
Setelah berpamitan dengan Dewa naga, aku melanjutkan perjalananku bersama Pimi, dia memang sedikit pendiam dia hanya berdiri di pundakku dan tidak berbicara sepatah katapun, Pimi tampak sedih mungkin karena sekarang Pimi tidak lagi bersama kedua orang tuanya, tapi untungnya dia tidak seberat yang aku kira.
Aku kembali kehutan, cuaca hari ini sangat cerah jadi aku mudah melihat di sekitar hutan, ya walaupun cerah tapi sekarang aku masih tersesat karena waktu itu di kejar monster aku sampai kehilangan arah tujuan.
Setelah berjalan sana-sini akhirnya aku menemukan jalan setapak dan ada bekas jejak kaki disana, akupun mengikutinya.
Tidak lama kemudian, aku akhirnya berhasil keluar dari hutan dan melihat sebuah desa kecil disana.
Aku melihat beberapa petani sedang menanan sesuatu dengan keluarganya,mereka tampak bahagia, mungkin karena cuaca hari ini sedang sangat cerah jadi mereka semangat bercocok tanam, itu cuma tebakanku aja sih.
Akupun memutuskan untuk mengujungi desa tersebut, aku memiliki sedikit uang mungkin aku dapat membeli beberapa makanan disana.
Setelah memasuki desa aku menyapa seseorang “Selamat siang pak apakahdisini ada yang menjual makanan?” tanyaku
Anehnya mereka semua tampak terkejut, dan raut wajah mereka terlihat seperti ketakutan setelah melihatku, mungkin mereka takut dengan Pimi, tapi seharusnya warga biasa tidak akan tau wujud seokor naga asli.
“A-ada anda bisa pergi ke sebelah sana.” Tunjuk orang tersebut “Disana ada yang menjual beberapa buah dan sayuran.”
“Terima kasih.” Jawabku sambil tersenyum, mungkin itu dapat mengurangi rasa curiga mereka.
Sepanjang aku berjalan di desa ini, warga melihatku dengan tatapan curiga, sepertinya ada yang aneh di sena ini.
Karena penasaran aku pun memutuskan untuk menetap sementara di desa tersebut, untungnya ada tempat untuku beristirahat.
Setelah membeli beberapa buah dan daging, aku berteduh di bawah pohon sambil beristirahat dan membakar daging, aku memakan buah sementara dagingnya aku berikan kepada Pimi.
“Pimi apakah ada yang aneh denganku saat ini, apakah dimata orang lain aku ini seperti naga yang sedang berjalan kesana-kemari mencari mangsa?.” Tanya Akira kepada Pimi.
Pimi menggelengkan kepalanya.
“Lalu apa yang salah dengan penampilanku, kenapa mereka semua pada takut.”
Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri ku dengan raut wajah yang ketakutan.
"Se-selamat datang tuan kami belum menyiapkan gandum dan sayuran lainnya, mohon untuk tuan menunggu lebih
lama lagi."Ucap Kepala desa.
Mendengar perkataannya akupun kebingungan, sebenarnya terjadi di desa ini?
"Anu… kalau boleh tau, anda ini siapa?"tanya Akira
“Saya kepala desa disini, saya mewakili para warga untuk meminta maaf kepada anda, jadi tuan tolong maafkan kami, kami akan segera menyiapkan barang yang anda minta."Jawab kepala desa.
"Ah.. sepertinya ada kesalahpaham disini, aku hanya seorang petualang biasa yang tidak sengaja menemukan desa ini, aku kemari untuk beristirahat dan membeli beberapa makanan saja.” Jawab Akira,
"Jadi apakah tuan ini bukan seorang bandit?"tanya kepada desa kepada Akira.
"Tentu saja bukan ,apa aku terlihat seperti seorang Bandit? "balas Akira.
Pakaianku lusuh, aku hanya mengenakan jubah dan pelindung yang terbuat dari karet biasa, masa aku dibilang bandit.
"Syukurlah kalau begitu maafkan kami tuan, tapi sebaiknya anda secepatnya meninggalkan tempat ini karena akan ada banyak bandit yang akan berdatangan, aku takut tuan terkena imbasnya"ucap kepala desa.
"Kota terdekat disini adalah kota West town, kota yang berada di sebelah barat kerajaan, walaupun kota itu cukup besar tapi pemimpin kota tersebut sangat kejam, dia suka menghambur kan uang uang hasil pajak rakyat nya dan menaikkan harga kebutuhan pokok, menurut rumor dia adalah lelaki yang sangat cabul, banyak wanita yang telah dia hamili dan incarannya biasa istri orang lain dan memperlakukan mereka layak nya budak rendahan."Jelas kepala desa
"Mendengar sikapnya saja aku sudah kesal, pantas saja banyak bandit yang berkeliaran.” Ucap Akira kesal.
"Kami cuman rakyat miskin, para kesatria tidak akan mau menolong orang miskin seperti kami, karena bagi mereka menolong kami tidak akan mendapatkan apapun, jadi sebaiknya tuan segera meninggalkandesa ini"
Tiba-tiba terdengar suara kuda-kuda berdatangan menghampiri desa ini.
"Woy mana jatah kami hari ini!."teriak seseorang yang menunggangi kuda.
"Kami hanya punya sedikit gandum untuk kami makan, jatah kalian sedang kami persiapkan kami mohon berikan kami waktu beberapa hari lagi.”
"Bersabar? bersabar katamu, apa kalian ingin aku bakar desa ini!"
Bandit itu pun menarik pedangnya dan mengarahkan nya kepada salah satu warga desa, warga desa pun mulai ketakutan dan berteriak.
Saat bandit itu mau menebas seorang warga, aku langsung bergegas dan menangkis pedang tersebut dengan pisau yang ku bawa.
"Sial!, siapa kau?, beraninya menghentikanku?"tanya bandit
Aku menatapnya dengan penuh amarah, di tempat aku tinggal semuanya sangat aman dan damai, kasus pembunuhan dan perampokan jarang terjadi karena penjagaannya yang ketat, sebagai sesama rakyat jelata aku paham bagaimana kita secara paksa harus tunduk oleh kekuasaan dan kekuatan.
"Ugh siapa kau sebenarnya, auranya mengerikan sekali, semuanya, bunuh dia!" perintah ketua bandit kepada bandir-bandit lainnya.
Dan satu-satunya yang bisa menentang kekuasaan dan kekuatan iyalah dengan memiliki kekuasaan yang lebih tinggi dan kekuatan yang lebih besar.
Tanpa kusadari tubuh ku bergerak dengan sangat cepat aku menangkis dan menghindari pedang para bandit dengan sangat mudah.
"Sial dia cepat sekali, kepung dia!"
Merekapun mengepung diriku, tapi semua usaha mereka itu percuma, aku bisa bergerak dengan sangat cepat.
Dengan gerakanku yang sangat cepat aku langsung melesat ke belakang mereka lalu menebas salah satu dari mereka, Pimi membantuku dengan terbang di sekitaran sehingga mereka tidak dapat mengendalikan kuda yang mereka tunggangi, formasi merekapun terpecah belah.
Pertarungan terus berlanjut beberapa bandit berhasil aku kalahkan, sebagian berusaha untuk menyerangku dari belakang, para warga yang melihatku bertarung tidak tinggal diam, mereka membantuku dengan membuat pingsan bandit yang terluka lalu mengikatnya.
Ternyata tidak sulit mengalahkan para bandit tersebut, setelah mereka kalah para warga mengikat mereka di sebuah pohon.
“Sekarang jelaskan mengapa kamu terus merampok desa ini?.” Tanya Akira sambil mengacungkan pisaunya.
“Kami akan jelaskan kami akan jelaskan.” Ucapnya ketakutan.
“Sebenarnya kami disuruh oleh orang-orang yang tidak kami kenal untuk merampok kalian, setelah itu hasil rampokkannya akan di berikan kepadanya hanya itu saja yang aku tahu.”
“Katakan sejujurnya siapa mereka atau aku akan memotong jarimu satu persatu.” Ancam Akira.
“Ba-baiklah aku katakan, jika tebakanku tidak salah mereka para bangsawan di kota West Town.”
“Pantas saja mereka tidak mau melindungi para warga desa, ternya begini cara mereka mengambil gandung dan sayuran tanpa membayarnya.” Ucap Akira kesal.
Setelah kebenaran terungkap aku membiarkan mereka pergi dengan syarat mereka harus berjanji akan mengembalikan semua hasil jarahannya dan tidak akan datang ke desa ini lagi.