I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
Seekor Ikan



“Ibuk mau kamu kamu jawab jujur, bener kamu yang ambil sweater non Yara trus tuangin air minum ke surat obligasinya Tuan Gibran?” Ami menatap anak gadis di depannya dengan tajam. Sekar hanya diam sambil menunduk, sibuk memilin-milin kuku jarinya di atas pangkuan.


“Jawab!” tekan Ami. Sekar yang duduk di atas kasur itu hanya menggeleng.


“E-endak, Buk. Non Yara bohong!” jawabnya menggigit bibir bawahnya.


“Ibu masih ndak percaya! Non Yara gak mungkin bohong kalau ke Tuan Gibran! Selama ini kamu selalu ambil diam-diam barang milik non Yara, dan yang kembaliin barangnya itu selama ini Ibuk! Kamu pikir Ibuk ndak tahu?!”


“Ya ... ya .... aku biasanya ambil barangnya wong cuma pinjem, ta-tapi kalo sweater pink apalagi nuangin minuman ke su-surat itu endak! Bukan aku!” bohong Sekar masih kekeuh sambil menunduk. Sebenarnya jantungnya sudah berpacu sanag cepat saat ini disertai keringat yang memenuhi telapak tangannya.


“Tatap mata Ibu kalo lagi bicara, Nduk!” Ami meraih dagu cewek itu dengan amarahnya. Seluruh jawaban yang Sekar lontarkan terasa tidak meyakinkan bagi dirinya. “Kamu bohong toh!”


Mata Sekar memerah kala bertatapan dengan mata Ami yang penuh emosi. Ia tidak suka ibunya yang seperti ini. Kala ibunya selalu saja memojokkannya hanya untuk membela Yara sialan itu. Kala ibunya selalu mengingatkannya bahwa mereka hanya pembantu di rumah ini. Sekar tidak suka dianggap sebagai anak pembantu meski kenyataannya seperti itu. Sekali saja, Sekar ingin menjadi seorang nyonya.


“Ya! Aku bohong! Ibuk puas?!” Sekar berdiri dari duduknya, melotot pada ibunya. “Kenapa toh, Buk? Selama ini Yara selalu dapatin apa yang dia mau, kenapa aku endak?! Ndak boleh aku dapetin yang Yara dapetin juga?! Selama ini Ibuk selalu bilang, kita harus adil kalao sama orang lain. Tapi Tuhan ndak pernah adil! Dia kasih Yara segalanya, ndak sama Sekar! Aku ndak suka jadi anak pembantu, aku pengin cantik dan punya barang kayak Yara! Aku pengin ngerasain pacaran sama orang kaya!”


Mendengar itu, mata Ami berkaca-kaca seolah tak percaya. Selama ini ia menganggap Sekar sebagai anak yang masih baik, masih mau menerima keadaannya. Selama ini ia selalu berusaha, bekerja sekeras tenaga untuk menyenangkan putrinya itu. Nyatanya Sekar tidak sesenang itu.


“Aku yang nyuri sweater itu karena aku suka! Aku pake ke ruangan Tuan Gibran cuma ingin tahu gimana rasanya masuk ke ruangan mewah! Aku pake swater karena ada penutup kepalanya, jadi gak ada yang tahu! Aku gak sengaja tumpahin minuman itu ke suratnya trus aku bawa pergi biar gak ketahuan! Waktu Tuan Gibran nuduh Yara, aku taruh di kamarnya Yara taku ada penggeledahan di kamar pembantu! Harusnya Ibu bersyukur aku udah nyelamatin pekerjaan Ibuk—“


Plak! Tidak ingin mendengar perkataan Sekar lagi, Ami langsung menampar anaknya itu hingga terpental ke lantai. Air mata wanita itu sudah mengalir di pipinya. “Diam kamu! Diam ...!” teriaknya sambil memundurkan langkah lalu terjatuh di lantai dengan terisak hebat. Ia benar-benar tidak percaya dengan yang apa Sekar katakan barusan. Ia merasa ia adalah ibu terbodoh di dunia.


Apa? Apa sekarang julukan untuk anaknya? Seorang kriminal ‘kah karena menghilangkan uang dua ratus miliar milik konglomerat? Seorang pendosa kah karena telah memfitnah orang lain sampai orang lain itu disiksa dan celaka?


“Astagfirullahaladzi ... Astagfirullahaladzim ... Astagfirullahaladzim!” ucapnya berkali-kali dengan tangisan yang tak kunjung berhenti.


Sekar masih diam di tempat sambil memegangi pipinya yang panas. Matanya mulai berkaca, bukan karena menyesal, tapi karena benci. Ia semakin benci dengan Yara. Gara-gara Yara, pipinya yang berusaha ia rawat itu ditampar oleh tangan kotor ibunya. Gara-gara Yara, ibunya memojokkanya. Sekar mengepalkan tangannya. Ia benci Yara. Benar-benar benci sekarang.


Lihat aja, Ra, gue bakal balas lo! Gue bakal celakain lo!


***


Pagi ini, Yara berjalan di koridor bersama Eliot. Saling melempar canda tawanya dengan cowok itu. Beberapa orang yang melintas hanya menatap mereka saja, ada yang menyapa Eliot dengan enteng, ada juga cowok-cowok yang menepuk bahu Eliot karena saking friendly-nya Eliot.


Yara menyaksikan gerombolan Genia yang melintas di hadapannya. Mereka hanya menatap Yara, tidak berminat membuat masalah lagi. Yara hanya menggidikkan bahu. Semenjak ia dekat dengan Eliot, entah mengapa semua orang yang dulu menatapnya benci dan takut kini jadi biasa-biasa saja, tak seganas dulu. Meski hanya sebagian, tapi Yara bersyukur dengan hal itu.


Begitupun juga Genia. Entah mengapa, cewek itu sekarang seolah tak berani hanya untuk mendekatinya.


“Nanti lo jadi ‘kan ikut gue nonton konser?” tanya Eliot yang diangguki Yara.


“Gue udah siapin dresscode masa gak jadi sih!”


“Jangan lupa siapin suara bagus lo, supaya ntar artisnya notice lo dan ngajak lo nyanyi ke atas panggung!”


“Udah berani ya sekarang cubit-cubit lengan?”


“Lo biasanya juga berani cubit-cubit hidung gue!”


Eliot langsung mencubit hidung Yara lalu menariknya seolah hidung Yara itu adalah mainan per yang bisa dimainkan.


“Apaan sih lo! Sakit! Ih!” Yara memukul tangan cowok itu, sedangkan Eliot hanya tertawa dan mengacak-acak rambutnya.


Semua itu bisa Ezio saksikan saat Ezio berpapasan dengan keduanya. Awalnya, Ezio masih berharap Yara menyapanya. Nyatanya tidak, cewek itu hanya meliriknya sekilas sebelum perhatiannya kembali kepada Eliot. Ezio hanya tersenyum hambar melihatnya.


“Boleh gak kalo sekarang gue nyanyi lagu ‘harusnya aku yang di sana’?” celetuk Arion yang tiba-tiba muncul di sebelahnya. Ngeh saat melihat Ezio sedang menyaksikan kebersamaan Yara dan Eliot.


Ezio menoleh pada Arion, mendengus kesal sebelum akhirnya pergi.


***


“Jadi sin 120 derajat iru sama dengan sin sembilan puluh derajat plus tiga puluh derajat, nah positif cos 30 derajat itu sama dengan seperdua akar tiga. Gitu.” Setelah Eliot menjelaskan itu, Yara mengangguk-angguk.


“Paham?”


“Enggak.”


“Trus, ngapain ngangguk?” heran Eliot. Sedari tadi ia sudah sulit-sulit menjelaskan tapi Yara dengan ekspresi tanpa bersalahnya menjawab tidak.


“Ya gak papa, cuma ngangguk doang. Masa gak boleh?” Yara menggidikkan bahu.


“Mau gue ulang lagi?” tawar Eliot. Jika dihitung-hitung, ini sudah ke sebelas kali ia menerangkan hal yang sama pada Yara. Namun, dengan jujur Yara selalu menjawab tidak paham.


“Sekarang apa yang buat lo gak paham?”


Yara menengok buku itu dengan serius. “Ini kenapa bisa dapet 90 sama 30 derajat dari mana?”


“Kan gue udah bilang sin 120 itu ada di kuadran dua, Ra. Jadinya kalo 90 + 30 itu 120.” Eliot menatap Yara lekat yang terdiam. Meski tampak kebingungan, cewek itu tetap cantik.


“Maaf ya, El. Gue udah berusaha paham. Gue emang bodoh.” Yara tersenyum tipis sambil mengembuskan nafas. Setiap hari ia selalu meminta Eliot mengajarinya matematika di perpustakaan, setiap malam ia belajar apa pun tentang matematika karena katanya orang yang jago matematika itu baru bisa dianggap pintar, tapi jika tidak berarti dia bodoh. Nyatanya, sekeras apa pun Yara berusaha, semua percuma.


Eliot hanya tersenyum tipis. “Lo tahu, Ra? Lo gak perlu maksain diri buat melakukan sesuatu yang gak lo suka. Setiap orang punya keahlian masing-masing. Eistein pernah bilang, setiap anak jenius, tapi kalo kita mengukur seekor ikan dari cara dia manjat pohon, ikan itu akan ngerasa paling bodoh sedunia.”


***