
...“Dimsum artinya keberuntungan, gue beruntung karena bisa ketemu cewek cantik di SMP dan kenal sebagai pacarnya sekarang.” - Ezio...
...***...
Malam ini Ezio benar-benar tidak tahu apa yang terjadi padanya hingga ia bisa berdiri di depan depan rumah Yara sambil membawa sekantung plastik berisi dimsum. Padahal dua puluh menit yang lalu ia sedang berguling-gulung di atas kasurnya sambil memainkan handphone, tapi entah mengapa jarinya malah memencet isi room chat-nya dengan Yara yang tak seperti dulu, Yara dulu selalu mengucapkan selamat malam sebelum tidur yang tak pernah ia balas.
Rasanya sekarang sepi.
Biasanya kalau malam minggu Yara akan mengajaknya ke pasar malam, atau Yara pergi ke rumahnya untuk sekadar membawakan makanan yang tak pernah ia makan. Biasanya Yara akan menempelinya di jam seperti ini, menemani bermain game sambil berceloteh.
Namun, sekarang?
Tadinya Ezio ingin mengajak Sekar, tapi ia terlalu sadar kalau Sekar selalu sibuk belajar meski malam minggu. Ezio juga sudah berusaha mengalihkan pikirannya dengan bermain game, atau bermain basket. Sialnya Yara selalu menghantui otaknya sampai ia harus keluar untuk mencari udara segar, dan endingnya ia membeli dimsum. Sayangnya, Ezio lupa ia tidak suka dimsum. Dimsum adalah kesukaan Yara.
Kali ini ia membunyikan bel. Selang beberapa waktu, seorang cewek tiba-tiba menepuk bahunya dari belakang dengan senyuman yang mengembang. Sekar menatap kantung plastik yang dibawa Ezio dan tersipu malu. Sekar yakin, itu pasti untuknya.
“Yara mana?” tanya Ezio masih menatap pintu yang tertutup. Sekar terkejut bukan main. Ini baru pertama kalinya cowok itu mencari Yara. Ia pikir tadi Ezio mencarinya. Ia mengerucutkan bibir kesal.
Bebera detik, pintu itu terbuka, menampakkan seorang cewek dengan anduk yang melingkar di kepalanya, menatap mereka berdua secara bergantian. Yara mengembuskan nafas. “Kalo lo ke sini mau labrak gue masalah Sekar, sumpah, Zi, gue lagi gak ngapa-ngapain dia!”
Ezio terdiam beberapa detik di tempat, memproses kalimat yang keluar dari mulut cewek itu. “Sejahat itu ya gue di mata lo sampek lo nuduh gue mau ngelabrak lo?”
“Iya!” kata Yara nge-gas melihat tatapan Sekar yang sepertinya cemburu. Dulu awalnya Yara ingin berdamai dengan cewek itu karena merasa bersalah sudah merebut Ezio—meski Ezio miliknya—ia pikir Sekar memang benar-benar cewek yang polos dan lemah lembut. Namun, semua itu berubah kala ia tahu fakta yang Azhar beberkan beberapa hari lalu.
“Gue cuma mau bawain lo ini.” Ezio menyodorkan kantung plastik yang ia bawa. Yara terpaku di tempat.
“Ini apa?”
“Dimsum.”
“Bu-buat gue?”
“Iya.”
“Buat a-pa?”
Ezio tak menyangka akan mendapat tatapan kikuk dari Yara. Seperti mencurigai sesuatu darinya. “Buat kasih makan tikus!” jawabnya kesal.
“Emang tikus doyan dimsum?”
“Lo tikusnya!” tangkas Ezio. Yara memberi raut kesal.
“Lo pasti mau nyogok gue supaya gue gak ganggu Sekar karena kita udah putus dan lo gak bisa ngatur gue lagi?”
“Gue bilang kita belum putus! Gue ke sini maksudnya baik, gue beli dimsum, karena gue gak suka jadi gue kasihin lo!” sulutnya mulai emosi karena dituduh. Yara memicing heran, jawaban Ezio sangat aneh.
“Kok beli dimsum kalau gak suka?” tanya Yara membuat Ezio kelabakan harus menjawab apa. Iya, kenapa dirinya harus membeli dimsum kalau ia tidak suka?
“Gak tahu,” balas Ezio. “Jadi ... lo mau gak nih?”
Yara terdiam sejenak. Ia melirik Sekar yang sepertinya kesal, tapi ia tak peduli. Sebenarnya Yara enggan untuk mengambilnya, tapi kenapa harus dimsum makanan yang ia suka?
“Kalo engga mau yaudah—“
“Mana!” Yara langsung menyahut plastik itu dari tangan Ezio cepat dan langsung menutup pintu begitu saja. Tanpa sadar, ujung bibir Ezio terangkat ke atas.
Hanya tersisa dirinya dan Sekar di sini. “Kak Ezio ...,” panggil Sekar.
“Kakak baik banget ya, kasih non Yara dimsum. Non Yara beruntung punya kak Ezio yang baik. Aku mah apa, gak ada yang ngasih, hehe!”
Ah, Ezio rupanya melupakan Sekar. Ia tidak sempat membawakan apa-apa untuk cewek itu. Ia tersenyum hangat, mengacak-acak rambut cewek itu. “Besok gue bawain lo se-box makanan yang lo suka! Tapi senyum dulu!” Sekar dengan malu-malu langsung mengangkat wajahnya, mengulas senyum polos.
“Gue sayang sama lo, Kar.”
***
Ezio kembali berbaring di atas kasurnya. Sedari tadi ia sibuk mengawasi ponselnya seperti sedang menunggu pesan dari seseorang. Namun, pesan itu belum juga ia dapat sampai sekarang.
Cewek ajg. Itu nama kontak yang ia sedang tunggu pesannya. Tadinya ia yakin pasti Yara akan memberi ucapan terimakasih. Nyatanya sudah se-jam tidak ada pesan yang muncul dari cewek itu. Yang muncul malah pesan dari Sekar yang belum sempat ia balas.
Ezio mendengus. Ia mengetikkan pesan pada Yara untuk mengawali.
^^^Ezio^^^
^^^Butuh waktu bermenit-menit dari Yara untuk membalas. Saat sebuah notifikasi muncil dari Yara, Ezio merasa excited untuk melihatnya.^^^
Cwk anjg
emg lo bth mksh gw?
^^^Ezio ^^^
^^^g^^^
Cwk ajg
Ok
Ezio meletakkan ponselnya kesal, mengacak-acak rambutnya. Kemudian ia kembali mengetikkan sesuatu, berusaha mencari topik supaya chatting-annya tidak mati.
^^^Ezio^^^
^^^lo gk penasaran knp gw ksh lo dimsum?^^^
Benar saja, beberapa detik, Yara membalas pesannya.
Yara
knp?
Ezio tidak megetikkan pesan lagi, melainkan mengirim sebuah pesan suara. “Dimsum artinya keberuntungan, gue beruntung karena bisa ketemu cewek cantik di SMP dan kenal sebagai pacarnya sekarang.”
Terkirim. Akan tetapi, beberapa detik kemudian ia segera menghapus pesan itu. Ia teringat sesuatu.
Tidak, Yara tidak boleh mengetahui itu. Yara tidak boleh mengetahui rahasianya.
***
Yara sedang memakan dimsum-nya dengan lahab. Tiba-tiba saja ia mendapat pesan dari Ezio yang menyebalkan. Ia sedikit heran, tumben sekali Ezio menghubunginya, padahal biasanya boro-boro membalas pesannya, Ezio terkadang membuka tutup blokirnya supaya tak diganggu olehnya.
Sambil memakan dimsum, ia membalasi pesan Ezio hingga pertanyaan Ezio membuat alisnya berkerut.
Ezio
lo g penasaran knp gw ksh lo dimsum?
^^^Yara^^^
^^^knp?^^^
Bermenit-menit Yara menunggu pesan dari Ezio. Ia merasa penasaran kenapa cowok itu tiba-tiba berbaik hati kepadanya. Tiga menit berlalu, Ezio mengiriminya pesan suara. Yara terdiam sejenak, menghentikan aktivitas makannya. Tanpa pikir panjang jarinya memutar pesan suara itu.
“Dimsum artinya keberuntungan, gue beruntung karena bisa ketemu cewek cantik di SMP dan kenal sebagai pacarnya sekarang.”
Yara membeku di tempat. Meski dirinya sudah tersakiti berkali-kali, Yara tidak tahu mengapa jantungnya masih berdebar kencang mendengar pesan itu, debaran yang sama kala ia pertama kali bertemu Ezio di SMA. Yara memegang dadanya, berusaha menetralkan jantungnya.
Ia menatap ponselnya. Ingin memutar pesan suara itu lagi memastikan ia tidak salah dengar, tapi pesannya sudah dihapus oleh Ezio.
Ezio
lupain aj
Yara menghela nafas berat lalu tersenyum tipis. “Gue juga beruntung kenal lo, Zi.”
“Tapi kenapa lo sakitin gue dengan lakuin itu?”
***
A/N
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, SHARE GUYSS! 😘
Sebelumnya aku mau disclaimer, cerita aku ini adalah cerita remaja ya gess jadi wajar kalau tokohnya itu labil atau plin plan dan masih gampang emosi, kadang gak ngerti yang mereka lakuin bener atau salah. Sama seperi Ezio yang juga bingung sama perasaannya makanya dia belum terlalu tegas harus pilih yang mana.
See u next part guys!