LIONA

LIONA
Pengakuan



Han menarik napas dalam-dalam. "Sebenarnya aku ... menyukaimu." Pada akhirnya Han pun mengatakannya.


Pangeran ....


Saat itu juga waktu seolah terhenti. Liona tak menyangka jika Han akan menyatakan perasaannya.


"Aku ... sudah lama memendam rasa ini. Maka dari itu aku mengungkapkannya. Liona, maukah kau jadi kekasihku?" tanya Han kemudian.


Hati Liona bak terkena embun pagi. Sedikit dingin dan menimbulkan rasa keterkejutan pada saraf-saraf yang dikenainya. Liona tak menyangka jika Han akan mengatakan sesuatu yang sudah ia tunggu lama. Namun, Liona pun menyadari jika tidak bisa bersama Han. Ratu Nia telah menjodohkannya dengan Ran. Lantas Liona pun mencoba memberi pengertian kepada Han.


"Pangeran Han, sebenarnya aku juga menyukaimu." Liona akhirnya berterus terang. Tampak Han yang semringah seketika. "Tapi ...," Liona meneruskannya.


"Tapi?" Han pun menunggunya.


"Aku telah dijodohkan oleh ratu dengan pangeran Ran." Liona akhirnya jujur.


"Apa?!" Saat itu juga Han tak percaya dengan apa yang didengarnya.


Liona menunduk di samping Han. "Aku sebenarnya bingung. Aku memang ingin sekali menjadi tabib istana. Tapi sesampainya di sini malah dijodohkan oleh ratu. Sedang aku seperti tidak bisa menolaknya." Liona berterus terang.


Han menelan ludahnya. "Liona, kita bisa kembali ke istana sekarang. Ayah dan ibu sudah menunggu kita pulang." Han memberi saran.


Han tampak frustrasi. Ia tak menyangka akan mendengar kabar ini. Sedang waktu ia tinggal juga tidak akan lama lagi. Ia hanya bisa dua hari lagi berada di istana ini. Setelahnya Han harus kembali.


Liona merebahkan kepalanya di bahu Ran. "Andai aku tidak di sini, apakah kau akan berani mengatakannya padaku?" tanya Liona yang mengejutkan Han.


"Liona?" Keduanya pun saling bertatapan.


"Kau akan diam saja, bukan? Dan selamanya akan menyimpan perasaan?" tanya Liona lagi.


Han menunduk di samping Liona. Ia merasa bersalah. "Maafkan aku, Liona. Aku belum mempunyai keberanian saat itu." Han pun menyesal karena baru mengatakannya sekarang.


Liona memegang wajah Han. Ia kemudian memerhatikan paras Han yang tampan. "Aku tidak pernah menyesal dengan kedekatan kita yang canggung kemarin. Aku hanya menyesal mengapa kau mengatakannya di saat situasi tidak memungkinkan seperti ini. Pangeran Han, aku tidak ingin memberimu harapan. Kau bisa menganggapku sebagai apapun yang kau mau. Tapi aku tidak bisa membalas perasaanmu karena banyak pertimbangan. Aku harap kau tidak marah dengan jawabanku ini."


Liona berusaha bijak dalam menghadapi hal yang terjadi. Ia akui memang menyukai Han, terlepas dari tahu atau tidaknya terhadap Han yang merupakan seekor serigala. Tapi di lain sisi hatinya menguatkan untuk terus tinggal di istana Rusmania. Liona merasa pulang ke kampung halamannya. Dan kini sebuah perjodohan pun didapatkannya. Liona tidak bisa menolaknya. Sedang Han sendiri tampak gundah gulana. Ia tak mengerti mengapa seperti ini akhirnya. Han ingin memberontak kepada Sang Pencipta.


Jadi ini hasil akhir dari perjuanganku?


Han ingin menangis. Tapi ia juga tahu jika hal itu hanya akan sia-sia belaka. Karena nyatanya Liona tidak bisa bersamanya. Liona terikat dengan peraturan istana Rusmania. Liona tidak bisa menerima perasaan Han yang tulus kepadanya.