KING HAREM

KING HAREM
(REVISI) KOTA SEBELAH?



Perlombaan diadakan diarena yang di bangun di kota Vare, arenanya sangat besar dan menjadi salah satu arena terbesar kedua setelah arena di ibukota, wajar saja walikota Vare sangat kaya raya. Arena yang sangat besar itu mampu menampung ribuan orang dan juga tersebar sihir pelindung agar para penonton tidak terkena dampak dari pertarungan.


Setelah Akira mempersiapkan diri untuk perlombaan, Akira mengambil tanda pengenal dan nomer urut yang di bagikan pengurus perlombaan, Akira mendapat kan nomer urut 12 yang berarti dia akan bertarung di pertarungan ke 12 melawan peserta nomer urut 12 yang lain.


Sayangnya Akira kebagian nomer yang besar sehingga dirinya harus menunggu peserta lain selesai giliran. Tidak di


sangka pertarungan peserta lain sangat sengit sehingga satu pertarungan berlangsung sampai berjam-jam, bahkan pertarungan hari ini hanya sampai nomer 11.


“Mau sampai kapan harus nunggu begini, bosan banget~ udah cape-cape nungguin lama eh malah gk kebagian.” Keluh Yumi.


“Setidaknya hari ini tidak sia-sia kita menunggu, kita mendapatkan informasi tentang peserta lain iu bisa menjadi keuntungan kita juga.” Ucap Akira.


“Iya sih, tapi bosen banget tau pertarungan mereka tidak terlihat menegangkan sama sekali padahal kondisinya sangat sengit.” Jawab Yumi.


“Kalau kamu bosen, yasudah kita pulang saja sekarang kita kembali ke penginapan dulu, aku juga sudah lelah.” Ajak  Akira.


“Oke.” Jawab Yumi.


Dalam perjalan kembali menuju penginapan, Yumi melirik wajah Akira karena nafasnya yang terengah-engah dan wajah Akira yang penuh keringat.


"Kenapa orang lain yang bertarung kamu yang kelelahan?"tanya Yumi kepada Akira.


"Gak tau, mungkin karena pertarungannya terlalu membosankan sampai aku kelelahan karena bosan.” Jawab Akira.


“Kok bisa?” Yumi menunjukkan wajah herannya.


"Kira istirahat saja lebih awal, pertarunganmu besok pasti akan melelahkan kamu perlu banyak


stamina supaya bisa menang"ujar Yumi


Di malam hari merekapun sampai kembali di penginapan, setelah memesan kamar dan menaruh perlengkapan mereka berudua pergi mencari restoran. Di dalam restoran mereka memesan beberapa daging dan dua gelas air putih.


“Setelah makan mari kita persiapkan rencana untuk besok bagaimana?” ajak Yumi sambil mengunyah makanannya.


“Jangan berbicara padaku, habiskan makanan dimulutmu itu dulu.” Ujar Akira sambil mengunyah makanan juga.


Ditengah-tengah sedang menikmati makan mereka di hampiri seseorang yang tidak mereka kenal.


“Halo~ kamu yang dapet nomer urut ke 12 itukan?” tanyanya.


“Siapa kamu?” tanya Yumi masih sambil mengunyah makanannya.


“Aw~ tidak sopan sekali, habiskan dulu makananmu baru jawab pertanyaanku.”


Beris- Tiba-tiba Akira menghentikan Yumi yang mau marah.


"Ya..aku mendapatkan nomer ke 12 apa ada masalah?" jawab Akira dengan sopan.


Orang ini bukan sembarangan orang, dari nada berbicaranya yang merendahkan dan jubahnya yang bagus dia pasti seorang bangsawan, tidak ada untungnya terlibat dengan bangsawan untuk saat ini.


"Aku cukupbaik mau mengunjungi rakyat miskin seperti kalian, aku punya saran kepadamu sebagai bangsawan yang baik sebaiknya kau menyerah saja aku tidak ingin melukai warga tidak bersalah."


Ha? Beliau ini koca- “Apa alasannya? kenapa aku harus menyerah.” lagi-lagi omongan Yumi di potong oleh Akira.


“Itu sudah jelas karena kamu akan melawanku nanti, tidak mungkin kamu bisa mengalahkan aku yang seorang kesatria muda terkenal.” ucapnya sombong


Yumi yang mendengarkannya merasa sangat kesal "Siapa pemenangnya akan di tentukan nanti bukan sekarang!"


"Yasudah kalau begitu terserah kamu saja, jangan sampai mempermalukan dirimu sendiri nanti."ucapnya sampai berjalan pergi.


Akira hanya diam saja tidak menghiraukannya sama sekali.


"Akira! kenapa kamu engak marah sama bangsawan sombong tadi sih aku kan jadi ikut kesel."Ucap Yumi kesal.


Akira menghela nafas. "Marah tidak akan menyelesaikan masalah, lebih baik kita buktikan langsung di pertarungan nanti akan aku tunjukkan siapa yang lebih kuat."


***


Keesokan harinya, jadwal pertandingan Akira akhirnya dimulai. Sesaat sebelum pertandingan seseorang diundang oleh panitia untuk hadir di tengah arena.


Panitia tersebut meneriaki nama seseorang, beberapa penonton seakan terkejut mendengar namanya muncul di perlombaan ini. Akira tidak begitu peduli dengannya, dia melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum bertanding.


Dengan wajah sombong dan penuh percaya diri bangsawan tersebut menaiki Arena sambil di soraki oleh penonton


dengan meriah, itu terlihat jelas mukannya benar-benar menunjukkan kesombongannya


Sementara itu di bangku penonton, mereka saling bertanya-tanya tentang identitasbangsawan itu.


"Hei...apa kamu tau siapa bangsawan itu?"


"Apa! serius kamu gak tau? Dia seorang anak bangsawan dari kota sebelah, keluarganya telah menghasilkan kesatria berbakat selama bertahun-tahun, aku cukup kasian dengan yang menjadi lawannya hari ini bangsawan itu sudah di pastikan akan menang."


“Kota sebelah itu kota apa? disini kan banyak sekali kota yang berdekatan.”


“Gak tau.”


“Lah terus kamu tau darimana tentang identitasnya?”


“Aku ini orang dari kota yang jauh dari sini, mana aku tau tentang


kota-kota disekitar sini, seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu gk tau


tentang identitasnya padahal kamu tinggal disini.


Setelah bangsawan itu berbicara beberapa perkataan yang tidak penting


sampai penontonpun gabut dan bosan mendengar cekcoknya akhirnya pertandingan di


lanjutkan kembali Akira di persilahkan untuk menaiki Arena.


“Huh~ aku merasa kasian padamu lawanmu hari ini sangat kuat aku berharap Dewi


Fortuna berada di pihakmu hari ini.” Ucap seorang petugas kepada Akira.


“Hah??”


Akira menaiki Arena, respon para penonton berbeda-beda ada yang merasa kasian ada juga yang mencacinya, Akira sendiri tidak begitu peduli dengan ucapan para penonton.


“Bukannya udah aku suruh kamu untuk tidak datang kemari, padahal aku sudah baik-baik memperingatimu kemarin.” Ucapnya dengan nada yang sombong.


“Kamu sangat percaya diri ya? Padahal pertarungannya saja belum dimulai yakin banget kah bakal menang?” ucap Akira membalas provokasi dari bangsawan itu.


"Ternyata hanya orang biasa, dilihat dari penampilannya saja dia bukan orang yang hebat.”


“Tapi keberaniannya patut dipuji sih, dia berani mencoba dari pada kabur ketakutan.”


"Sebaiknya kau keluar saja jangan sampai mempermalukan dirimu sendiri hahaha."


Di atas merupakan contoh beberapa percakapan tidak penting dari para penonton.


Akira tetap tenang dan tidak mendengarkan cemoohan dari para penonton.


“Kamu dengarkan, para penonton saja dapat menilai hasil pertandingan ini.” Ucap bangsawan.


"Apapun yang mereka katakan aku tidak peduli, berhenti berbicara dan bersiaplah bertarung denganku, aku harap aku yang lemah ini bisa menjadi lawan yang akan mengalahkanmu.” Ucap Akira sambil menyiapkan kuda-kudanya.


“Hah~ ngeyel banget, yasudahlah jangan menyesal bila kamu akan kalah dengan sangat memalukan.”


Pertandinganpun dimulai.