KING HAREM

KING HAREM
Pelarian



Mendengar kabar Prinz Mirage akan datang ke Mansion bersama pasukannya, Austin segera menyuruh pelayannya untuk segera bersiap-siap.


"Segera panggil prajurit yang kita miliki dan siapkan kereta kuda." perintah Austin kepada pelayannya.


"Baik." jawab pelayan.


Pelayan tersebut menutup pintu lalu kembali.


"Huh..aku sudah menduga ini, Prinz mirage adalah orang yang sombong dan terlalu percaya diri, dia tau bahwa keluarga Ornelas tidak berani melawan Gereja, makanya dia berani datang kemari membawa pasukannya." ucap Austin.


"Kalau mereka sampai datang kemari berarti,mereka pasti ingin merebut Artefak dewa." ucap Yumi


"Aku juga berfikir seperti itu ,Tapi dari mana dia tau kalau kita yang memilikinya ?, dari kemarin malam aku sudah mencoba sebaik mungkin untuk menutupi identitas kalian,seharusnya tidak akan mudah menemukannya secepat ini." ucap Carla kebingungan.


Mereka pun berfikir sejenak.


"Apa mungkin ada penghianat di antara petugas-petugas lelang?" tanya Yumi kepada Carla.


"Seharusnya tidak mungkin, aku selalu ketat dalam memperhatikan petugas-petugas lelang, mulai dari latar belakang mereka dan lainnya aku selalu memeriksanya sebelum menjadikannya petugas lelang." jawab Carla.


"Aku tebak mereka juga tidak tau identitas kita, mereka mungkin datang kemari untuk menanyakannya." ucap Akira.


"Tapi tetap saja mereka sudah datang kemari, mereka pasti akan memaksa kita untuk memberitahukannya." ucap Fira.


"Percuma kita memikirkan nya,untuk saat ini lebih baik kita bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk,aku sudah menyuruh pelayan menyiapkan kereta kuda untuk kalian kabur jika terjadi sesuatu yang tidak bisa aku kendalikan." ucap Austin.


"Ayahku benar lebih baik bersiap-siap, aku akan mengantar kalian ke tempat kereta kuda, jika terjadi sesuatu kalian bisa langsung pergi." ucap Carla.


"Baiklah aku akan mengikuti kamu." ucap Akira.


Di saat mereka baru saja berdiri, Austin yang sedang melihat keluar jendela tiba-tiba berubah pikiran.


"Tidak, lebih baik kalian pergi sekarang.." tegas Austin.


"Eh..ada apa ayah? kenapa ayah tiba-tiba berubah pikiran?." tanya Carla kepada sang ayah.


"Situasi saat ini benar-benar di luar kendali." jawab Austin sambil melihat keluar jendela.


Mereka semua penasaran dengan apa yang membuat Austin tiba-tiba berubah pikiran,karena penasaran merekapun ikut melihat keluar jendela.


Mereka melihat ada enam orang berjubah putih, dan satu berjubah putih keemasan sedang menunggu di luar gerbang.


"Aku yakin,orang yang mengenakan jubah putih keemasan pasti Prinz Mirage lalu yang berjubah putih pasti antek-antek dari gereja." ucap Carla.


"Tapi mereka hanya membawa beberapa orang saja, aku pikir mereka akan membawa puluhan prajurit nya kemari." ucap yumi.


"Kalau begitu apakah mereka tidak berniat untuk memaksa kita?." tanya Fira


"Tidak, aku merasakan ada yang aneh dari mereka." ucap Akira.


"Aku merasakan ada yang aneh dari mereka, aura yang mereka pancar kan bukan milik seorang manusia biasa." ucap Akira.


"Benar, aura yang mereka pancar kan sama persis dengan aura yang pernah aku rasakan saat sedang berada di tempatnya Ketua gereja." ucap Austin.


"Apa jangan-jangan mereka adalah manusia hasil eksperimen !" tegas Akira.


Mereka semua terkejut mendengar tentang manusia buatan.


"Apa!, tidak mungkin kan eksperimen mereka berhasil." ucap Fira.


"Tebakan kamu benar mereka bukanlah manusia biasa, mereka adalah manusia yang telah di modifikasi oleh ketua gereja." ucap Austin


"Apa kau tau seberapa kuat manusia modifikasi?." tanya akira kepada Austin.


"Aku tidak tau, tapi aku yakin mereka sangat kuat." jawab Austin.


"Baiklah, kita tidak punya banyak waktu lagi sekarang kalian harus segera pergi dari sini, sisanya biar aku saja yang mengurusnya." tegas Austin.


"Baik ayah, aku akan segera kembali setelah mengantarkan mereka." ucap Carla kepada ayahnya.


"Tidak, Carla lebih baik kau juga ikut bersama mereka semua." ucap Austin.


Carla pun terkejut mendengar perkataan ayahnya.


"Tapi ayah,tidak mungkin aku bisa meninggalkan ayah sendirian menghadapi mereka,bagaimana jika terjadi sesuatu." ucap Carla.


"Tidak perlu khawatir, ayah yakin mereka tidak akan berani melakukan apapun kepadaku dan juga aku yakin kerajaan sudah mengetahui kalau mereka datang kemari, apalagi mereka membawa manusia buatan ke sini secara diam-diam mereka pasti tidak ingin informasi tentang manusia buatan terbongkar." ucap Austin.


"Tapi tetap saja aku tidak bisa meninggalkan ayah sendirian sementara aku pergi dengan mereka." ucap Carla.


Carla terus membuat berbagai alasan agar dirinya bisa tinggal bersama ayahnya.


"Aku tidak mengusirmu Carla,ini adalah tugas untukmu, pergilah ke kerajaan Silverhoald dan datangi gereja disana, mereka adalah satu-satu nya gereja yang masih memiliki kesucian di hati para pengikutnya dan juga di sana sebenarnya  tempat ibumu selama ini berada berada." ucap Austin.


Ekspresi yang di tunjukkan oleh Carla setelah mendengar ibunya tidak dapat di jelaskan, seolah-olah perasaan tersebut kacau dan campur aduk.


"I..ibu."


"Duakk.." suara benturan pintu


Lagi-lagi pelayan masuk dengan tergesa-gesa.


"Gawat kami tidak bisa menahannya lebih lama lagi, mereka sebentar lagi akan masuk kemari." tegas pelayan.


"Persilahkan mereka masuk, aku sendiri yang akan menyambut mereka,kalian segera lah pergi tujuan kalian ke kerajaan SIlverhoald datangi gereja disana kalian akan menemukan petunjuk tentang Katedral dan gereja suci, dan bawalah artefak dewa itu mungkin gereja di sana dapat membantu menyimpannya" ucap Austin.


Austin pergi menyambut mereka di luar,sementara yang lainnya pergi melalui jalan rahasia.