
...Jadi apa aku harus membuat masalah di sekolah dulu supaya papa mau datang ke sekolah dan memperhatikanku?...
...***...
Kaki Yara ia langkahkan memasuki kantin. Seluruh pandangan tertuju untuknya, tapi ia mencoba tidak peduli. Yara segera memesan makanan dan menunggunya di meja nomor lima. Ia baru saja mendudukkan pantatnya, tapi orang yang duduk di meja itu langsung pergi, memandangnya ketakutan seolah dirinya adalah monster penebar virus korona. Yara memutar bola matanya sambil menghela nafas.
Saat pesanan sudah siap, cewek itu segera berlari karena perutnya sudah lapar. Namun, hidupnya memang sesial itu. Seseorang entah sengaja atau tidak baru saja menabraknya keras sehingga orang itu terpental dan jatuh, hanya Yara yang masih berdiri. Dia Sekar.
Cewek itu tampak menahan kesakitannya di bagian siku. Ingin Yara berbicara, tapi sebuah suara kencang sudah menghiasi telinganya. “SEKAR!”
Ezio berlari dan segerah menolong Sekar yang sedang merintih kesakitan lalu menatap tajam ke arah Yara. Yara benci momen ini, momen di mana Ezio akan memakinya hanya untuk Sekar. “LO APAIN LAGI SEKAR?!”
Sial, semua orang di kantin kini menatap mereka bertiga. Sebagian siswi yang mulutnya selebar kolor celana sibuk berbisik dan ada yang berbicara terang-terangan tentang dirinya. “Eh, Gais! Lihat tuh, Si Yara nyakitin Sekar lagi! Kasihan ya!”
“Iya jahat banget!”
“Gak gue apa-apain kok!” Yara jadi kesal sendiri. Sebenarnya ia sedang muak bertemu dengan Ezio, ia masih cukup sakit hati karena sebuah fakta baru yang memuakkan yang diungkap Azhar kemarin, apalagi bertemu Sekar yang suka drama.
“Lo liat dia nangis!” pekik Ezio.
“Ya gue gak tahu dong! Nangis bukan berarti gue yang buat nangis! Lagian dia tadi yang nabrak gue duluan trus jatuh-jatuh sendiri—“
“Biasanya lo yang bikin dia nangis!”
“BIASANYA, ‘KAN?!” pekik Yara mengangkat dagunya. Ia benar-benar emosi sekarang. Ezio tertegun. Tidak biasanya Yara seperti ini. Matanya melambangkan kebencian sekarang.
“Iya! Biasanya lo yang bikin ulah! Kalau lo gak nyakitin dia gak bakal dia nangis!”
“Ya lo tanya aja sama dia! Apa gue sempet ngapa-ngapain dia?! Kenapa dia cuma diem aja!” katanya keras. Sudah tahu dari dulu kesabaran Yara sangat tipis, tapi Ezio selalu saja menjebol kesabaran cewek itu. Selalu. “Bisanya cuma nangis!”
Sekar semakin menangis keras. “Ka-Kak, Sa-sakit!” ucap Sekar disertai isak tangisnya. Semua orang jadi semakin prihatin padanya, kecuali Yara yang menatapnya jijik.
“Bentar, habis ini gue bawa lo ke UKS, ya?” tawarnya. Yara mengembuskan nafas, tak ingin melihat drama kekanakan itu lagi, ia segera meninggalkan area kantin dengan emosi yang sebenarnya masih meletup-letup, tidak peduli lagi dengan rasa lapar yang ia tahan dan makanan yang sudah ia pesan. Ezio tidak menyangka, Yara bisa meninggalkannya dengan Sekar begitu saja, tidak seperti biasanya.
Yara melangkah dengan cepat. Kepalanya terasa pusing. Matanya kini menemukan beberapa cewek yang sedang berkumpul dan tertawa. Ia masih berusaha menahan emosinya, lalu mendekati cewek-cewek itu. Menarik salah satu dari mereka. “Ngapain lo gabung sama dia?!” tanyanya.
Reana yang dtarik tangannya langsung melepaskannya.
“Mereka sekarang temen gue,” jawab Genia santai sambil tersenyum menjengkelkan. Raut muka Yara yang tidak santai.
“Lo tahu ‘kan dia musuh gue?!” tanya Yara sambil menunjuk Genia, menatap keempat cewek dengan tegas, sedang keempat cewek yang biasanya jadi babunya dan biasa menemaninya menindas orang lain itu hanya diam. “Owh! Dibayar berapa lo sama dia?!”
“Gak penting berapa, yang penting mereka ini udah gak mau lagi jadi babu lo! Karena yah ... lo ‘kan sekarang putus sama Ezio, trus gue juga bisa lebih nge-treat mereka like a queen! Gak kayak lo jadiin temen lo babu!” Yara menggertakkan giginya kesal. Ia menatap ke arah empat cewek itu.
“Ck, udahlah, gak usah maksa! Mereka gak mau! Lagian kalo masalah barang branded, gue bisa beliin mereka lebih, ya ‘kan, Girls?” tanya Genia yang diangguki oleh mereka berempat. Senyum Genia kini penuh kemenangan karena dengan keempat cewek itu ia bisa melawan Yara.
“Sialan lo!” Sudah cukup! Yara tidak bisa menahan amarahnya. Sedari kantin ia sudah emosi, dan kini Genia malah memancing emosinya. Sungguh, Yara sedang butuh pelampiasan sekarang.
Yara menjambak bando ungu yang dikenakan Genia sampai copot dari rambutnya yang rapi. Genia melongo. Tak ingin kalah, ia menjambak rambut Yara keras. Kini mereka main jambak-jambakan. Keempat cewek itu membantu memisahkan mereka berdua, tapi naas tenaga kedua cewek itu sangat kuat. Itu kenapa Yara dijuluki cewek jahat.
Beberapa siswa yang melintas menghentikan langkahnya dan memilih menonton pertunjukkan mereka berdua. Ada yang mendukung Genia, ada yang mendukung Yara.
“Lo cewek gila emang ya!” ucap Genia mencengkram tangan Yara. Yara mencakar pipi cewek itu. “AGH! PIPI MULUS GUE!”
“Rasain lo!” balas Yara masih dengan tangannya yang berada di posisi rambut. Genia tak ingin kalah, ia mencakar pipi putih Yara yang mengakibatkan luka dan merah di sana.
“Ayo, Gen! Hajar!” ucap para murid yang menonton, setengahnya merekam.
“Ayo, Ra! Gue pendukung setia lo!” dukung seorang cowok pada Yara.
Yara mencengkram erat seragam putih milik Genia dan menariknya kasar hingga menghasilkan suara ‘krek!’. Iya sobek! Seragam Genia sobek bagian lengan dan memperlihatkan ketiaknya. “KURANG AJAR LO!” pekiknya menampar Yara.
Yara tak kalah menampar pipi Genia. Aksi mereka berdua akhirnya berhenti ketika seorang guru melewati koridor yang sudah ramai siswa. Pak Gavin dan Bu Venie memisahkan mereka berdua yang sudah awut-awutan seperti habis diperkosa.
Meski sudah dipisahkan, mulut keduanya tak berhenti mengatai satu sama lain.
***
Gara-gara kejadian bodoh itu, pihak sekolah harus memanggil orang tua mereka masing-masing. Terpaksa Gibran, papa Yara harus datang ke sekolah, karena pihak sekolah hanya ingin orang tua kandung Yara yang datang. Yara jelas senang bukan kepalang. Selama dia hidup, papanya tidak pernah datang ke sekolah. Kalau begini, apa Yara harus membuat masalah besar dulu baru papanya mau datang?
“Aku seneng papa mau datang ke sekolah,” kata Yara dengan sangat hati-hati seusai tuntas di ruang BK. Gibran malah menatap anaknya sengit.
“Bodoh!” ucapnya sarkas. Yara menundukkan kepalanya. Dari nadanya, ia tahu Gibran sedang marah. “Merepotkan! Kamu tahu? Gara-gara kamu rapat papa harus tertunda!” Hati Yara terasa tertikam. Namun, ini sudah biasa.
“Papa selalu mikirin rapat, gak pernah sekali ke sekolah nengok aku,” jawab Yara, sebenarnya ia takut. Jari telunjuk Gibran langsung menunjuk putrinya, matanya melotot marah.
“Kamu berani jawab?! Denger, papa gak punya waktu buat urusan gak berguna kamu! Pekerjaan papa lebih penting dari kamu! Kamu ngerti?!”
****
A/N
Yukk! Sebelum lanjut, author ingatin nih buat pencet tombol like, gak susah kok tinggal pencet!
Then jangan lupa follow! Semoga hari kalian lancar!