LIONA

LIONA
Bekerja Sama



Raja Rus mengangguk. Ia kemudian memeluk istrinya. Berharap sang istri dapat membuktikan sendiri apakah Liona benar anak mereka atau bukan. Raja Rus sudah rindu sekali kepada putrinya. Berharap sang putri masih hidup hingga saat kini.


Malam harinya...


Lampu-lampu di taman istana dihidupkan saat malam sudah tiba. Tampak puluhan prajurit yang berjaga di sekeliling istana. Di sana juga terlihat beberapa pelayan yang berjaga malam, hilir mudik membawakan pesanan majikannya. Tapi tidak bagi Liona yang sedang duduk di depan sebuah meja kerja yang besar. Ia kini tengah menemani Ran. Ratu Nia meminta Liona untuk membantu Ran menuliskan data-data prajurit istana.


Pangeran Rusmania yang merupakan anak angkat dari ratu ke dua itu tampak sedang mendiktekan nama-nama siapa saja yang akan menerima tugas baru saat pergantian bulan. Liona pun menuliskannya dengan rapi. Tampak Ran yang tersenyum kala melihat dedikasi sang putri.


Ya, Liona adalah seorang putri yang terbuang dari istananya sendiri. Seseorang dengan tega membawanya ke hutan dan meninggalkan dia di sana. Tanpa peduli pada Liona bayi yang masih membutuhkan perlindungan untuk terus melanjutkan kehidupan. Dan kini ia sudah remaja. Sebentar lagi akan beranjak dewasa.


"Kau kedinginan? Pakai saja mantelku." Ran pun menawarkan mantel hangat untuk Liona.


"Tidak. Lanjutkan saja siapa namanya," pinta Liona sambil membuka lembaran baru untuk menuliskan prajurit yang bertugas di utara istana.


"Hei." Ran pun menegur Liona. "Kau tidak lelah? Apa ingin kita meminum teh sebentar?" tanya Ran lagi sambil melihat Liona.


Liona meletakkan kuas tulisnya. "Tanggung. Satu lagi. Tinggal bagian utara, bukan?" tanya Liona memastikan.


Ran mengangguk. "Tapi kau sudah terlalu lelah. Kita minum teh sebentar dulu ya." Ran pun mengajak Liona untuk minum teh bersama.


"Tapi bagaimana dengan--"


"Biar aku saja. Jangan khawatir."


Dia ... dia berlaku lembut padaku?


Ran meminta Liona untuk menyudahi kegiatannya. Ia tidak ingin Liona kelelahan karena sudah dua jam membantunya. Dan kini Ran mengajak Liona untuk mengeteh bersama di teras ruangannya. Ran yang membuatkan teh itu sendiri untuk Liona. Keduanya kemudian duduk sambil memandangi bulan yang jauh di sana.


"Ini ... ini pertama kalinya bagiku minum teh bersama seorang gadis." Ran membuka pembicaraan seraya menatap Liona dan bulan bergantian.


"Bukankah selama ini kau suka tebar pesona?" Liona mematahkan ucapan Ran.


"Ah, ya." Ran tertawa. Ia tampak malu sendiri. "Mungkin terlihat seperti itu di mata kebanyakan orang. Tapi aku hanya sekedar bercanda." Ran menuturkan.


Liona mengernyitkan dahinya di samping Ran. "Kau hanya bercanda? Tapi bagaimana dengan gadis yang kau ajak bercanda? Apakah kau pernah memikirkan perasaannya?" tanya Liona ke Ran.


Ran tampak malu hati. Ia menundukkan wajahnya di samping Liona. "Aku bosan. Setiap hari hanya bergelut dengan senjata dan juga keamanan istana. Aku juga ingin mempunyai pasangan seperti kebanyakan orang. Tapi ibu selalu melarangku. Ibu mempunyai kriteria tinggi untuk pasanganku." Ran menceritakan.


"Lalu apakah kau yakin dengan permintaan ratu pertama jika sudah tahu ibumu seperti itu?" tanya Liona kembali.


Ran menelan ludahnya. Ia menatap kekejauhan yang ada di sana. Ia kemudian tersenyum lalu beralih ke Liona.


"Ibu suri yang memintaku langsung. Aku anggap hal ini sebagai perintah untukku. Selebihnya aku akan mencoba menjadi diriku," tutur Ran.


"Apa maksudnya?" tanya Liona kembali.