LIONA

LIONA
Pertimbangan



Raja tampak menimbang hal ini.


"Yang Mulia, tolong kasihani pangeran Ran. Dia begitu kehilangan semangatnya." Liona ikut membantu bicara pada raja.


Raja tampak menghela napasnya. Sejujurnya ia masih merasa kesal dengan pengakuan Blonde yang telah menggunakan sihir untuk memikat hatinya. Tapi di lain sisi ia juga harus bijaksana saat sang ratu ingin menggunakan hak kuasa. Raja pun akhirnya mengizinkannya.


"Baiklah. Aku akan memberimu hak kuasa atas hukuman yang dijatuhkan ke Blonde. Berapa tahun keringanan yang akan kau berikan padanya?" tanya raja ke Ratu Nia.


Ratu Nia tampak senang mendengarnya. "Jika dia dijatuhi hukuman selama sepuluh tahun penjara, maka aku akan memberi keringanan lima tahun untuknya. Aku gunakan kuasaku untuk menolongnya," tutur Ratu Nia.


Raja memandangi ratunya. "Aku jadi merasa bersalah padamu. Selama ini aku begitu dibutakan olehnya. Tapi sekarang aku sudah tahu siapa yang harus kubela." Raja merasa bersalah kepada ratu.


Ratu Nia tersenyum. "Anggap saja ini adalah pelajaran bagi kita kedepannya, Baginda. Jika lebih baik mempertahankan daripada harus mengulang. Karena yang ke dua belum tentu sebaik yang pertama. Bukan begitu, Liona?" Ratu beralih ke Liona.


"Eh?!"


Liona pun terkejut seketika. Ia memasang wajah polosnya di hadapan ratu dan raja. Sontak Ratu Nia maupun Raja Rus tertawa melihat kepolosan Liona.


"Kau seperti putri kami, Liona." Baginda pun tersenyum melihat Liona.


Pipi Liona memerah. "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak tahu harus menjawab apa."


Liona yang duduk bersimpuh di lantai pun meminta maaf karena tidak bisa menanggapi ucapan Ratu Nia. Pada akhirnya gelak tawa tercipta di istana. Tentunya semua berkat Liona, putri yang terbuang dari istana. Lantas apakah kebenaran itu akan terbongkar secepatnya?


Sore harinya...


Jerit tangis Ran menggema ke seluruh sudut istana manakala menjelang petang ini ia mendapati kabar tak terduga dari ibunya. Blonde ditemukan tewas dalam sel penjara. Ratu ke dua Kerajaan Rusmania itu diduga bunuh diri dengan meminum racun yang didapatkan dari pengantar makanan. Sontak kabar ini membuat seluruh penghuni istana terkejut seketika.


"Blonde?!"


Raja Rus pun segera datang setelah selesai mengantarkan pulang para tamu kerajaan. Raja yang baru beristirahat sebentar itu segera ke ruang bawah tanah untuk mengecek lokasi kejadian. Dan ternyata benar, Blonde memang sudah tidak bernyawa.


Pada akhirnya kenyataan ini harus diterima Ran. Ia telah kehilangan ibunya. Kehilangan yang bukan hanya sekejap saja. Melainkan kehilangan selama-lamanya. Ran pun semakin terpuruk dalam kesedihan. Ia tidak tahu harus berbuat apa.


Esok harinya...


Tangis duka itu masih mewarnai istana. Ran pun mengurung diri di dalam kamarnya. Selepas pemakaman ibunya, ia segera pergi dan menutup kamar. Dan kini tidak ada seorang pun yang berani mengganggunya. Termasuk Liona sendiri.


Aku jadi merasa bersalah. Apakah hal yang aku lakukan ini salah?


Liona merasa bersalah atas kematian ratu ke dua negeri itu. Rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya karena telah membantu Ratu Nia menjalankan rencana. Tapi semua sudah terjadi dan tak patut untuk disesali. Liona pun hanya bisa memperbaiki dirinya.


"Liona." Tiba-tiba saja Han datang dan menegur Liona yang sedang duduk di pelataran teras belakang istana.


"Pangeran?" Liona pun segera menoleh ke arah Han.


Han memaksakan senyumnya. "Aku ingin berpamitan, Liona," kata Han, terus terang kepada Liona.