seolah tak berdaya untuk menolaknya. Apalagi Ratu Nia yang sudah meminta langsung padanya. Ratu Nia berniat menikahkan Liona dan Ran.
"Em, aku mandi dulu. Nanti aku kembali lagi. Kau bisa keluar dari kediaman rat sekarang?" Liona tampak mengusir Ran secara halus.
Ran mengernyitkan dahinya. "Mengapa harus sampai keluar dari sini? Apakah kamar mandinya tidak ada pintu?' Ran balik bertanya.
"Astaga ...." Liona pun menepuk dahinya. Saat itu juga Ran mengerti jika Liona tidak ingin diganggu.
"Baiklah. Aku pergi. Aku tunggu di luar saja." Ia pun akhirnya mengambil keputusan untuk menunggu Liona di luar kediaman.