KING HAREM

KING HAREM
Mansion Ornelas



Saat mereka memasuki Mansion di sepanjang jalan mereka melihat banyak sekali pelayan yang menyambut mereka.


"Kenapa banyak sekali pelayan disini?." tanya Akira.


"Di Mansion sebelah barat ini memang di peruntukan untuk para tamu, jadi ayahku menyiapkan banyak sekali pelayan jika sewaktu-waktu kedatangan tamu yang sangat banyak, lagi pula Mansion ini sangat besar akan sulit jika hanya memiliki sedikit pelayan yang mengurusnya." jawab Carla.


"Bagaimana dengan Mansion sebelah kiri?." tanya Akira.


"Kau pasti dapat menebak nya kan?, Mansion yang berada di sebelah kiri tentu saja tempat tinggal keluargaku." jawab Carla


"O...iya haha.. aku sudah tahu cuman iseng bertanya saja." ucap Akira tertawa malu.


Tidak lama kemudian mereka semua sampai di suatu ruangan.


"Masuklah, di dalam ada teman-teman kalian, aku juga sudah menyiapkan kamar tidur dan beberapa makanan, jika kalian membutuhkan sesuatu kalian bisa memintanya kepada pelayan di sini." ujar Carla.


"Terima kasih, maaf telah banyak merepotkan kamu hari ini." ucap Akira kepada Carla.


"Tidak masalah, besok kita akan membahasnya lagi tentang masalah ini." ujar Carla.


"Baiklah,selamat malam." ucap Akira.


"Selamat malam" balas Carla sambil berjalan pergi.


Setelah berpamitan dengan Carla mereka memasuki ruangan tersebut, di dalam Nina sudah tertidur lelap dan Rika masih menunggu sambil memakan camilan.


"Selamat datang kembali." sambut Rika.


"Kami pulang..." balas Yumi.


"Bagaimana lelang nya?, apa terjadi sesuatu ?." tanya Rika kepada mereka bertiga.


"Sebenarnya terjadi masalah yang cukup rumit di pelelangan, dan kita sekarang harus berurusan dengan orang-orang dari Katedral." jawab Akira.


"Aku sering mendengar gosip tentang mereka waktu di Spring Town, kalau tidak salah dengar mereka itu sering membeli budak dan sering membeli sesuatu yang mencurigakan di pasar gelap." ucap Rika dengan raut muka yang sangat serius.


"Benarkah?, mereka melakukan sesuatu seperti itu secara terang-terangan apa mereka tidak lagi mempedulikan opini orang-orang tentang mereka?." ucap Fira.


"Bukan seperti itu, dari yang aku dengar kalau mereka membeli budak untuk menjadikannya seorang pelayan untuk melayani gereja, jika budak tersebut menolak untuk menjadi pelayan, mereka akan di bebaskan dengan syarat harus menjadi salah satu penyembah para dewa." jelas Rika kepada Fira.


"Bagaimana dengan barang-barang yang mereka beli?." tanya Yumi kepada Rika.


"Mereka membeli barang-barang di pasar gelap untuk di suci kan lalu di jual kembali untuk penghasilan mereka, itu yang aku dengar saat masih di Spring Town." jawab Rika.


"Kalau tidak salah di Spring town tidak ada Gereja sama sekali kan?." tanya Akira kepada Rika.


"Iya, di kota Spring tidak ada gereja sama sekali, tapi karena pada dasarnya Spring Town itu kota perdagangan banyak sekali orang-orang dari gereja yang sering terlihat." ucap Rika.


"Apa kau tau kenapa orang-orang dari Katedral tidak membangun cabang di Spring town?." tanya Fira kepada Rika.


"Uhmmm..." Rika mencoba mengingat-ingat kembali "Kalau tidak salah sempat terjadi keributan di kota, karena Wali kota menolak pembangunan gereja, para pengikut gereja mencoba protes di kediaman Wali kota, tapi wali kota tidak menghiraukan nya sama sekali, setelah beberapa minggu para pengikut gereja tidak lagi protes di kediaman Wali kota." jawab Rika.


"Tapi...kenapa Wali kota menolak untuk-"


Tiba-tiba Nina yang sedang tertidur mengigau.


"Kue..kuee...nyam."


"Sepertinya kita mengganggu nya, sudah malam kita lanjutkan saja ini besok." ucap Fira.


"Baiklah, kalian pergi ke kamar, aku akan membawa Nina ke kamarnya." ucap Akira.


"Kalau begitu selamat malam."


Mereka semua pergi ke kamarnya masing-masing sedangkan Akira menggendong Nina ke kamarnya.