I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
Kamu Selalu Membelanya



Setelah tujuh hari libur berduka, akhirnya Yara memutuskan untuk masuk hari ini. Yara tidak ingin berlarut dalam dukanya. Ia tahu orang yang telah tiada tidak bisa kembali dan tak harusnya disesali, ia hanya perlu merelakan dan mengisi harinya dengan hal baru seperti kata Alesa—mamanya.


Cewek itu mulai melangkahkan kaki di koridor dengan langkah seperti biasa. Bedanya kali ini sedikit senyum tipis di wajahnya. Hari ini, ia hanya ingin merubah hidupnya menjadi tenang, tanpa menindas orang lagi, tanpa membuat masalah dengan Sekar. Yara tidak ingin sakit hati lagi.


Suara semua orang di koridor yang tadinya berbincang, langsung senyap, menghentikan tawa yang sempat begurau kala melihat cewek itu memasuki koridor. Ekspresi takut, jijik, benci, saling lirik melirik langsung terselip di wajah mereka seolah-olah musim semi yang tenang telah tergantikan oleh musim panas yang membakar.


“Eh, si Queen of Disaster udah masuk hari ini!” celetuk seorang cewek yang langsung mendapat senggolan dari cewek di sebelahnya. Senyum tipis yang tadi terbit di wajah Yara langsung menghilang. Citranya memang sejelek itu. Pura-pura tak peduli seperti biasa, ia segera melangkahkan kakinya.


Namun, sepertinya dewa Yunani tidak pernah membiarkannya tenang semudah itu. Yara tahu, ia akan menanggung semua yang ia lakukan hari ini. Ezio tengah melangkahkan kaki cepat ke arahnya, ditemani Sekar yang mengejar langkahnya di belakang. Wajahnya kini penuh emosi, membangkitkan kembali keramaian orang-orang di koridor yang sempat surut dengan berbagai macam bisikan.


“Bagus hari ini lo masuk dan gue gak perlu repot-repot ke rumah lo!” Ezio tidak berteriak, nadanya lebih ke arah menggeram.


“Kenapa sih?” tanya Yara heran.


Ezio langsung menunjukkan layar i-phone miliknya pada Yara, menatap cewek itu muak. “Lo pikir gue gak tahu selama ini lo nge-bajak handphone Sekar buat chat gue, bilang buat jauhin gue?” tanyanya. “Lo pikir gue gak tahu selama ini lo masih ngancem Sekar?”


Yara berkerut dahi saat melihat layar ponsel Ezio. “Apaan sih! Bukan gue! Gue gak pernah ya nge-bajak handphone orang, apalagi handphone cewek kampungan ini!” tunjuknya muak melihat Sekar yang hanya menunduk diam. Ezio yang tadinya hanya ingin memperingati, jadi terbawa emosi karena cewek di sebelahnya ditunjuk-tunjuk. Ia langsung menepis tangan Yara.


“Gue udah berkali-kali peringatin lo untuk gak ganggu Sekar lagi, lo bebal banget sih?!”


“Gue udah gak pernah ganggu dia, Zi! Lo tanyain aja sama dia! Kenapa dia cuma diem aja?! Gue gak pernah ngotak-atik handphone-nya!”


“Heh, kalo bukan lo siapa lagi yang jam dua belas malam ke kamar Sekar otak-atik handphone dia? Sekar gak pernah bergadang sampai jam dua belas.” Yara mendengus kesal. Sangat kesal. Ezio itu jika dirasa-rasakan memang tidak pernah tidak menyebalkan. Selalu menyalahkan dirinya, mengajaknya berdebat meski itu masalah kecil, dan endingnya tetap saja Sekar yang akan dibela.


“Dia kali bergadang, terus iseng jawab chat lo supaya gue yang disalahin!” Yara sengaja memancing cewek itu untuk berbicara. Sungguh, sejujurnya ia lelah dengan drama ini.


“A-aku gak tahu siapa yang ngetik jam segitu, Kak. Aku udah tidur, Kak.” Sekar yang merasa dirinya dipojokkan sebagai pelaku hanya menunduk.


Ezio menghela nafas. Ia menatap Yara. “Gue cuma gak mau bikin Sekar terganggu privasinya atau dia terasa terancam, apalagi karena lo.” Perkataan Ezio kali ini merobek jantungnya begitu lebar. Selalu begitu, Ezio akan melakukan sekecil apapun demi Sekar. Tak membiarkan cewek itu tergores sedikit pun. Tapi dirinya? Ezio membiarkan cewek itu terluka, terjatuh ke dalam jurang.


“Gue udah jadi pacar lo, lo udah dapet apa yang lo mau, ‘kan? Jadi jangan ganggu Sekar, itu aja.” Ezio mulai menuntun Sekar yang menunduk dan berbalik pergi. Semua orang yang menontonnya tersenyum penuh kemenangan.


“Lo gak pernah tahu, gue lebih cinta lo. Lebih dari yang lo tahu! Gue mengagung-agungkan lo! Ngira lo emang suka sama gue! Gue berjuang dapetin lo! Tapi lo selalu anggap gue gak ada! Semua yang gue lakuin selalu jahat di mata lo!” paraunya memekik di seluruh koridor dengan penuh emosi. Matanya berkaca-kaca dan akan turun jika saja dirinya berkedip. Semua orang langsung merasa merinding. Mereka akan melihat Yara melayangkan protesnya pada Ezio, mengungkap perasaan sakit yang terpendam di hadapan semua orang. Meski sebagian orang menganggapnya hanya drama.


“Itu karena lo emang cewek jahat!” balas Ezio tajam.


“Gimana sama dia?! Dia tahu lo punya gue, tapi dia tetap mau sama lo! Itu jahat!” tunjuknya pada Sekar. Sekar yang ditunjuk langsung mengangkat kepalanya, melihat Yara yang kacau. Ia menunduk dan sedikit menangis karena merasa bersalah berada di tengah-tengah keduanya. Hanya kata ‘maaf’ yang dapat terselip dari bibirnya.


“Sekar gak pernah rebut gue dari lo! Lo inget ‘kan lo duluan yang ngerebut gue dari dia?! Lo inget lo sendiri yang setuju sama syaratnya?” Ezio mengajukan pertanyaan itu dengan dagu terangkat membuat Yara terdiam dan kembali tersadar.


“Kak, udah ... emang aku yang salah ...,” lirih Sekar sambil menenangkan Ezio.


“Bener. Emang gue yang perebut, emang gue yang salah. Salah karena udah suka lo sejak SMP, jauh sebelum ada Sekar. Salah karena selalu berharap ke lo, salah karena maksa orang yang gak pernah ngelirik gue jadi pacar gue.” Yara meraup oksigen di sekitarnya dengan rakus, mengembuskannya dengan penuh kesesakan seolah pembuluh darahnya menyempit.


Ezio hanya diam mendengar hal itu.


“Hari ini gue bakal turutin yang lo mau dari dulu. Kita putus.” Itu adalah satu kalimat yang bukan hanya membuat Ezio tercekat, tapi juga seluruh orang di koridor yang sedari tadi menonton. Suara bising dari mulut-mulut kaum hawa langsung menyerbu suasana kali ini. Saling melotot, tak habis pikir. Ini akan menjadi berita hot. Seorang Yara yang selalu mengemis agar tidak diputuskan Ezio, seorang Yara yang rela melakukan apapun demi mendapatkan hati Ezio termasuk menyiksa gadis paling baik di sekolah, memutuskan Ezio hari ini!


Yara tak mempedulikan orang-orang di sekitarnya yang sibuk meng-ghibah. Ia segera berlari entah kemana, meninggalkan Ezio yang masih membeku. Tidak percaya jika Yara bisa memutuskannya di hadapan semua orang.


Selama ini, Yara selalu memberinya tatapan penuh dambaan dan tak pernah menunjukkan tatapan menyakitkan. Yara tidak pernah mau putus meski dirinya mungkin protes tentang Sekar yang nantinya Yara akan mengalah. Namun, kali ini cewek berbeda, ia tampak pasrah. Kenapa Yara memutuskannya?


Lalu kenapa perasaan Ezio menjadi kacau dan seolah kehilangan sesuatu? Bukannya ini yang ia mau sejak dulu?


***


A/N:


Ada yang kesel kah? Aku berharap cerita ini gak ngebosenin dan dapat masuk ke hati kalian yah!


Jangan lupa follow akun ini yah! Jangan lupa like, komen, vote and share juga untuk dukung author!😚