I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
Calm Yourself!



“Yara, ini sudah kesekian kalinya saya memperingatkan kamu, tapi kamu tetap saja seperti ini.” Bu Susi mengembuskan nafasnya. “Kamu sudah kena surat peringatan ketiga, dan harusnya kamu dikeluarkan dari sekolah ini.”


Yara hanya diam saja, tidak berminat menanggapi bu Delta yang mengomelinya. Mata cewek itu terlihat kosong dengan wajahnya yang datar.


“Kalau kayak gini, saya panggilin Papa kamu—“


“Gak perlu!” lugas Yara menatap was-was bu Delta. Ia benar-benar tidak ingin membuat masalah dengan papanya lagi hanya karena dirinya masuk BK, sudah cukup yang kemarin. “Ibu gak tahu apa-apa! Ibu tahu gak siapa yang salah?! Ibu cuma bisa salahin saya tanpa nanya yang sebenernya yang terjadi!”


Belum sempat pembicaraan itu berlanjut, tiba-tiba seorang wanita paruh baya dengan penampilan sosialitanya datang ke ruangan itu dengan murka. “Mana yang namanya Yara?!” Ia mendekati Yara dan bu Delta yang memijat kepalanya tambah pusing. “Ini ya yang namanya Yara?!” tunjuknya pada Yara yang masih duduk di tempat memasang ekspresi muak.


“Ibu tolong tenang, silahkan duduk dulu!” ucap bu Delta menenangkan.


“Gak bisa! Gara-gara anak setan ini, anak saya Genia harus masuk rumah sakit!” sungutnya ingin menampar Yara, hanya saja dihadang oleh beberapa guru BK lain yang ada di ruangan.


“Gara-gara dia, anak saya pingsan loh dia gebukin!” Wanita itu melotot dengan amarah yang menggembu-gembu. “Kamu anaknya Gibran itu, ‘kan? Laki-laki setan? Makanya anaknya juga kayak setan!”


Dari beberapa pengusaha, citra Gibran memang dikenal sebagai pria yang sombong. Jika permintaannya tak dituruti, maka ia akan mengamuk. Atau jika gagal dalam suatu hal, pria itu juga akan bermabuk-mabukan. Citra buruk yang membuat Yara juga terkenal buruk oleh kalangan sosialita.


Yara mengepalkan tangannya erat. Anak mana yang tinggal diam jika orang tuanya dihina? Ia berdiri menggebrak meja, manatap tajam wanita itu. “***** you!” Tangannya sudah seperti ingin menghantam wanita itu kalau saja guru BK tidak menghalanginya.


“Eh? Kurang ajar kamu ya sama orang tua?!” ucap wanita itu. “Saya ingin anak ini dikeluarkan dari sekolah ini! Atau saya bisa tuntut sekolah ini!” ancamnya pada guru-guru yang ada di kantor.


“Saya juga bisa tuntut balik Anda kalo saya mau!” kelakar Yara menunjuk wanita itu dengan jari telunjuk. Bu Delta langsung saja menenangkan Yara, sedang guru lain mencoba untuk membawa pergi mama Genia yang sedang terbakar emosi itu.


***


Yara menarik langkahnya dari ruang BK menuju kelasnya. Baru saja keluar, cewek itu langsung jadi sorotan siswa yang ia lewati, menatap dirinya jijik dan sebagian menghindar seolah dirinya adalah kuman masyarakat. Sekarang, bukan cuma reputasi jahat yang ia punya, tapi juga dikenal sebagai gadis gila.


Cewek itu menatap nanar mereka semua. Sungguh, Yara selalu ingin berteman dengan mereka. Yara tidaklah seperti yang mereka bayangkan. Yara ingin memperbaiki dirinya, tapi kenapa selalu ada saja hal yang membuatnya jahat di mata semua orang?


Suasana yang tadi ramai, kini jadi tegang saat Yara terus melangkah. “Bisa gak sih kalian gak usah liat gue kayak gitu?!” tanyanya sudah tidak tahan lagi. Mereka menatap ia seperti orang gila, mereka menghindari Yara, mereka saling memeluk saat cewek itu melangkah. Setelah Yara berteriak, mereka jadi semakin was-was dan beberapa gerombolan di koridor bubar.


Yara hanya bisa terdiam sendiri di tempat. Perasaannya benar-benar kacau.


Tak ia sangka, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang menjauhi orang-orang. “Ikut gue!” Yara mengadah, menemukan Ezio yang sedang memegang pergelangan tangannya menuju suatu tempat, menerobos berbagai orang yang tadi memandang Yara jijik. Rasanya seperti de javu kala cowok itu menarik tangannya di hadapan semua orang. Yara ikut saja dan langkah mereka berhenti tepat di depan pintu rooftop. Ezio membuka pintu rooftop untuknya.


Yara mengamati Ezio yang mengarahkan pandangannya ke arah lain dengan wajah tampan yang tak pernah hilang dari dirinya. Wajah yang tertepa angin. Ia tidak menyangka cowok itu mau menariknya dari kerumunan semua orang, membawanya untuk memberinya ketenangan saat tidak ada yang mengarahkannya. “Makasih udah mau bawa gue.”


Ezio menoleh ke arahnya dan mengangguk. Yara menunduk. Matanya tidak bisa berpura-pura bahwa ia baik-baik saja, dan Ezio bisa menangkap itu saat ia mengamatinya.


“Lo ... lo gak takut ya deket sama cewek gila sama gue?” tanya Yara pelan. Ia tidak tahu kenapa ia ingin bertanya seperti ini. Ia sudah mempersiapkan mentalnya kalau-kalau Ezio memberi jawaban pedas.


Tidak ada jawaban dari Ezio. Cowok itu sibuk menatap awan dengan alisnya yang mengkerut. “Siapa yang bilang lo gila?”


“Mereka. Mereka semua anggep gue gila karena gue ....” Yara sontak diam dan tak melanjutkan kata-katanya. “Tapi waktu gengnya Genia nge-judge, mereka nampar gue, mereka gak dianggap gila ....”


“Lo emang jahat, tapi lo gak gila.”


Kali ini Yara tak tahu maksud Ezio ingin membelanya atau malah menyalahkannya. Cewek itu menoleh ke arah Ezio. “Selain jahat, gak ada ya sisi baik gue di mata lo?” tanya Yara penuh harap. Pertanyaan itu tak dijawab oleh Ezio karena Ezio tidak tahu harus menjawab apa.


Yara mengangguk saat jawaban yang ia tunggu tidak ada. Ia tersenyum segaris. “Kalo gitu, kenapa lo ajak gue ke sini? Lo gak takut ajak cewek jahat kayak gue?” sindir Yara menekankan kata ‘cewek jahat’. Ezio langsung saja menoleh ke arahnya, mengembuskan nafas.


“Gue udah biasa,” katanya. “Semua orang punya sisi jahatnya masing-masing, termasuk gue.”


“Trus kenapa lo benci ke gue?”


“Ada sesuatu yang gak perlu lo ketahui.”


Cewek itu menatap Ezio, ada sesuatu yang cowok itu sembunyikan dan tak ingin ia bahas. Ia menghela nafas mengalah, kemudian memandang lurus ke arah depan. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca tanpa alasan. Yara terkadang heran kenapa ia terlalu sering seperti ini. Yara sangat membenci dirinya menangis dan ia tidak boleh melakukan itu di depan Ezio.


“Kalau mau nangis, nangis aja, gak usah ditahan,” ucap Ezio tiba-tiba.


Deg! Jantung Yara tiba-tiba berdetak kencang tanpa ia perintah. Kata-kata itu persis sepeti kata yang Ezio lontarkan saat mereka masih SMP, saat mereka bertemu kedua kalinya, saat Yara pergi ke rooftop, dan saat Ezio mengatakan kalimat yang membuat dirinya merasa ada orang yang menyayanginya.


Yara meneteskan air matanya tanpa sebab karena ia tahu perasaannya memang tidak baik-baik saja dan Ezio melihat itu. Yara yang ia lihat sangat berbeda dari biasanya. Biasanya ia melihat cewek itu terlihat kuat dengan wajah judes yang siap menyiksa umpannya layaknya harimau betina, kali ini cewek itu terlihat berantakan layaknya kucing terlantar yang rapuh.


Lantas mengapa Ezio merasa bersalah sekarang?


***