LIONA

LIONA
Tiba



Lantas Liona pun mulai menanyakan hal yang lainnya kepada Ran. Ia jadi mempunyai kekuatan untuk melawan. Ia tidak bisa diam saja saat terjadi penyelewengan di istana. Liona akan bertindak untuk ratunya. Ia ingin membersihkan nama Ratu Nia dari prasangka gila selama ini. Sebagai bentuk baktinya sepenuh hati. Liona ingin melindungi ratu dari hal-hal yang mungkin terjadi kembali.


Setengah jam kemudian...


Seusai mengeteh bersama, Ran mengantarkan Liona kembali ke kediaman Ratu. Ia menunjukkan tanggung jawabnya terhadap keselamatan Liona. Tampak keduanya yang berjalan bersama menyusuri koridor istana lantai dua. Beberapa pelayan yang berpapasan pun menyapa mereka. Hingga akhirnya ada seseorang yang melihat keduanya dari menara. Ialah Han yang sudah sampai di istana Rusmania.


Pria itu lagi? Sebenarnya ada hubungan apa Liona dengan pria itu?


Tentu saja Han jadi bertanya-tanya. Ia ingat benar siapa pria yang waktu itu memeluk Liona di perbatasan hutan. Dan kini ia melihatnya kembali berjalan bersama Liona. Han pun mulai curiga jika mereka memang mempunyai hubungan.


Aku harus segera bertemu Liona.


Lantas Han pun mencari tempat untuk bersembunyi. Ia menunggu waktu yang tepat untuk menemui Liona malam ini. Karena Han tidak bisa datang tiba-tiba ke istana tanpa melalui gerbang utama. Ia bisa dicurigai sebagai penyusup atau mata-mata. Dan hal itu akan lebih membahayakannya lagi.


Han kemudian pergi. Ia melompat ke atap istana untuk bersembunyi. Sedang Ran dan Liona baru sampai di kediaman Ratu Nia. Ran pun mengetuk pintu kediaman Ratu Nia. Saat itu juga Ratu Nia yang membukakannya.


"Kalian sudah kembali?" tanya Ratu Nia kepada Ran dan Liona.


Ran tersenyum. "Ibu, terima kasih. Liona telah banyak membantuku malam ini." Ran pun berterima kasih.


Ratu Nia tersenyum. "Tak apa. Liona juga dengan senang hati membantumu. Bukankah begitu, Liona?" tanya Ratu kepada Liona.


Liona pun mengangguk-angguk.


Ratu mengangguk.


"Liona sampai nanti." Ran juga berpamitan kepada Liona.


Lantas Ran segera pergi dari depan kediaman Ratu Nia yang berada di lantai dua istana. Ia pun tersenyum kepada Liona yang memerhatikan kepergiannya. Hingga akhirnya Ran berbelok dan hilang dari pandangan mata. Ratu Nia pun mengajak Liona untuk segera masuk ke dalam rumahnya.


"Kau sudah lelah? Ada yang ingin aku tanyakan padamu." Ratu menutup pintu.


"Tentang apa, Yang Mulia?" tanya Liona segera.


Ratu Nia mengajak Liona duduk di kursi tamunya yang berukir emas itu. "Tentang data prajurit. Apakah ada bagian-bagian yang terlihat mencurigakan?" tanya Ratu Nia kembali.


Liona tampak mengingatnya. "Sepertinya ... tidak ada, Yang Mulia. Tadi saya hanya menuliskan pembagian prajurit di empat arah mata angin saja. Dan yang belum sempat ditulis hanya di bagian utaranya." Liona menjelaskan.


Ratu Nia mengangguk.


"Memangnya ada apa, Yang Mulia? Bolehkah saya mengetahuinya?" tanya Liona segera.


Ratu menarik napas dalam-dalam. Ia kemudian melihat Liona dengan tenang. "Aku hanya khawatir terjadi perlawanan besar saat Blonde terabaikan baginda. Karena Ran adalah putra angkatnya yang memegang persenjataan negeri ini. Maka dari itu aku berjaga-jaga." Ratu menjelaskan.


Liona mengangguk. Ia tampak mengerti. "Yang Mulia, saya rasa memang ada yang tidak beres pada ratu ke dua. Saya merasa dia telah mengupayakan sesuatu." Liona mengatakan.