KING HAREM

KING HAREM
Pelarian (2)



Akira dan teman-temannya bergegas pergi ke belakang Mansion untuk pergi melarikan diri sekaligus pergi ke kerajaan Silverhoald.


"Kita harus cepat, sebelum mereka menyadarinya." ucap Carla


Akira dan teman-temannya terus berlari ke belakang Mansion.


Sesampainya di belakang Mansion sudah ada kereta kuda yang memiliki kekuatan sihir, bersama dengan pelayan yang bertugas mengendarai nya.


"Ayo cepat naik sebelum mereka menyadarinya." tegas Carla terburu-buru.


Mereka semua pun menaiki kereta kuda tersebut lalu bergegas pergi dari kerajaan Silva.


"Huh..semoga saja mereka tidak menyadarinya." ucap Akira lega setelah menaiki kereta kuda.


"Tidak,aku yakin tidak lama lagi mereka pasti akan menyadarinya, pokoknya sebelum kita keluar dari kerajaan ini kita tidak akan pernah aman." ucap Carla.


"Eh tapi bagaimana dengan rumah kita dan juga urusan kita dengan keluarga Lafis?, aku lupa membawa barang-barang ku!,aduh bagaimana ini padahal kita sedang terburu-buru," Fira kepanikan karena barang bawaannya tertinggal di rumah mereka.


"Ah..! aku juga lupa membawa dagger aku." kata Rika.


Rika dan Fira menatap Carla.


"Hah.. "Carla menghela nafas. "kalau begitu kita putar balik dulu, pastikan jangan terlalu lama." ucap Carla.


"Baik." balas Rika dan Fira.


"Pelayan putar balik arah kereta,kita akan pergi ke rumah mereka sebentar." Perintah Carla kepada pelayannya.


"Baik nona" jawab pelayan.


Pelayan tersebut pun membalikkan arah kereta kembali menuju rumah.


"Oh..iya bagaimana dengan keluarga Lafis? kau sudah setuju bukan untuk membantunya?" tanya Akira kepada Carla


"Tenang saja aku pasti akan menepati janji aku,semalam aku sudah membicarakan dengan ayahku tentang masalah ini dan ayahku setuju akan membantu keluarga Lafis." ucap Carla.


"Syukurlah aku berhasil menepati janjiku,terima kasih Carla." ucap Akira kepada Carla.


Butuh beberapa menit untuk sampai di rumah.


"Cepat ambil barang-barang kalian,aku akan menunggu disini." ucap Carla.


Mereka pun mengambil barang bawaan mereka yang telah mereka beli dan barang-barang yang mereka bawa sejak pertama kali bertemu Akira.


"Sudah siap aku telah membawa barang-barangnya, aku juga mengambil beberapa barang yang menurutku akan berguna." ucap Fira.


"Bagus sekali Fira." ucap Akira sambil mengacungkan jempolnya.


"Haha tidak seberapa." balasnya.


"Sudah cukup basa-basi nya,hadeh kenapa kalian terlihat begitu senang hanya karena masalah sepele." ucap Carla.


Mereka melanjutkan pelarian mereka melewati jalur umum,di jalur tersebut banyak sekali kereta kuda lain yang sedang berkendara, kereta kuda yang di tunggangi Akira dan teman-temannya pun melambat.


Membutuhkan waktu 1 jam untuk berhasil keluar dari kerajaan melewati jalur umum.


"Akhirnya, kita berhasil keluar dari kerajaan." ucap Yumi lega.


"Setidaknya kita aman untuk saat ini." ucap Carla.


Fira yang sedang melihat keluar jendela untuk berjaga-jaga, menyadari kalau jalan yang mereka lewati berbeda dengan jalan yang mereka lewati saat pertama kali datang ke kerajaan Silva.


"Ini jalan yang benar bukan?" tanya Fira."Setahu aku untuk pergi ke kerajaan Silverhoald kita haru melewati jalan menuju Spring town terlebih dahulu." ungkap Fira.


"Tapi untuk apa membuat jalan rahasia seperti ini apa keluarga kalian juga berbisnis gelap?.(perbudakan,artefak terkutuk dan lain-lain)" tanya Yumi penasaran.


"Tujuan pembuatan jalan rahasia ini agar tidak ada bandit yang menyergap kereta kuda kami saat sedang membawa barang-barang jualan kami,terkadang bukan hanya bandit yang muncul tapi orang-orang dari guild pembunuh juga ikut muncul bersama mereka." jawab Carla.


Mereka semua terus melanjutkan perjalanan mereka ke Kerajaan Silverhoald.


Sementara itu di Mansion keluarga Ornelas, Austin sedang mengobrol dengan Prinz Mirage.


Austin menyambut kedatangan Prinz Mirage. "Selamat datang di Mansionku" ucap Austin. "Ada keperluan apa sampai-sampai wakil gereja datang kemari?" tanya Austin kepada Prinz Mirage.


"Tidak usah basa-basi denganku, kau sudah tau apa yang kami inginkan bukan?" tanya Prinz.


"Aku tidak mengerti maksud perkataanmu menginginkan sesuatu." jawab Austin.


"Cih..aku tahu kau menyembunyikannya disini,serahkan artefak itu." ucap Prinz kesal.


"Oh.., maksudmu artefak dewa itu, bukankah kau juga tahu kalau artefak itu telah di beli oleh salah satu pelanggan VIP kami, jadi untuk apa kau datang meminta artefak itu kemari." ucap Austin.


"Kau pikir aku tidak tahu, kemarin aku merasakan energi suci yang di pancar kan artefak dewa itu jelas-jelas berada di sini,sekarang cepat berikan aku artefak itu, jika tidak kau tahu apa yang akan terjadi bukan." ucap Prinz mencoba mengancam Austin.


"Kalau begitu silahkan cari di seluruh mansion ini dan coba rasakan kembali energi suci itu apakan benar-benar ada sini." ucap Austin.


"Pak tua kau benar-benar mempermainkan kami sekarang." kesabaran Prinz telah habis.


"Cepat periksa lagi energi suci dari artefak itu !." perintah Prinz kepada bawahannya.


"Baik !"


Bawahan Prinz Mirage mengeluarkan sebuah benda yang berbentuk seperti kompas berwarna emas.


"Cepat periksa kompas nya." perintah Prinz kepada bawahnnya.


"Gawat energi yang di pancar kan dari Artefak dewa tersebut mulai menjauh dengan sangat cepat." ucapnya panik.


"Haha.. sepertinya kau telah." sindir Austin


"Hah.. apa kau pikir aku tidak tahu apa yang kau rencanakan  dasar pak tua licik." ucap Prinz kesal.


"Aku sudah menyuruh anak buahku menyergap mereka dijalan, sebentar lagi anak mu dan teman-teman akan segera kembali ke sini." ungkap Prinz.


"Jadi kau sudah tau, lalu apa kau tidak berpikir aku memiliki rencana aku sendiri untuk pelarian mereka." ucap Austin.


"Rencanamu? apa maksudmu jalan rahasia di dalam hutan itu?." ucap Prinz.


Austin terkejut mendengar ucapan Prinz yang mengetahui jalan rahasianya.


"Bagaimana kau tau?." Austin mulai berbicara dengan nada serius.


"Kau tidak perlu tau, yang perlu kau tau adalah sebentar lagi anak-anak kecil itu akan kembali kemari secepatnya,tapi...aku tidak bisa menjamin, apakah mereka masih hidup atau tidak sampai saat ini hahahaha." ucap Prinz.


"Siapa yang kau kirim untuk menyergap mereka? Guild pembunuh? bandit?" tanya Austin.


"Hmmm...bukan.. bukan...mereka hanyalah orang-orang bodoh." jawab Austin.


Suasana di dalam Mansion semakin memanas,Prinz terlihat sangat percaya diri dengan penyergapan itu, sementara Austin semakin khawatir dengan Carla dan teman-temannya.