I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
Berantem



Bruk! Kelima orang lelaki itu menghempaskan tubuh Ezio dengan kasar di atas tanah dalam gedung, menghadapkannya pada sesosok lelaki berhoodie dengan penutup wajah yang terduduk di atas kursi. Ezio berbatuk darah saat tubuhnya digeletakkan. Matanya masih bisa menangkap sosok itu dengan matanya. Ezio berusaha berdiri dengan mengusap darah di bibirnya.


Ia menyorot tajam sosok lelaki itu. Ezio masih belum bisa mengenalinya. Yang pasti kali ini ia mengepalkan tangannya, bersiap-siap jika saja sosok itu menyerangnya. “Mau apa lo?”


“Ngehajar lo!” Lelaki itu berdiri lalu membogem-bogem telapak tangannya menandakan akan menyerang Ezio sambil maju.


Tanpa aba-aba, langsung saja dengan kemampuan bela dirinya, Ezio menyerang lelaki itu dengan satu bogeman, tapi lelaki itu langsung menghindar dengan memundurkan kepala.


Mengetahui itu, kelima orang suruhannya yang tadi berjaga ingin ikut menghajar Ezio. Namun langsung dicegah. “Satu lawan satu, gue pingin ngehajar dia pake tangan gue sendiri!”


Mereka semua menurut. Lelaki itu menyerang Ezio yang langsung ditampis olehnya. Sosok lelaki itu tersenyum miring, membalikkan tubuh Ezio dan kini lengannya sudah berada di leher Ezio.


Bukh!


Ezio menendang perut lelaki dari depan membuat lelaki itu tersungkur mundur. Lelaki itu mengusap bibirnya yang berdarah, semakin tersenyum miring. Saat Ezio kembali menyerangnya, lelaki itu langsung menahan lengan Ezio dan krak! Ia memplintir lengan Ezio, membawa Ezio dalam kendalinya.


Bukh! Bukh! Bukh!


“Kemampuan lo itu masih gak setara sama gue!” bisiknya sebelum membuka tudung kepala, memperlihatkan ekspresi murka yang sepertinya sudah ia tahan beberapa hari ini. Ezio melihat wajah itu, wajah yang sangat ia kenali, matanya melebar.


“Lo ...?” Ezio membeo sambil berbatuk-batuk. Namun, sosok itu masih saja memukuli Ezio dengan kepalan tangannya.


“Cowok brengsek!”


Bukh! Bukh!


Telah mengetahui wajah itu, Ezio tidak melakukan perlawanan lagi. Membiarkan sosok itu memukulinya melampiaskan amarah, meski Ezio tidak tahu apa yang membuat ia seperti murka besar. Bukh!


Kali ini lelaki itu berhenti memukulinya. Ia menarik kerah Ezio. “Lo tahu apa yang terjadi sama Yara kemarin?” tanyanya. Nadanya penuh penekanan di setiap kata.


Mendengar nama itu, hati Ezio berdesir. “Lo inget waktu Yara lari dari sekolah? Dia keluar gerbang. Gara-gara lo dan ****** itu, Yara ketabrak mobil sampai masuk rumah sakit.”


Bukh! Satu pukulan melayang lagi di pipi Ezio. Sekarang seluruh rasa sakit di tubuh menguar, tergantikan dengan dentuman di jantungnya saat mendengar kata-kata itu. Seperti tidak percaya, ia melihat mata serius lelaki itu dan tak ada kebohongan di sana.


Jadi itu alasan Yara tidak masuk berhari-hari? Itukah yang terjadi pada Yara sedangkan ia malah membela-belakan Sekar yang hanya pingsan sekejap? Kenapa Ezio baru mengetahuinya sekarang? Kenapa ia harus melakukan itu pada Yara? Ezio memundurkan langkahnya, meremas rambutnya kasar.


Mengetahui ekspresi itu, lelaki berhoodie di hadapannya menggertakkan gigi. Ia kembali menarik kerah Ezio. “Apa yang lo katain ke Yara waktu itu, bego?!” Ia kembali membogem Ezio. Rasa kesal mengalir di sekujur tubuhnya.


Ezio membiarkan saja cowok itu melampiaskan amarahnya pada dirinya. Ia merasa pantas mendapatkannya. Ia merasa rasa sakit yang ia rasakan sekarang tak sebanding dengan rasa sakit yang Yara rasakan saat itu, saat ia membela Sekar, membentaknya, mempermalukannya di hadapan semua orang, hingga Yara berlari dengan tangisannya, tertabrak motor dan memasuki rumah sakit. Mengingat itu, Ezio merasa dirinya adalah cowok terbodoh di dunia.


Berbeda dengan lelaki itu yang dikabuti kesal, Ezio dikabuti penyesalan. Berbagai kata ‘seharusnya’ langsung memutari kepalanya. Harusnya ia melindungi Yara sebagai pacar, bukan melukainya. Harusnya Ezio tidak mengatakan hal yang menyakiti Yara. Harusnya Ezio lebih tahu tentang keadaan Yara saat itu.


Sosok lelaki di depannya masih tak berhenti memukulinya.


Bukh! Sekali lagi lelaki itu memukul Ezio dan lagi-lagi Ezio hanya diam tanpa melawan. Setelah puas, mereka semua akhirnya pergi dari ruangan kosong itu, meninggalkan Ezio dengan segala rasa penyesalannya.


***


Jam menunjukkan pukul dua pagi. Dengan pelan, Ezio membuka pintu dan berjalan mengedap-endap di ruangan rumah megahnya. Memastikan tidak ada sedikit pun suara yang keluar langkah kakinya agar mama yang mungkin sedang tertidur tidak terbangun apalagi mendapati wajahnya yang babak belur.


Cowok tampan itu melepas sepatu untuk menghindari suara di keramik marmer rumahnya. Bersiap menaiki tangga kalau saja sebuah suara tidak menginterupsinya dari belakang. “Kamu dari mana aja, Ezio?!”


Lampu yang sedari tadi mati, kini hidup disengati listrik. Ezio membalikkan badannya, menemukan wanita paruh baya berbaju kimono, disusul seorang pria paruh baya yang hanya menghela nafas di belakangnya.


“Astaga! Ada setan, Pa!”


Diana mendekati Ezio heboh sambil melototkan matanya. “Ya ampunnn! Kamu habis berantem lagi?!” Diana menyentuh pipi Ezio yang bonyok membuat Ezio meringis dan menghindar.


“Sekarang karena apa lagi ini?! Kamu berantem demi belain anak pembantu itu lagi?!” tanyanya sambil menaruh kedua tangan di antara pinggang. Mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu saat Ezio dipanggil ke BK karena menghajar seorang cowok yang telah menghina Sekar.


“Kamu lihat nih anak yang kamu bangga-banggain ini, Pa! Lihat! Kerjaannya beranteem mulu! Itu pun berantemnya gara-gara hal gak jelas!”


Ezio membuang mukanya, berahadapan dengan mamanya sama dengan berhadapan dengan toa masjid, bedanya lebih ke arah merusak kupingnya. Cowok itu tidak menghiraukan omelan murka dari mamanya. Ia lebih memilih menaiki tangga membuat Diana semakir menaikkan oktaf bicaranya.


“Mau jadi apa kamu kalo setiap anak pembantu itu nangis kamu berantem! Mau jadi pelindungnya dia terus?!” suara Diana dari bawah yang ditenangkan oleh Arsel—papanya.


Setelah itu beberapa menit sudah tidak ada suara omelan mamanya. Yang Ezio dengar kini suara langkah kaki seseorang yang kini berdiri di pintu kamarnya. “Kamu berantem lagi sama dia?”


Ezio yang tadi mencengkram kepalanya pusing, sekarang menatap Arsel setelah itu membuang Muka. Arsel hanya tertawa, ia mendudukkan diri di kasur Ezio. Menyipitkan mata. Dari tampilannya saja, Arsel tahu Ezio bukan berkelahi, tapi dipukuli. “Kenapa gak lawan?”


Cowok itu langsung menatap papanya aneh sebelum kembali membuang muka. “Menurut papa sendiri?”


Arsel mengangguk dan tersenyum tipis, ia mengerti maksud Ezio. “Kalo gini sih, papa jadi yakin kayaknya kamu yang salah.”


“Ezio, kalo kamu yang salah, kamu yang minta maaf! Bukan orang lain! Terkadang walau kelihatannya mudah, kata ‘maaf’ itu sulit diucapin karena orang lebih mentingin ego! Dan terkadang yang orang lain pingin dari kita cuma kata itu, maaf.” Arsel menepuk pundak Ezio sebelum pergi dari kamarnya. Perkataan yang membuat Ezio tahu harus mengatakan apa pada Yara.


***


A/N


Satu kata buat Ezio yang bonyok!


By the way semoga yang like, vote, and komen rejekinya lancar!