
"Persidangan menghasilkan keringanan hukuman dari ayah raja. Aku yakin jika ibu ratu mau, dia bisa memberikan keringanan hukuman untuk ibu. Karena bagaimana pun ibu ratu termasuk korban kejahatan ibu. Jika ibu ratu mau memaafkan, tentunya ibuku bisa mendapatkan keringanan hukuman lagi. Bukankah begitu, Liona?" tanya Ran kembali.
Liona mengangguk.
Ran memutar tubuhnya, menghadap Liona. "Liona." Ia menatap Liona dengan penuh harap. "Tolong bantu aku agar ibu ratu mau memaafkan kesalahan ibu. Setidaknya hukuman ibu lebih diperingan dari sebelumnya. Aku mohon bantuanmu. Saat ini tidak ada yang bisa kumintai tolong selain dirimu. Sedang jika berbicara langsung dengan ibu ratu sangat tidak memungkinkan bagiku." Ran berharap Liona dapat membantunya.
"Memangnya kau dan Yang Mulia?" Liona pun ingin mengetahui kedekatan Ran dan Ratu Nia.
Ran menghela napasnya. "Aku dan ibu ratu tidak terlalu dekat. Kami baru berbicara setelah dia sembuh dari sakitnya. Tapi selama dia sakit aku tetap menghormatinya sebagai ratu pertama kerajaan ini. Aku tidak pernah berniat untuk tidak sopan padanya." Ran menceritakan.
Liona mengerti. "Baiklah. Setelah ini aku akan mencoba bicara pada ratu. Tapi berjanjilah bersemangat kembali dalam mengemban tugas kerajaan. Kudengar para tamu istana akan pulang sore ini juga." Liona bersimpati terhadap keadaan Ran.
Ran mengangguk. Ia tersenyum kepada Liona. Ran pun mengusap kepala Liona lalu memberanikan diri untuk mencium keningnya Tapi di saat bersamaan seorang prajurit menghampiri keduanya.
"Pangeran Ran!"
Pada akhirnya Ran pun tidak jadi mencium kening Liona. Ia segera berdiri lalu menyambut prajurit yang datang. "Ada apa?" tanyanya segera.
Prajurit yang datang pun segera menjelaskan tujuannya menghampiri Ran. Tanpa Ran sadari jika Han melihat mereka. Han melihat apa yang baru saja terjadi pada Liona dan Ran.
Sebagai teman masa kecil, tentunya Han merasa cemburu dengan kedekatan Liona dan Ran. Hatinya sakit saat melihat Ran yang ingin mencium kening Liona. Han pun menelan ludahnya. Ia menahan sesak di dada. Karena nyatanya di dalam hatinya masih terukir nama Liona. Tapi Han juga menyadari bagaimana status dirinya. Yang mana Liona telah menjelaskannya.
Lantas Han pun pergi dari tempat itu. Ia kembali ke ruang pengobatan istana untuk merenungi dirinya di sana. Han gundah gulana terhadap kenyataan yang harus diterimanya. Liona tidak bisa menerima cintanya. Lalu masihkah ada jalan untuk bersama?
Siang harinya...
Semilir angin siang mengantarkan Ran menuju ruang bawah tanah tempat ibunya dipenjara. Dengan pengawalan beberapa prajurit, Ran pun diizinkan untuk menjenguk ibunya. Raja Rus memberi pengawasan ketat terhadap siapapun yang ingin menjenguk Blonde di sel penjara. Alhasil putranya sekalipun harus dikawal prajurit istana. Dan kini Ran baru sampai di sel ibunya.
"Ibu ...."
Ran datang dengan membawakan makan siang miliknya. Putra angkat dari Blonde itu begitu berbakti kepada ibu angkatnya. Sedang Blonde sendiri tampak terkejut melihat Ran datang. Kondisinya kini telah stabil seperti sediakala. Ia tidak mabuk lagi. Tapi Blonde harus menerima kenyataan jika ia sudah berada di sel penjara.
"Ran ...."
Blonde pun berjalan mendekati Ran. Tampak linangan air mata Ran yang hampir jatuh saat melihat keadaan ibunya. Ia tak tega. Benar-benar tak tega melihat ibunya di dalam penjara.