
Satu minggu kemudian...
Isak tangis pasti mengiringi setiap roda kehidupan. Tak terkecuali Ran maupun Liona sendiri. Ran yang baru saja kehilangan ibunya. Dan Liona yang baru saja ditinggal Han. Kedua anak manusia itu melewati hari-hari yang menyedihkan di istana. Dan kini keduanya mencoba bangkit dari keterpurukan.
"Liona, Ran, sebenarnya ada yang ingin kami bicarakan pada kalian."
Ruang keluarga istana menjadi saksi Ran dan Liona yang didudukkan bersama. Raja pun tampak berada di sana. Sedang Ratu Nia membuka pembicaraan di tengah meraka. Tampak Ran dan Liona yang tertunduk di depan raja dan ratu Rusmania.
"Silakan, Ibu." Ran pun berbicara seperti itu kepada ibu ratu.
Ratu memulai pembicaraannya. "Pangeran Ran, aku sudah menganggapmu sebagai anakku. Dan kau Liona, seperti anak kandungku sendiri. Aku ingin kalian bersama dalam ikatan pernikahan yang suci. Secepatnya pesta pernikahan itu akan segera diselenggarakan. Apakah kalian keberatan?" tanya Ratu Nia ke Liona dan Ran.
Sontak Liona tersentak, begitu juga dengan Ran. Tapi Ratu Nia memang pernah bilang sebelumnya jika ingin menikahkan mereka. Maka hari ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakan kesiapan Liona dan Ran.
"Ibu, sejujurnya ... aku masih berduka. Aku khawatir tidak bisa menjadi suami yang baik." Ran menuturkan apa yang ada di pikirannya.
Ratu tersenyum. "Pangeran Ran, kita semua tahu kau sedang berduka. Tapi, apakah kau ingin terlarut dalam kedukaanmu? Kau tidak ingin bahagia dengan berumah tangga? Semangatmu akan berkobar bilamana telah mempunyai seorang istri dan putra. Aku yakin kesedihanmu akan hilang seiring dengan waktunya. Bukankah kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" tanya Ratu Nia.
"Aku menerima titah Ibu." Pada akhirnya Ran pun menyetujuinya.
Ratu tersenyum. "Bagaimana denganmu, Liona?" tanya ratu ke Liona.
Liona menelan ludahnya. "Saya ... saya masih belum siap menjadi seorang istri, Yang Mulia. Saya masih ingin menggapai cita-cita sebagai seorang tabib istana," jawab Liona sambil berlutut di depan raja dan ratu.
Ratu Nia menghela napasnya. "Aku menikah dengan baginda pada usia lima belas tahun. Dan saat itu tidak ada rasa cinta sama sekali padanya. Lima tahun pertama juga terasa sulit bagi kami. Tapi akhirnya semua bisa terlewati. Dan pada akhirnya aku mengandung seorang putri. Buah cinta kami yang pertama." Ratu Nia mengingat masa lalunya.
Liona terdiam. Tidak berani bicara.
"Saranku, cobalah lebih dulu. Walaupun pernikahan bukan untuk dicoba-coba, tapi yakinlah kebahagiaan sejati itu akan kalian dapatkan. Bukankah dua batang bambu lebih susah untuk dipatahkan?" Ratu membujuk Liona.
Liona menunduk sedih di hadapan raja dan ratu. Ratu pun tampak mengerti keinginan besar Liona. "Sebagai hadiah pernikahan, aku akan mengangkatmu sebagai kepala tabib istana. Kau tetap bisa menjadi tabib setelah menikah. Bagaimana, Liona?" tanya ratu kemudian.
Saat mendengarnya, saat itu juga hati Liona merasa senang. Karena setelah menikah, ia ternyata masih bisa menjadi seorang tabib istana. Semburat senyum pun mulai terlukis di wajahnya. Karena impiannya masih bisa tetap diraih sekalipun sudah menjadi seorang istri. Sementara Ran tampak memerhatikan Liona dari sisinya. Ia menantikan jawaban Liona.