
Selang lima menit kemudian, Liona pun berniat kembali ke kamarnya. Namun, ia melihat kembali seperti ada seseorang yang berada di teras kediaman ratu. Liona pun berpikir cepat mengenai hal ini. Ia diam-diam mengintipnya dari balik kaca jendela. Dan ternyata sosok itu dikenal olehnya.
Han?!
Saat itu juga Liona terkejut kala menyadari Han lah yang ada di sana. Liona pun ingin lebih memastikannya. Ia membuka tirai jendela.
Liona mengetuk-ngetuk jendela. Sosok yang memang benar adalah Han itu kemudian berbalik ke arahnya. Dan saat itu juga jantung Liona berdetak keras seketika. Ia tak menyangka jika Han sudah berada di istana.
"Han!" Liona pun membukakan pintunya.
Han memerhatikan Liona. Semburat senyum itu terlukis di wajahnya. Liona pun celingak-celinguk untuk memastikan keadaan aman di sekelilingnya.
"Han, kaukah ini?" Liona memastikan kembali.
Han tampak terharu. Ia menahan air matanya. "Liona, aku sengaja menunggumu di sini." Han mengatakannya.
Liona juga ikut terharu. Tapi ia segera teringat jika sedang berada di kediaman Ratu. Liona kemudian meminta Han untuk melakukan sesuatu.
"Kemari, ke sudut saja agar tidak terdengar yang lain." Liona meminta segera kepada Han.
Han pun mengangguk. Keduanya kemudian berbicara di sudut teras agar tidak ada yang melihatnya. Saat itu juga raut wajah Han berubah seketika. Ia merasa bahagia karena dapat bertemu kembali dengan Liona.
Esok harinya...
Pagi-pagi Liona terbangun lalu segera membuatkan ramuan untuk Ratu. Ratu pun tampak baru saja terbangun saat mentari terbit di ufuk timur. Liona yang sedari tadi menunggu, kemudian segera menghadap ratu. Ia ingin menuturkan permintaannya kepada ratu.
"Yang Mulia, saya sudah buatkan ramuan untuk diminum pagi ini."
Begitulah yang Liona katakan kepada Ratu Nia. Ratu Nia pun mengangguk lalu lekas ke kamar mandi. Ia berniat menyegarkan diri sebelum melanjutkan aktivitas hari ini. Sedang Liona menunggunya kembali.
Begitulah kata hati Liona setelah semalam bicara bersama Han. Liona pun segera bertindak agar Han dapat tinggal di istana dengan aman. Ia menunggu ratu selesai mandi telebih dahulu. Setelah itu ia baru akan menuturkan tujuannya. Karena Liona tahu tidak mungkin bagi Han tinggal di istana tanpa izin resmi. Liona pun menunggu ratu selesai mandi.
Sepuluh menit kemudian...
Ratu baru saja selesai mandi. Dan kini ia sedang mengenakan gaunnya dengan dibantu oleh Liona. Liona pun tampak cepat membantu ratu. Sehingga membuat ratu bertanya-tanya sendiri, mengapa Liona seperti itu?
"Liona?"
"Ya, Yang Mulia?"
"Kau terlihat terburu-buru hari ini. Ada apa?" tanya ratu segera.
"Em ...," Liona terdiam sejenak. Ia tampak berpikir agar dapat mengatakannya dengan baik sehingga bisa mendapatkan izin. "Begini, Yang Mulia. Saya ... saya ingin minta izin," kata Liona kepada ratu.
"Izin?" Ratu pun tampak bingung.
Liona mengangguk. "Benar, Yang Mulia. Saya mendapat kabar jika kakak sudah datang tapi tertahan di pintu belakang istana. Dia ingin menjemput saya pulang. Bolehkah ... bolehkah dia tinggal di sini sementara waktu? Perjalanan sangat panjang dilaluinya." Liona berhati-hati bicara.
Ratu tampak mengerti. "Jadi itu alasannya. Lalu di mana sekarang kakakmu?" tanya ratu lagi yang entah mengapa membuat ia berkecil hati."
"Dia ... dia di depan gerbang istana," jawab Liona sambil berpikir keras agar ratu tidak mencurigainya.
"Hm, baiklah." Ratu pun terlihat menerima perkataan Liona. "Jemput saja dirinya lalu minta untuk menghadapku." Ratu akhirnya mengizinkannya.
Saat itu juga Liona senang seketika. "Terima kasih, Yang Mulia."