I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
Glad to Talk With U



Sejuk. Kata pertama yang Yara deskripsikan sekarang. Datang ke kafe Mars adalah langganan Yara sejak kecil ketika dirinya sedang tidak baik-baik saja. Kafe dengan desain estetik dari kayu bermodel jadul dan angin sebagai penyejuk ruangan dapat membuat mood Yara meningkat meski tidak sepenuhnya. Kafe itu menyediakan pemandangan alam sebagai pelengkap, membuat hatinya sedikit tenang.


Ia menyesap kopinya dengan hati-hati. Sudah terhitung belasan kali ia menghela nafas. Suasana yang anteng membawa dirinya dalam lamunan.


“Lagi nungguin Ezio lagi, ya?” Lamunan Yara buyar. Ia mengarahpandangkan wajahnya pada seorang cowok yang familiar di matanya. Pertanyaan yang seolah cowok itu selalu tahu kebiasaan Yara yang suka menunggu Ezio tapi tidak ada yang pernah datang menemaninya. Yara hanya menggeleng sebagai balasan.


“Gue ke sini bukan berarti nungguin dia, dari kecil gue udah sering ke sini.” Timbul sebuah senyuman di wajah cewek itu. Cowok bercelemek dengan logo Kafe Mars itu tertegun mendapati senyumannya. Ia tahu, Yara bukan orang yang murah senyum. Cewek itu hanya tersenyum pada orang-orang yang dianggapnya dekat. Jadi Yara sudah menganggapnya dekat? Cowok itu tersenyum.


“Lo barista di sini, ‘kan? Selama gue ke sini, lo sering nemenin gue yang sendirian, tapi gue gak tahu nama lo,” ucapnya hati-hati. Cowok itu memandang wajah Yara penuh kekaguman. Cantik. Ezio benar-benar bodoh menyia-nyiakan bidadari seindah Yara.


“Lo serius mau kenalan sama barista rendahan kayak gue?” tanyanya masih memandang Yara dengan senyuman.


Yara tertawa. “Gue gak lagi ngajak kenalan, gue cuma penasaran sama nama lo,” jujurnya.


“Gue Eliot,” kenalnya.


Tak diduga, Yara mengulurkan tangannya. “Gue Yara.”


Cowok itu tertegun sejenak. Selama ia bertemu Yara, tidak pernah cewek itu mau disentuh orang lain. Eliot menjabat tangan Yara. “Jadi jangan panggil gue ‘Mas’ lagi kalo pesen kopi, gue bukan mas-mas, gue masih muda. Panggilnya harus Eliot.”


“Oke, Eliot.”


Setelah itu hening. Yara terhanyut dalam pikirannya, sedangkan Eliot berpikir topik apa yang harus ia keluarkan agar ia bisa tetap berinteraksi dengan cewek itu. “Emm, lo masih SMA?” tanya Eliot, meski ia sudah tahu.


Yara mengangguk saja. “Lo?”


“Sama.” Setelahnya, Yara menatap Eliot tak percaya.


“Lo sekolah sambil kerja?!”


Eliot mengangguk-angguk bersama senyumnya. Menatap Yara di matanya. Demi lo!


“Gue masih kelas dua belas. Kenapa? Udah keliatan tua, ya?” tanyanya saat tahu apa maksud ekspresi Yara. Yara mengangguk jujur.


“Jujur banget sih!” gerutunya, sedang Yara hanya tertawa. Jujur saja, Yara tidak tahu kenapa ia harus menanggapi orang yang baru ia tahu namanya meski ia sudah akrab cukup lama karena ia sering ke sini, yang Yara tahu ia merasa setidaknya masih ada seseorang yang mau menjadi temannya di saat semua orang pergi.


“Lo tahu gak?” tanyanya tiba-tiba memecah keheningan yang sempat berjalan beberapa detik. Eliot langsung melihat raut sendu dan senyuman secara bersamaan di wajah Yara. “Semua orang ninggalin gue tau.”


“Awalnya mama, trus gue putus sama orang yang gue sayang, trus keempat temen gue, trus papa.” Ia mengerucutkan bibirnya. “Semua orang nganggep gue jahat, padahal mereka sendiri jahat.” Yara menghela nafas lalu menyesap kopinya.


“Jahat ya?” gumamnya menatap ke arah lain.


Eliot yang tadi tersenyum langsung berubah sedih. Sungguh, entah kenapa ia benci melihat Yara yang seperti ini. Perlahan, ia memegang tangan Yara. “Ada gue.”


Yara langsung menatap cowok itu. Ia menarik tangannya yang dipegang. “Tapi lo bukan siapa-siapa gue.”


Jantung cowok itu sedikit tersengat mendengarnya. Ia berusaha tersenyum. Membiarkan Yara kembali berkelana dengan lamunannya, menghabiskan waktu hanya untuk keheningan. Setelah beberapa saat, Yara akhirnya angkat bicara lagi. “Sori ya, gara-gara gue lo jadi sedih. Gak harusnya gue cerita gitu ke lo.” Raut mukanya kini jadi khawatir.


Lagi, ia tertegun mendengar perkataan maaf Yara. Seumur-umur mengenal Yara, tidak pernah ia dengar kata maaf pada orang lain. Sudah aku bilang 'kan Yara itu terkenal cewek jahat jadi kesannya jutek. “Gapapa, sans aja! Kalo mau cerita, cerita aja! Gak semua bisa dipendam.”


“Thanks,” ucapnya tersenyum tipis. Tak ada pembicaraan lagi. Yara mengarahpandangkan matanya pada pemandangan yang dapat ia nikmati dari kafe ini. Sedangkan Eliot masih bergelutik dengan pikirannya, mencerna yang Yara katakan tadi.


Butuh beberapa detik bagi Yara untuk berpikir sampai akhirnya ia menjawab jujur.


Eliot mengangguk-angguk. Tanpa Yara sadari, ada senyuman yang mengembang di wajah cowok itu. Akhirnya putus juga.


Suara dering telepon dari benda kotak berlogo apel tergigit menginterupsi keduanya. Yara mengerutkan kening. Ia melihat siapa sang penelepon dan langsung memencet tombol merah. Ia menengok pesan dari orang itu. “Ngapain dia nelepon?” gumamnya yang masih bisa didengar Eliot.


Ia segera mengemasi barang-barangnya ke dalam tas sebelum pamit. “Eh, gue pamit dulu ya, ada urusan! Seneng bisa ngobrol sama lo. Besok-besok gue ke sini lagi. See u!” ucapnya tersenyum yang tak dibuat-buat. Eliot hanya membalasnya dengan senyum. Hatinya sangat senang hari ini.


“See u next month, Seiyara,” gumamnya saat Yara sudah berlari keluar kafe.


***


“Baby, kamu ke mana aja seharian? Mama nyariin!” sambut Angel saat Yara baru memasuki kediamannya, ingin memeluk cewek itu tapi langsung ditepis oleh Yara.


“Kenapa Mama nelepon?” tanyanya langsung bersama ekspresi datar.


Angel membuang nafasnya, menakhlukan Yara memang sulit. “Itu Ezio nungguin kamu.”


“Hah?!” Yara memasang tampang kaget. Seorang Ezio menunggunya? Mustahil! Pasti ada sesuatu, atau tentang Sekar? Ya, pasti cowok itu mau melabrak dirinya soal Sekar yang kemarin.


“Tuh dia! Mama masuk dulu ya!” katanya meninggalkan ruang tamu, menunjuk Ezio yang sudah mendekat. Yara memalingkan wajahnya, tidak ingin menatap Ezio. Begini-begini jantungnya masih berdebar saat cowok tampan itu mendatanginya.


“Kalo lo mau ngomong soal Sekar, gue capek, mau istirahat!” pungkasnya ingin beranjak, tapi tangan Ezio malah menahan pergelangan tangannya kemudian mengajaknya untuk berbicara di luar.


“Jangan bersikap acuh supaya gue tertarik sama lo!” Yara menarik tangannya, perasaan kesal langsung menguasai dirinya saat ingat alasan mengapa ia benar-benar harus berhenti dengan cowok itu.


“Gak akan.”


“Kenapa lo minta putus di hadapan semua orang? Gimmick?”


“Gimmick?” Yara tertawa miris. “Gue capek sama lo, Zi!”


“Gue gak tahu apa rencana lo, tapi kalo itu rencana jahat buat Sekar, lebih baik lo berhenti.”


“Jadi lo ke sini buat bahas Sekar lagi? Lebih baik lo pergi!”


Wow, Ezio tidak percaya Yara bisa mengusirnya. Bukannya mengekspresikan tampang kaget, Ezio kini tertawa. “Buktinya, lo gak mau bahas Sekar karena lo masih cemburu, ‘kan?”


Yara menatap Ezio dengan mata yang berkaca. Bukan hanya karena pedih, tapi juga karena emosi. “KALAU GUE MASIH CEMBURU EMANG KENAPA?! EMANG LO PEDULI?!”


***


A/N:


MINIMAL PENCET TOMBOL LIKE 😗


Okey Guys, gantung yah? Yuk lanjut!