
Sementara itu di mansion Ornelas, Austin dan Prinz sedang minum teh di taman sambil menunggu kabar tentang Akira dan Carla.
"Tidak terasa langit sudah mulai gelap dan kita telah menghabiskan begitu banyak gelas, seharusnya sekarang mereka semua sudah tertangkap sekarang." ucap Prinz penuh percaya diri.
"Hahaha kau benar, sangat tidak terasa aku telah duduk bersamamu berjam-jam, tapi aku ingatkan sekali lagi jangan terlalu percaya diri mereka bukan anak-anak yang mudah kau tangkap begitu saja." balas Austin.
"Tidak mudah ya..." Prinz menghabiskan teh di cangkirnya lalu berdiri. "Bukannya kau yang terlalu percaya dengan mereka atau... ada sesuatu yang membuatmu sangat percaya diri?." tanya Prinz.
Austin tidak menjawab pertanyaan Prinz dan tetap melanjutkan meminum teh yang tersisisa di cangkirnya.
"Tebakan ku benar, kalau kau benar-benar khawatir dengan mereka kau sudah memanggil pasukanmu saat ini." ungkap Prinz.
"Membawa banyak pasukan tapi tidak membuat keributan dan hanya di jadikan pajangan tak berguna, apa kau sedang berusaha mengelabuhi Raja saat ini ?." ungkap Austin.
"Haha... kau memang pintar pak tua, jika Raja ingin datang kemari setidaknya dia harus berfikir 2 kali." ucap Prinz.
"Saat ini Raja tidak punya alasan yang cukup untuk mengusir kalian dari sini, mungkin sekarang mereka sedang menunggu kau menghancurkan mansionku baru mereka semua akan keluar seakan-akan mereka terlambat, kau tau itu sejak awal dan itu juga adalah rencamu benar kan ?." jelas austin.
"Tepat sekali, Raja memang orang yang bijak tapi dia orang yang pemilih, di bandingankan melawan gereja lebih baik melawan keluarga kalian, mungkin itulah yang di pikirkan Raja saat ini." ungkap Prinz
"Huhh...posisiku benar-benar tidak di untungkan saat ini,tapi jangan kira aku akan kalah denganmu, anak-anak itu pasti akan selamat."jelas Austin.
Di sisi lain pertarungan mereka berjalan sesuai rencana, sebagian pemburu berhasil di bunuh oleh Akira dan teman-temannya, sisanya terluka parah dan pergi melarikan diri, hanya tersisa 2 orang saja yang terlihat sangat misterius, menggunakan topeng dan pakaian yang berbeda dengan para pemburu lainnya.
"Apa kalian baik-baik saja?." tanya Akira.
"Kami baik-baik saja, mereka tidak sulit untuk di kalahkan." jawab Fira.
Akira merasa lega mendengar jawaban Fira.
"Untuk saat ini mending kita pikirkan cara untuk berurusan dengan mereka berdua." ucap Fira sambil menatap kedua orang misterius tersebut.
Ke dua orang tersebut tetap diam dan mengabaikan tatapan Fira.
"Kalau mereka hanya ingin menonton lebih baik kita tinggalkan saja lalu pergi dari sini." ucap Yumi.
"Tetapi mereka masih punya peledak di sekitar sini, aku takut mereka benar-benar akan meledakkan hutan ini." ucap Rika.
Yumi tanpa pikir panjang memprovokasi kedua orang tersebut. "Dasar pengecut turun kalian kalau berani!!, kalian cuma berani menonton dari atas sana dan tidak berani menghadapi kami !, apa orang-orang gereja memang sepenakut kalian." teriak Yumi memprovokasinya.
Siapa sangka ternyata salah satu dari mereka ternyata mudah sekali terprovokasi, teman di sebelahnya terlihat mencoba menghentikannya tapi tidak berhasil, salah satu dari mereka pun turun dan menunjukkan dirinya.
Aura yang kuat tiba-tiba menyelimuti sekitar. "Beraninya kalian para manusia!, menghina diriku yang agung ini." ucapnya kesal. "Kau fikir aku tidak menghapiri kalian karena takut?, kalau bukan karena perintah untuk membawa kalian hidup-hidup kalian sudah mati sekarang."
Aura yang dia keluarkan sangat kuat, Carla, Fira dan pelayan sangat tertekan dengan auranya bahkan sulit untuk bernafas.
"Sungguh tekanan yang sangat kuat sampai membuatku sulit untuk bernafas." ucap Fira.
"Bukankah kalian bilang kalau aku seorang pengecut?, dimana keberanian kalian sebelumnya?."
Tiba-tiba Akira dan Yumi menyerang secara bersamaan, sihir api dari Yumi dan tinju dari Akira melayang ke arahnya dengan sangat cepat.
Sayangnya dengan timing yang tepat Akira dan Yumi masih tidak berhasil mengenainya, orang misterius tersebut ternyata sangat cepat menghindari sihir api lalu menahan pukulan Akira secara bersamaan.
"Hoo sepertinya kau cukup hebat untuk manusia bia..." ucapannya terhenti seketika.
Tidak ada yang tahu apa yang di pikirkan olehnya, tetapi dari sikap dan gerak gerik yang ia tunjukkan terlihat seperti orang yang sudah menyadari sesuatu yang berbahaya.
Satu lagi orang misterius itu keluar menampakkan dirinya.
"Apa yang terjadi denganmu ?." tanya nya.
"Ini... tidak salah lagi aku pernah mendengar suara ini tapi dimana ya..." Akira berfikir sebentar. "Sudahlah lupakan tidak ada gunanya mimikirkan nya untuk saat ini." ucap AKira di dalam hatinya.
"Ti..tidak, sekarang kita harus kembali dulu ke tempat wakil ketua untuk melaporkan situasinya."
Temannya pun terheran-heran dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah.
"kenapa tiba-tiba sekali, bagaimana dengan tugas kita?."
"Ikuti saja perkataan aku!" bentak nya.
"B..baiklah, ayo."
Mereka berdua pun pergi, tapi sebelum pergi mereka mengaktifkan rune pada bahan peledaknya.
"Kalian beruntung saat ini, lain kali kalian tidak akan seberuntung ini." ucapnya sambil pergi menjauh.
"Gawatt, cepat pergi dari sini." ucap Rika panik.
"Tunggu dulu bagiamana dengan hutannya, kalau hutan sampai terbakar ini akan menjadi masalah besar." ucap Akira.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?." tanya Rika panik.
"Semuanya kembali ke dalam kereta, aku mempunyai rencana." teriak Yumi.
Mereka semua pun kembali masuk ke dalam kereta.
"Untung saja masih ada jeda sebelum meledak, saat orang itu mengaktifkan rune aku menyadari sesuatu bahan peledak itu hanya tambahan, ledakan sebenarnya berasal dari Runenya, jadi jika aku mengaktifkan pelindung di sekitar Rune seharusnya akan berhasil.
Yumi cukup pintar dia tidak menggunakan sihir pelindung untuk melindungi kereta kuda, tapi untuk menahan ledakannya.
Duaarr..!!
Sementara ke dua orang misterius sedang dalam perjalanan kembali.
"Nona Viena apa yang sebenarnya terjadi ?."
"Mereka sangat berbahaya kita bisa saja mati kalau melanjutkan pertarungan, aku menyadari sesuatu setelah menahan serangannya, perempuan itu memliki energi sihir yang sangat besar energinya hampir sama dengan miliki ketua." jawab Viena.
"Apa!, tidak mungkin energi sihirnya sebesar itu?"
"Melihat energi sihirnya yang berwarna abu-abu kegelapan, mengingatkan aku dengan milik ketua."
"Pantas saja untuk seorang penyihir postur tubuhnya lebih kekar sepertinya wanita itu mengalami kejadiian buruk yang menimpanya."
"ya siapa peduli dengannya, tapi yang lebih berbahaya itu laki-laki yang sempat memukul ku, matanya benar-benar menakutkan Aura nya juga sangat mencengkam, sebenarnya cukup memalukan memamerkan aura tekanan ku pada nya, itu alasan aku kembali dari pada melanjutkan misi ini, melaporkan informasi ini kepada wakil jauh lebih penting."
"Padahal mereka terlihat sangat muda umurnya pun sepertinya tidak jauh lebih muda dari aku."
"kalau aku bandingkan kalian mungkin.. dia lebih kuat dari pada dirimu... Wendy, sang jenius kerajaan."
Wendy terdiam seketika.
"Ouh ya.. bukankah, kau sudah mengaktifkan rune nya?, aku tidak mendengar suara ledakan apapun." tanya Viena kepada Wendy.
"Aku yakin sudah mengaktifkannya sebelum pergi." jawab Wendy.
"Hmm... sudahlah, keberuntungan mereka sangat bagus sekali." ucap Viena.
Mereka berdua kembali ke Mansion Ornelas dan melaporkan situasi.