LIONA

LIONA
Menunggu



Lantas bagaimana jika semua bukti sudah terkumpul? Akankah terjadi perlawanan besar di istana?


Sementara itu...


Rerumputan hijau yang meninggi menjadi saksi Han yang terus berkonsentrasi di bawah sebuah pohon besar yang ada di sana. Hari ini adalah hari pertamanya bertapa di puncak bukit bunga kristal. Ia berniat keluar perbatasan hutan dengan aman. Karena kelopak bunga kristal tidak ada, ia pun harus mencari alternatif lain untuk bertemu Liona. Dan hari ini ia memulainya.


Sebagai seekor serigala, Han tidak bisa keluar perbatasan hutan tanpa bantuan keajaiban bunga kristal. Namun sayang, bunga itu hanya tumbuh satu tahun sekali yang membuat Han kesulitan untuk keluar dari perbatasan. Pada akhirnya sang ayah, raja serigala tidak tega melihat putranya memendam kerinduan. Ia pun mencarikan cara agar Han dapat bertemu Liona. Dan kini Han mulai mencobanya. Hari pertama sudah berjalan.


Masih belum ada tanda-tanda akan datang.


Han pun terus menunggu pertanda di sana, sesuai dengan apa yang penjaga bukit katakan. Han akan bertemu dengan sosok yang bisa membuatnya menjadi manusia. Tapi sayang, sampai saat ini belum ada tanda-tanda kehadirannya. Han pun akan terus menunggunya.


Lain Han lain juga dengan Ran. Panglima istana yang merupakan anak angkat dari Ratu Blonde itu tampak sedang dimarahi habis-habisan. Ratu Blonde tidak terima dengan sikap Ran yang membuatnya malu. Terlebih di hadapan Ratu Nia yang ia anggap sebagai saingannya.


"Semua kacau! Semua kacau! Kau membuat ibu malu, Ran!" Ratu Blonde tampak frustrasi.


"Ibu." Ran pun merasa bersalah kepada ibunya.


"Kau tidak tahu siapa gadis itu? Dia itu tabib yang telah menghancurkan semua rencana ibu!" Blonde menuturkan.


Sontak Blonde tersadar jika telah keceplosan. Ia pun segera mengalihkan perhatian Ran. "Mulai hari ini jangan pernah dekati lagi gadis itu. Kau mengerti?!" tanya Blonde dengan tegas.


"Tapi, Bu. Aku--"


"Tak ada tapi, Ran. Ibu dan Nia tidak bisa disatukan. Apalagi dirimu dan gadis itu. Maka berkacalah sebelum mendekatinya. Ibu tidak ingin mendengar semua hal tentang gadis itu lagi." Blonde menegaskan.


Terlihat raut wajah Ran yang sedih akan perkataan ibunya. Yang mana ia tidak lagi boleh mendekati Liona. Sedang Ran sendiri tidak dapat membohongi hatinya jika ia tertarik kepada Liona. Ran pun dilema menghadapi keputusan ibunya.


Liona, mungkin tadi adalah interaksi terakhir kita.


Ran pun mencoba menepiskan perasaan di hatinya. Sedang sang ibu segera bergegas meninggalkannya. Blonde tidak ingin Ran dekat-dekat dengan Liona. Ia memberi peringatan keras kepada anaknya. Dan Ran hanya bisa menurutinya. Pagi ini ia melepaskan perasaannya.


Siang harinya...


Semilir angin siang mengantarkan Ran menuju taman depan istana untuk bertemu dengan seorang utusan dari negeri lain. Tampak Ran yang berjalan didampingi beberapa prajuritnya. Ia pun melewati koridor istana. Tapi di saat bersamaan, ia melihat Liona tengah memetik bunga di taman depan istana. Sontak Ran pun menghentikan langkah kakinya.


Gadis bergaun pink tersebut tampak ditemani beberapa pelayan yang sedang mengambil bunga-bunga mawar di taman istana. Ran pun menelan ludah dengan perasaan sesak di dada. Ia tidak lagi bisa bersapa dengan Liona. Sang ibu telah melarangnya. Sedang hatinya tidak bisa menerima karena Liona telah mencurinya.