
Sore harinya...
Harum semak mawar di halaman depan istana menemani Ran yang sedang duduk berbincang bersama raja. Tampak Raja Rus yang meneguk tehnya di gazebo istana. Ia akan membicarakan sesuatu yang penting kepada Ran sore ini. Yang mana berkaitan dengan ibu angkat Ran sendiri, Blonde.
"Kita semua sudah mendengar pengakuan ibumu, Ran. Dan aku sebagai raja tidak bisa hanya diam. Saksi bukan hanya dirimu sendiri." Raja memulai pembicaraannya.
Tampak Ran yang menunduk lemas di samping sang raja. "Aku ... aku tidak tahu harus berkata apa, Yah." Ran pun tidak tahu harus bagaimana.
Raja mengangguk. Ia mengerti bagaimana suasana hati putra angkatnya. Sejak kecil Ran tinggal di istana. Raja pun sudah menganggap Ran seperti anak sendiri. Tapi, raja juga harus tetap berlaku adil untuk menjaga wibawanya. Sekalipun terhadap istri sendiri ataupun putranya.
Raja menghela napasnya. "Kejadian ini sungguh tak terduga sekali. Kesalahan yang dilakukan ibumu sungguh sangat besar. Aku tidak bisa diam saja. Hukuman teringan adalah dipenjara seumur hidup karena telah mencoba mencelakai ratu. Dan hukuman terberat adalah mati di tiang gantungan." Raja menuturkan.
Sontak Ran memohon kepada ayah angkatnya. Ia segera berlutut di hadapan sang raja. "Ayah, kumohon. Tolong peringan hukuman ibu. Aku tidak tega melihatnya di penjara apalagi mati di tiang gantungan. Aku ingin ibu hidup bahagia tanpa kesakitan, Yah." Ran meminta dengan linangan air mata yang ingin tumpah.
"Bangunlah, Nak." Raja pun tampak kasihan. "Aku akan membicarakan hal ini kepada para pejabat tinggi istana. Sebisa mungkin aku akan memberikan pengampunan. Tentunya atas persetujuan semua dewan istana. Saat ini yang kupinta darimu adalah tetap menjaga keamanan kerajaan dengan baik. Tamu kerajaan masih berada di istana. Jadi aku harap kau tidak lengah sedikitpun. Karena apapun bisa terjadi." Raja berpesan.
"Kalau begitu. Pergilah menenangkan diri untuk sementara waktu. Ibumu juga belum tersadar dari pingsannya. Kau bisa menemani ibumu ataupun mencari udara segar. Tapi setelah itu kembalilah sebagai seorang panglima dan orang kepercayaan raja." Raja menuturkan kembali.
Ran beranjak bangun. Ia membungkuk. "Aku mohon kesediaan Ayah untuk mengampuni ibu. Aku siap bekerja sampai akhir hayatku untuk kerajaan ini. Tapi tolong ringankan hukuman ibu." Ran memohon dengan sebenar-benarnya permohonan.
Raja mengiyakan. Ran pun berpamitan dari hadapan raja. Ia akan pergi ke belakang istana untuk menenangkan pikiran. Ran merasa sedih dan kecewa dengan pengakuan ibunya. Tapi kehidupan itu akan terus berjalan. Mau tak mau ia harus menerima kenyataan.
Ibu, maafkan aku yang tidak bisa sepenuhnya membelamu. Aku cukup tahu diri dengan siapa diriku ini. Sekalipun panglima di istana, tetap saja aku bukanlah putra kandung dari ayah raja. Aku harus bisa menjaga sikapku di depannya. Maafkan aku, Ibu. Tapi aku harap ayah akan meringankan hukuman untukmu. Tetaplah bersemangat sekalipun badai yang didapat.
Dan begitulah yang Ran ucapkan di dalam hatinya. Ia pun segera melangkah, meninggalkan raja menuju halaman belakang istana. Ran menerima kenyataan atas pengakuan ibunya. Ia pun berharap sang ayah angkat dapat memaafkannya. Sehingga Ran bisa meneruskan baktinya.
Lantas apakah Blonde akan selamat dari rapat penjatuhan hukuman? Lalu bagaimana tanggapan ratu pertama saat mendengar hukuman yang dijatuhkan ke Blonde?