LIONA

LIONA
Berpamitan



Sontak Liona terkejut tak percaya. "Pangeran, ada apa?" Liona pun cepat- cepat mendekati Han.


Han tersenyum. "Waktuku sudah habis di sini. Lagipula sepertinya aku sudah tidak dibutuhkan lagi." Han mengatakannya sambil menahan sesak di dada.


"Pangeran ...." Saat itu juga Liona seperti tidak bisa berkata apa-apa.


"Jika kau ingin ikut denganku, maka saatnya sudah tiba. Tapi jika kau ingin menetap di sini, maka aku yang akan pergi." Han menjelaskannya.


Saat itu juga hati Liona merasa sedih. "Apakah harus sekarang? Di saat istana sedang berkabung seperti ini?" tanya Liona yang tampak mulai meneteskan air matanya.


Han menghela napas dalam-dalam. "Jangan menangis, Liona. Sekarang atau nanti itu sama saja. Yang membedakan hanya waktunya. Aku tahu kita tidak mungkin bersama. Tapi kita masih bisa saling menyayangi." Han mencoba berlapang dada.


Sejujurnya Han tidak rela dengan keadaannya. Ia tidak lagi bisa bersama Liona. Han juga tahu diri jika dirinya adalah seekor serigala. Bukan manusia seperti Liona. Yang Han miliki hanya perasaan cinta di hatinya. Tapi kembali lagi logika itu harus ia pakai jika ingin bersama Liona.


"Aku ... aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi yang jelas aku sangat berterima kasih padamu." Liona merasa kebingungan untuk mengatakannya. Saat ini hatinya gundah gulana.


"Aku mengerti." Han pun mengerti posisi Liona. Ia mencoba untuk memaklumi keadaan yang tidak memungkinkan ini.


Han memerhatikan Liona yang mengeluarkan kesedihan di hadapannya. Ia kemudian menarik Liona ke dalam pelukannya. Han tak tega, benar-benar tak tega saat melihat Liona menahan isak tangisnya. Tapi ia juga tahu jika tidak bisa berlama-lama di Rusmania. Waktunya sudah habis.


"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Kami juga akan menunggu kepulanganmu ke istana. Kami tidak akan pernah berubah. Kami selalu menyayangimu, Liona. Teruslah berjuang di sini. Raih impian dan cita-citamu." Han menguatkan hati Liona.


Sesak di dada itu akhirnya tidak bisa lagi terbendung. Pada akhirnya Liona menangis di dada Han. Ia menangis tersedu-sedu dan tidak lagi bisa membendung kesedihan. Liona mencurahkan seluruh perasaan sedihnya pada Han. Dan Han pun tanpa sadar meneteskan air matanya. Ia tahu jika sudah tiba waktu baginya untuk berpisah.


Liona, mungkin inilah jalan yang terbaik. Aku tidak bisa menjadi manusia seutuhnya. Tapi aku berharap kau dapat menemukan kebahagiaanmu di sini. Sekalipun bukan bersamaku. Semoga di kehidupan lain kita bisa bertemu lagi. Tentunya sebagai sepasang kekasih. Aku menyayangimu, Liona.


Semilir angin yang berembus menjadi saksi akan kasih yang tak sampai. Perbedaan ras menjadi tembok penghalang yang besar. Keduanya pun harus merelakan, terutama Han yang amat mencintai Liona. Dan akhirnya Han juga harus berpamitan. Ia pergi meninggalkan istana dengan lapang dada dan menerima takdirnya. Tapi bagaimana dengan Liona yang ditinggalkan di istana? Mampukah ia menghadapi lika-liku kehidupannya?


...... ...


...Liona dan Han...