
Flashback on
“Lo liat cewek yang di sana!” tunjuk Brano pada seorang cewek yang berjalan sendirian. Meski begitu cewek itu tetap berjalan dengan penuh percaya diri. “Cantik, ‘kan?”
Brano menaik-turunkan alisnya seperti tertarik. Ezio yang sedang menaruh tempat minumnya di loker langsung menoleh ke arah cewek yang dimaksud. Menemukan sosok yang sangat asing di matanya. Kulit putih bersih, rambut hitam yang indah, serta matanya yang tajam. Ezio tidak pernah melihat wajah cewek cantik itu sebelumnya. Aura yang sangat berbeda dari cewek-cewek cantik yang pernah ia temui sebelumnya.
Hingga beberapa detik, cowok itu tak mampu mengalihkan perhatian darinya kalau saja Brano tidak menjentikkan jarinya. “Santai, Ngab, gak usah klenger gitu natapnya!”
“Ngapa sih lo!”
“Ya gue tahu cantik, tapi dia judes, agak sombong, gak kesentuh! Dia gak bakal mau lo deketin!”
“Siapa juga yang mau deketin! Tipe cewek gue yang mau dideketin aja!” tolak Ezio menggelengkan kepala. Meski begitu, Ezio tetap penasaran dengan cewek yang terlihat judes itu. Setidaknya, ia ingin mengetahui namanya.
Secara diam-diam, cowok itu mulai membuntuti cewek itu, mengetahui setiap aktivitasnya ketika di sekolah. Band. Salah satu yang cewek itu ikuti di sekolah. Hal yang membuat Ezio yang tadi hanya ekskul tinju, menjadi ekskul band. Dari situ ia tahu, cewek itu adalah cewek yang semua keinginannya harus terpenuhi, sedikit judes saat bicara.
Namun tetap saja, namanya bocil SMP, Ezio hanya melihat sosok itu dari kecantikannya. Dari situ juga, Ezio jadi tahu nama cewek itu. Semua orang biasa memanggilnya Seiya atau Yara.
Flashback off
Bugh! Bugh! Bugh!
Samsak yang ada di hadapan Ezio berkibas maju mundur saat mendapat pukulan darinya. Sejak pulang sekolah, cowok itu tak berhenti meninjunya kala pikirannya terbayang di masa SMP. Ia tidak memperhatikan lagi Sekar yang sedang merengek karena tidak ia perhatikan.
Bruk! Hingga samsak itu kini lepas dari rantai-rantai yang tadi membuatnya tergantung hanya karena pukulan keras Ezio. Samsak itu kini terbaring di lantai, membungkam mulut Sekar yang sedang duduk di sofa yang tadi mengoceh. Meski samsak itu sudah berada di lantai, tetap saja Ezio memukuli samsak tak bersalah itu.
“Anjrit! Samsak gua mah! Baru beli!” umpat Arion, sang Pemilik Gym. Bukan khawatir samsaknya, tapi Ezio yang seperti orang tidak waras.
“Lo naik ke ring!” perintahnya pada Arion.
“Kak, ini udah dua jam kakak kayak gini! Kakak masih banyak lebam sisa kemarin!” ucap Sekar tak digubris. Sekar berusaha menyentuh lengan Ezio yang ditepis.
Melihat Ezio yang sudah ada di atas ring, Arion berdecak kesal. “Emang minta dihajar nih curut!”
Arion memakai sarung tinjunya. Ia naik ke ring dan berhadapan dengan Ezio. Belum ada aba-aba, Ezio sudah menyerangnya dengan pukulan. Syukurnya, Arion berhasil menghindar. Arion mulai melayangkan pukulannya untuk Ezio. Herannya, cowok itu tidak menghindar, malah memancingnya lagi untuk memukul. Tak ingin nangung, Arion kembali memukul cowok itu sampai terbaring.
Bugh! Bugh! Bugh!
“Lawan, Curut! Napa lo diem aja!” kata Arion yang mulai merasa kesal dengan Ezio. Ezio kembali melawan memukul Arion, tapi saat Arion memukulnya lagi-lagi Ezio tidak menghindar.
Aksi itu telah berjalan hingga lima belas menit, membuat wajah tampan Ezio semakin bonyok. Di sela-sela itu, datanglah Brano yang sedari tadi menyaksikan mereka. Saat melihat sesuatu yang tak beres dengan Ezio, ia naik ke ring menengahi.
“Heh! Njing! Udah, Yon! Udah!” Brano menarik tubuh Arion. “Dia cuma minta dipukulin!” tunjuknya pada Ezio yang sudah terbaring KO. Masih dengan nafas tersengal, Arion menyodorkan tangannya pada Ezio dan menariknya untuk bangkit.
***
“Kakak serem, ih! Harusnya Kakak tuh istirahat!” Sekar mengambil kotak P3K memang yang disediakan gym. Ia mendudukkan diri di sisi Ezio, mulai mengoleskan obat di berbagai macam luka yang Ezio alami. Sekar berharap ini bisa jadi hal romantis seperti di film-film.
Namun, Ezio mencegahnya. “Gak usah.”
Ezio memalingkan muka, tatapannya kosong.
“Tapi ini lukanya sampek kayak gini, Kak! Aku harus obatin!”
“Gue bilang gak usah!”
“Ya gue gak mau!”
“Kak—“
“Heh, Cepung! Kalo dia gak mau kagak usah maksa napa?” tegur Arion yang merasa sumpek dengan perdebatan keduanya. Menjuluki ‘Cepung’ atau ‘Cewek Kampung’.
Mendengar julukan itu, Sekar menatap Ezio. Berharap cowok itu membelanya seperti biasa. Nyatanya, Ezio hanya diam. Tanpa aba-aba, ia berdiri dari duduknya sambil mengambil jaket dan handphone. Mengotak-ngatik suatu aplikasi di sana.
“Lo pulang naik taksi! Udah gue pesenin!” katanya pada Sekar. Sekar ingin menolak, tapi Ezio sudah berlalu pergi. Sebenarnya, bukan Ezio yang mengundang cewek itu kemari. Ia juga sedang tidak ingin diganggu. Akan tetapi, Sekar tiba-tiba datang ke tempat ini katanya ingin menemani. Ezio sudah menolak, tapi Sekar tetap saja ingin di sini.
Cowok itu kini mengendarai motor dengan muka lebamnya. Ezio sudah sering terluka karena berkelahi dan ia tidak pernah mengobati luka itu. Ia selalu membiarkan luka itu kering dengan sendirinya, mengikuti waktu yang akan menyembuhkan.
Kali ini tujuan Ezio hanya, satu. Azhar. Mencari alasan cowok itu membohongi Yara.
***
Bunga. Di setiap tanggal tiga puluh, Yara akan selalu mendapatkan kiriman bunga di balkon kamarnya dengan tulisan penyemangat. Sesuatu yang membuat Yara bahagia meski pengirimnya anonim. Namun terkadang, orang anonim itu hanya memberinya nama E.G, membuat Yara menebak-nebak siapa pengirimnya.
Dulu Yara mengira pengirim itu adalah Ezio, tapi melihat nama Ezio yang bernama panjang Ezio Jericho Astennu, sepertinya bukan. Ditambah sikap muak yang Ezio berikan selama ini padanya.
Pernah Yara menunggu seharian saat tanggal tiga puluh untuk memantau siapa yang mengirim bunga itu, namun orang yang mengiriminya malah tidak datang yang berarti orang itu tidak ingin diketahui siapa.
Jam menunjukkan pukul 07.00 yang berarti bunga itu harusnya sudah tersedia di balkonnya saat ini. Yara berlari dengan penuh semangat menuju balkon. Namun, ia tidak menemukan apa pun di sana. Yara mengembuskan nafas sedikit kecewa.
Di saat yang bersamaan, Bi Ami datang memberitahukan bahwa ada seorang cowok yang sedang menunggunya di ruang tamu. Yara mengerutkan kening dan segerah turun ke bawah menemukan sesosok cowok yang sedang tersenyum membawa sebuket bunga.
“Eliot?” beo Yara.
“Buat lo!” Eliot menyerahkan bunga itu. Butuh beberapa detik bagi Yara untuk menerimanya. Keningnya berkerut sesaat setelah menemukan kata-kata penyemangat di dalamnya.
Cewek cantik gak boleh merengut.
Senyuman di wajahnya merekah. “El, nama panjang lo siapa?”
“Kenapa?”
“Jawab dulu nama panjang lo!”
Eliot tertawa. “Sebegitu sukanya lo sama gue ya sampek pengin tau nama asli gue?”
“Dih! Ya udah deh gak jadi!” kata Yara sebal. Ia mengambil ancang-ancang untuk pergi.
“Eliot Gealdo Hastene! Ada E-nya setelah N!” Seketika Yara melebarkan matanya.
***
Hayoo yang team Yara Eliot mana?
Yang team Yara Ezio?
Team Ezio Sekar?
Janlup komen dan like ya guys buat dukung cerita ini!