
"Ibu ... maafkan aku. Aku tidak bisa menolong Ibu lebih jauh." Nada suara Ran terdengar menahan isak tangisnya.
Blonde menundukkan kepala. "Semua ini karena gadis itu. Dia telah membuatku mabuk." Blonde menyalahkan Liona.
"Bu, tolong jangan salah Liona. Dia tidak salah." Ran membela Liona.
"Apa?!" Dalam sekejap wajah Blonde pun berubah marah. "Kau lebih membelanya daripada ibumu?" tanya Blonde dengan kesal.
Ran menggelengkan kepala. Jeruji besi menjadi jarak yang memisahkan mereka. "Semua orang di pesta meminum arak itu, Bu. Dan mereka semua mabuk. Bukan hanya ibu saja." Ran menjelaskan kepada ibunya.
Blonde membalikkan badan, membelakangi Ran. "Jika kau datang hanya ingin membela gadis itu, maka pergilah. Dan jangan pernah kembali lagi." Blonde tampak putus asa.
"Ibu ...."
"Harusnya kau lebih membela ibumu. Bukan gadis itu. Apakah karena rasa sukamu yang telah membutakan mata hatimu, Ran?" tanya Blonde sambil tetap membelakangi Ran.
"Bu." Ran maju selangkah agar lebih bisa mendekati ibunya. "Aku sudah ke dapur istana. Bahkan ikut meminum sisa araknya juga. Aku sedikit pusing, tapi kemudian tak terjadi apa-apa. Hanya Ibu sendiri yang berteriak-teriak sehabis meminum arak itu," jelas Ran.
"Jadi kau menyalahkan Ibu? Kau menuduh Ibu mencari simpatik ayah raja agar kembali seperti dulu?!"
Blonde membalikkan badan ke arah Ran dengan cepat. Ia marah, tak terima perkataan Ran yang seolah menyudutkannya. Sedang Ran merasa bingung harus bicara apa. Ia takut ibunya salah prasangka. Pada akhirnya Ran pun menahan ucapannya.
"Maafkan aku, Bu. Mungkin aku memang terlalu bodoh. Tapi aku akan terus mengusahakan keringanan hukuman untuk Ibu. Setelah selesai masa hukuman, aku juga akan mengajak Ibu berjalan-jalan. Kita bisa berpergian bersama. " Ran mencoba tersenyum dalam dukanya.
"Ibu ...."
"Sekarang pergilah! Ibu tidak mau melihatmu lagi!"
Blonde pun menjauh dari Ran. Ia membelakangi putranya kembali. Blonde tak mau melihat Ran lagi. Ran pun berkecil hati. Hatinya terasa sakit sekali. Tanpa sadar air matanya jatuh membasahi pipi.
Ibu, jika ibu memang tidak menyukai aku bersama Liona, aku akan mencoba melupakannya, Bu. Tapi jangan pernah berpaling dariku. Aku anakmu.
Ran menarik napas dalam-dalam untuk meringankan rasa sesak di dadanya. Ia tak kuasa menghadapi hal ini sendirian. Terlebih ibunya mendekam di penjara. Ran seperti tidak mempunyai kekuatan untuk bertahan. Semangatnya akan menjalani tugas kerajaan hampir tidak ia pedulikan.
Ibu ....
Siang ini akhirnya menjadi saksi Ran yang pergi dari sel tahanan. Ran kembali ke istana untuk mengemban tugas kerajaan. Tentunya dengan hati yang berduka, namun ia coba untuk tetap bertahan. Semua demi jaminan agar hukuman ibunya tetap diperingan. Ran berjuang agar sang ibu terlepas dari jeratan hukuman.
Di kediaman Ratu Nia...
"Jadi begitu."
Ratu Nia beserta suaminya sedang berbincang bersama dengan Liona yang berada di tengah-tengah mereka. Tampak sang raja yang mendengarkan penuturan ratunya.
"Baginda, mungkin memang ada baiknya jika aku ikut campur dalam hal ini. Seperti yang dikatakan oleh Liona tadi, Ran sangat terpukul dengan keadaan ibunya. Aku harap Baginda dapat mengizinkanku untuk memberi keringanan hukuman kepada Blonde." Ratu Nia berkata.