
"Mulai sekarang bukalah hatimu, Liona. Kau adalah manusia yang membutuhkan pasangan. Aku melihat Ran bersungguh-sungguh padamu. Dia hanya terhalang restu ibunya. Maka jika kau menyukainya, berjuanglah bersama. Jangan biarkan dia berjuang sendirian."
Begitulah yang Ratu Nia ucapkan kepada Liona sambil menunggu Ran datang memenuhi panggilannya. Liona pun tampak menerima saran dari ratu untuk hari yang lebih baik ke depannya. Ia kini masih di sisi Ran dan menunggu Ran selesai bicara. Liona akan bicara setelah Ran menuturkan semuanya.
"Beberapa hari terakhir aku selalu memikirkanmu. Aku gelisah setiap malam tiba. Rasanya ingin sekali menemuimu di kediaman ibu. Aku juga tidak tahu perasaan apa ini. Tapi sepertinya aku menyukaimu." Ran menuturkan apa yang ada di hatinya.
Liona menelan ludahnya. Ia menoleh ke arah Ran yang sedari tadi bicara padanya. Mulutnya mulai terbuka seperti ingin bicara. Ia kemudian menarik napas dalam-dalam sebelum menuturkan apa yang ada di pikirannya.
"Sebenarnya ... aku merasa risih saat kau selalu menggangguku. Tapi beberapa hari ini aku merasa kehilangan saat tidak lagi merasakan gangguan itu. Aku juga tidak tahu mengapa. Tapi saat melihatmu tadi, ada perasaan sedih sekaligus bersalah padamu. Pangeran Ran, maafkan aku. Mungkin aku salah selama ini." Liona meminta maaf kepada Ran.
Ran tersenyum. Senyum manis yang membuat Liona menyadari jika Ran tampan. Ran pun menatap Liona yang membuat Liona segera mengalihkan pandangannya. Saat itu juga Ran mencoba untuk mengusap kepala Liona. Usapan pertama kalinya.
"Kau mau menikah denganku?" tanya Ran lembut kepada Liona.
Liona pun refleks melihat Ran dengan cepat lalu memerhatikan wajahnya. Namun, di hatinya masih sulit untuk menerima permintaan Ratu Nia untuk menikah. Liona masih ingin mengejar cita-cita sebagai seorang tabib istana.
"Aku ... aku baru tujuh belas tahun. Aku masih sangat muda untuk menikah. Aku masih mempunyai cita-cita." Liona menuturkan.
Ran menunduk. Dari raut wajahnya terlihat seperti kecewa. Ia kemudian berkata, "Berapa lama aku harus menunggu?" Ran terang-terangan menanyakannya. Ia ingin menunggu Liona.
Jauh di dalam lubuk hati Liona masih tersimpan nama Han. Tapi ia sendiri belum tahu tentang kebenaran jati dirinya. Liona belum tahu pasti apakah Raja Tan dan Ratu Endless adalah orang tua kandungnya. Liona belum dapat memastikannya. Saat ini keberadaannya di istana Rusmania pun hanya karena menuruti kata hatinya. Selebihnya Liona biarkan mengalir bak air begitu saja.
Pangeran, apakah kau bisa membuatku jatuh cinta padamu?
Tapi sebagai seorang manusia biasa, Liona juga mempunyai rasa ketertarikan terhadap lawan jenisnya. Harus Liona akui jika mulai tertarik kepada Ran. Seorang pria yang seringkali mengganggunya. Dan kini sedang berbicara serius kepadanya.
"Em, aku ... aku tidak dapat memastikannya. Bisakah mengalir seperti air saja?" tanya Liona kepada Ran.
Ran mengangguk. Ia juga tidak ingin memaksa Liona. "Tapi mulai hari ini jangan menghindar lagi dariku ya. Bukakan pintu hatimu untukku agar aku bisa masuk ke sana," pinta Ran kepada Liona.
Liona pun tersenyum seraya menganggukkan kepala. Ia menerima itikad Ran yang ingin dekat dengannya. Semilir angin siang ini pun menjadi saksi kebersamaan mereka.
Sementara itu di kediaman Ratu Nia...
Seseorang datang menghadap Nia untuk melaporkan apa yang terjadi di istana. Diam-diam ia mempunyai mata-mata untuk memantau lawan mainnya. Ratu Nia berniat membalikkan keadaan seperti sebelumnya. Di mana ia yang berkuasa di istana.