
Lelah. Tidak ada kata lagi yang bisa mendeskripsikan Yara saat ini. Mungkin gadis jahat sepertinya memang pantas dipermainkan agar dirinya sadar dan tidak sembarangan menindas orang lain. Sejak SD, Yara memang selalu dianggap jahat oleh semua orang. Tidak ada orang yang mau berteman dengannya, kecuali Yara membayarnya dengan uang.
Selama SD hingga SMP, tidak ada yang benar-benar tulus padanya. Mungkin berteman hanya karena dirinya kaya, bisa dimanfaatkan, dan karena ancaman darinya. Yara merasa kesepian saat mamanya masuk rumah sakit dan dilarang menemuinya, sedangkan papanya menikah dengan orang lain dan selalu membentaknya ketika Yara ingin mendapat kasih sayang seperti orang lain.
Hingga suatu hari hadirlah Ezio. Mereka masih SMP dan belum saling kenal. Cowok itu membantunya, memberikan sekaligus mengalungkan jaket milik Ezio di pinggang Yara saat ia pertama kali haid yang terdapat bercak merah di rok bagian belakangnya. Ia sangat malu saat itu. Ezio Menutupinya dari cowok-cowok yang sedang menertawakannya. “Lo mirip kayak adek gua. Waktu pertama kali haid diejekin sama temen-temennya. Harus gue bantai dulu supaya mulut mereka diem dan gak ngejek lagi,” katanya waktu itu. Yara tak menanggapi, ia hanya tersenyum tipis.
Awalnya Yara kira mereka tidak akan berhubungan lagi setelah hari itu. Namun, mereka kembali dipertemukan lagi di roftoop sekolah. Hanya saja Ezio sedang berbaring dan memejamkan matanya, tidak tahu siapa gadis yang ia ajak bicara. “Kalo mau nangis, nangis aja, gak usah ditahan,” ucapnya mendengar seorang cewek yang suaranya terdengar seperti memendam tangis.
“Gue gak suka nangis.”Yara menjawab, ia tahu cowok itu adalah orang yang menolongnya saat pertama kali haid beberapa hari yang lalu.
“Kenapa?”
“Gue cuma orang gak berharga! Gak ada yang sayang sama gue!” Bukannya menjawab pertanyaan Ezio yang maksudnya ‘kenapa tak suka menangis?’ tapi ia malah mengungkapkan perasaannya.
“Semua orang berharga. Kalo gak, gak mungkin dia diciptain. Pasti ada yang sayang sama lo. Contohnya gue, sayang sama semua cewek,” candanya masih dengan mata terpejam.
Sejak saat itu, Yara ada orang yang menyayanginya, Ezio. Ia mulai menaruh harapan lebih pada Ezio. Gadis itu mulai mencari-cari informasi tentang Ezio, dari teman—teman fake—dan dari media sosial. Hari itu Yara tahu kalau ternyata Ezio adalah cowok yang suka melanggar peraturan sekolah, cowok berandal yang suka membuat onar, sekaligus cowok playboy cap kakap yang ternyata mantannya di mana-mana karena ketampanannya.
Meski begitu, Yara tetap mengaguminya.
Semua kekaguman Yara harus tertunda saat Ezio dikeluarkan dari sekolah karena aksi baku hantamnya dengan siswa dari sekolah lain. Yara benar-benar sudah bagaikan seekor itik kehilangan induknya. Ia tidak pernah lagi bertemu Ezio selama satu tahun. Selama satu tahun yang begitu membuatnya merasa kehilangan ketulusan seseorang.
Tak heran ketika dirinya memasuki SMA dan kembali bertemu Ezio, rasanya seperti hal terindah yang ia rasakan di dunia, ditambah reputasi Ezio yang merupakan cowok tertampan dan masih berstatus berandal.
Yara tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia tidak ingin seperti dulu yang kehilangan Ezio hanya karena belum bisa mengungkapkan perasaannya. Namun sebelum itu, Ezio terlanjur menyukai Sekar, gadis kampung yang menurutnya sok polos. Yara tahu Sekar tahu bahwa dirinya menyukai Ezio, dan pasti target Sekar adalah Ezio.
Sedari dulu, Yara membenci Sekar. Jauh sebelum Ezio datang. Sekar adalah gadis pintar dan lugu yang disayangi semua orang. Reputasinya selalu sebagai gadis protagonis yang akan membuat semua orang luluh. Semua yang Sekar dapat, tidak bisa Yara dapat.
“Non Yara,” panggil seseorang yang masih terdengar karena pintu kamarnya tak tertutup, sempat menguapkan lamunan cewek itu. Yara hanya menatap pembantunya datar. “Ada yang mau ketemu di bawah. Den Azhar.”
Alis cewek itu mengkerut. Tak ingin berlama-lama, ia segera menuju ruang tamu, menemukan sosok cowok tampan dengan jaket denim coklat yang terpakai di tubuhnya.
“Ngapain lo ke sini?!”
Cowok itu hanya tersenyum miring. “Sekarang lo percaya sama rekaman itu, ‘kan?”
Yara tidak menjawab. “Ada satu lagi.” Azhar terlihat menyerahkan sebuah amplop. Yara semakin tidak mengerti dan memilih membuka ampop itu. Sesuatu yang membuat dirinya membeku tak percaya.
***
Pug! Seseorang menepuk bahunya pelan dari belakang. Ezio langsung melayangkan tinjunya pada cowok itu yang untungnya belum sempat terkena wajahnya karena ia berhasil menghindar. “Wow! Wow! Santai, Bro! Santai!” ucap Brano mengangkat kedua tangannya ke atas.
Arion yang melihat itu hanya tertawa sambil mendudukkan diri di sofa yang disediakan gym. Dengan santai, meminum minuman kalengnya. “Patah hati tuh habis diputusin si Yara!” celetuknya tertawa kocak.
“Wow, udah mulai tumbuh benih-benih cinta nih! Sekar gimana dong?” sahut Brano menaikkan kedua alis ke atas.
“Bacot lo!” Ezio mencopot kedua sarung tangannya, satu ia lempar ke Brano, satu lagi ia lempar ke Arion dengan kasar. Ia benar-benar kesal kali ini, entah karena apa.
Arion menghela nafas lalu menggelangkan kepala. Sahabatnya ini memang tolol. “Zi, Zi ... kalo suka yang tinggal bilang aja!”
“Gue gak suka sama emak lampir itu! Gue cuma suka sama Sekar!” tegasnya menatap Arion tajam. Ia meminum air dalam botolnya secara kandas.
“Terlalu sering ngebohongin diri sendiri nih!” Arion berdiri dan merangkul pundak Ezio. Ezio langsung menepis tangan cowok itu. Arion hanya tertawa.
“Ya udahlah kalo lo gak suka Yara, mending lo kasihin ke gue!” kata Brano santai, mendapat tatapan tajam dari empunya.
“Ambil aja,” tanggap Ezio, “itu kalo dia mau sama lo.” Ezio tertawa meremehkan, wajahnya muram hari ini. Ia melemparkan botol kemasan yang sudah kosong itu ke arah Brano, menyampirkan tas ke pundaknya, dan segera pergi dari gym.
“Awas nyesel!” teriak Arion kemudian tertawa bersama Brano. Ezio yang masih dapat mendengar pekikan itu menutup pintu dengan keras. Tak mungkin ia menyesal hanya karena Yara. Iya, tidak mungkin. Ezio yakin, ini semua pasti hanya akal-akalan Yara. Yara tidak akan memutuskannya semudah itu. Cewek itu pasti akan kembali padanya.
Secepat mungkin, Ezio menyalakan motor sport yang telah ia anggurkan di parkiran selama berjam-jam. Cowok itu mulai mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, masih berusaha mengoversi pikirannya. Sialnya, di saat seperti ini ia malah mengingat kala dirinya membonceng Yara dengan kalang kabut yang membuat Yara memekik, sedang dirinya tertawa puas.
“Anjing!” umpat Ezio memukul setir tangan kirinya. “Sialan! Kenapa gue kepikiran lo terus sih, Ra?!"
***
A/N
Guys! Gimana part ini?!
Author minta komennya yah sebagai dukungan.
Semoga yang like, komen, dan follow rejekinya lancar😘