I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
Sakit



"Pembohong!"


Ezio mengerutkan kening yak mengerti mendengarnya.


“Lo mau tahu kebenarannya?! Beneran mau tahu apa yang Azhar kasih tunjuk ke gue?!” tanya Yara dengan rasa sakit yang membara di dadanya. Matanya menyorotkan kalau ia tidak suka dengan Ezio, ia benci suatu hal dari cowok itu yang tidak Ezio ketahui apa. Yara melangkahkan kakinya cepat yang diikuti Ezio.


Semua orang minggir saat berpapasan dengan Yara mengetahui ekspresi menyeramkannya. Yara memasuki kelas, membongkar isi tasnya, dan menemukan sebuah amplop putih di sana yang selalu ia bawa ke mana-mana. Amplop yang Azhar berikan padanya dulu.


“Keluar kalian semua!” perintahnya pada semua orang yang masih menegang di kelas. Mereka tak mau membuat masalah, jadi tak ada satu pun yang mengelak, mereka keluar dari kelas itu menyisakan dirinya dan Ezio. Yara tahu ini egois, Yara tidak peduli nanti orang berkata semena-mena padanya, Yara hanya ingin menyampaikan sesuatu yang privasi.


Semua orang yang keluar nyatanya malah menonton mereka berdua dari jendela. Ezio nampak bingung memandang Yara yang kacau. “Gak usah nonton lo semua!” tunjuk Yara dengan mata tajamnya pada semua orang di jendela. Amarahnya membangkitkan rasa takut orang-orang untuk tidak lagi bersemayam untuk sekedar menonton dari jendela. Sekarang, tidak ada yang mendengar dan menonton.


Yara langsung saja melempar amplop itu ke wajah Ezio. “Lo bilang lo gak selingkung, ‘kan?! Lo pembohong!”


Perasaan Ezio mulai tidak enak. Ia membuka isi amplop itu dan menegang di tempat, mendapati sebuah foto dirinya yang tengah berciuman dengan Sekar. Tak hanya satu foto tapi lima di tempat yang berbeda. Ezio melotot dan menggelengkan kepala.


"Lo inget lo pernah bilang cuma mainin gue di kafe? Gue udah denger semuanya! Dan ini foto lo sama Sekar!"


Ezio mengambil foto itu. "Ra, gue emang dulu mainin lo, tapi gue gak pernah lakuin ini!”


Yara hanya tertawa. “Gue udah prediksi lo bakal ngomong gitu kok. Azhar udah nutupin semua perbuatan jijik lo itu, dan Azhar gak akan tahan ketika temennya sendiri tersakiti!”


“Azhar?” ulang Ezio tidak percaya. “Lo lebih percaya Azhar? Ra! Gue gak pernah yang namanya ciuaman sama siapapun!”


“Bullshit! Lo tahu, setelah gue tahu itu semua, harusnya gue bener-bener ngejauh dan ngebenci lo, Zi! Sayangnya gue masih punya perasaan bodoh ke lo! Gue masih berharap sama lo!” Yara mendorong tubuh Ezio kasar yang hendak meraihnya. Dadanya terasa sesak melihat foto itu. “Lo dulu janji ‘kan lo gak bakal selingkuh meski lo pacaran sama gue karena terpaksa?! Lo cuma nemenin Sekar?! Lo bangsat, Ezio!”


Kemudian Yara mengusap air matanya secara kasar. “Gue lupa, lo ‘kan cowok playboy dulu, mungkin sampe sekarang yah. Harusnya gue gak nangisin cowok brengsek!”


Seluruh atma Ezio terasa seperti disetrum saat mendengar kata-kata Yara. Namun yang lebih menyakitkan ketika ia melihat Yara berusaha mengusap air matanya berkali-kali, menahan untuk tidak menangis lagi dengan kata lain menahan rasa sakitnya untuk tidak ia tuangkan di hadapan Ezio. Sorot mata yang biasanya bercahaya, kini meredup untuknya seolah tak ada harapan lagi. “Gue gak pernah lakuin ini, Ra! Gue gak tahu itu siapa!!” bantahnya.


Yara lagi-lagi tertawa sumbar. “Sorry, gue gak percaya.” Kalimat itu, Ezio masih ingat kalimat yang selalu ia katakan pada Yara dulu ketika Yara memintanya percaya bahwa dirinya tidak melakukan apapun pada Sekar saat semua orang hanya percaya pada Sekar, tapi Ezio malah mengatakan kalimat itu.


“Lo ... harus percaya, gue gak pernah ada hubungan apa pun! Ini bohong!”


“Gimana? Gimana rasanya saat lo ngemis kepercayaan orang lain, tapi orang itu gak percaya?” tanya Yara tertawa menyakitkan membuat Ezio terdiam. “Itu yang gue rasain.”


Yara hendak pergi, tapi tangannya lagi-lagi dicekal Ezio. Sungguh, Ezio berharap dapat menenangkan cewek itu dalam pelukannya seperti dulu, tapi Yara menghempaskannya. Menatap Yara semakin membuat hati Ezio sakit.


Pada akhirnya, Ezio perlahan melepas pegangan tangannya dari lengan Yara. Matanya tak pernah beralih dari mata Yara yang sendu. Sekali lagi, Yara meneteskan air mata. Ia terlihat mengembuskan nafas. “Makasih buat setahunnya.” Setelah kata itu, Yara pergi, meninggalkan Ezio sendiri di ruang kosong itu.


Kali ini, Ezio tidak akan menghalangi Yara untuk pergi lagi. Ezio terlalu sadar ia telah banyak menyakiti cewek itu. Selama ini Ezio kira itu hanya sebagian dari drama Yara untuk pergi dari hidupnya dengan alasan agar dapat menarik perhatian Ezio, nyatanya seluruh sorot mata Yara hari ini membuktikan bahwa ia benar-benar ingin pergi dari hidup Ezio.


Ezio merasakan ia telah kehilangan sesuatu dalam hidupnya. Hal yang membuat Ezio sadar dan tidak bisa membohongi perasaannya lagi, bahwa kali ini ia memang mencintai Yara, meski itu sudah terlambat.


***


Ezio meremas foto-foto di tangannya. Ia benci foto itu, foto menjijikkan yang membuat Yara membencinya. Sungguh, Ezio tidak pernah melakukan apa pun dengan Sekar. Meski mereka dekat, kebersamaannya hanya untuk melindungi dan menemani Sekar, tidak lebih. Ia merasa foto itu manipulatif.


“****!” umpatnya saat teringat Azhar dalang di balik semua ini. Pertanyaan-pertanyaan mulai memenuhi kepalanya. Apa maksud Azhar menunjukkan foto itu pada Yara? Apa tujuannya? Orang yang ia anggap teman sendiri membuat hubungannya hancur?


Ezio segera keluar rumah mengambil jaket dan kunci, menaiki motor sport-nya untuk membelah jalanan malam. Tujuannya kali ini ke tempat di mana Azhar biasa nongkrong dengan teman-temannya. Gedung kosong Victoria.


Motornya kini tiba di area gedung itu. Sepi. Ezio mengerutkan keningnya. Tempat ini tidak sepeti biasanya yang ramai dengan anak tongkrongan. Namun, cowok itu tetap turun dari motornya untuk melangkah masuk ke gedung dengan tangan mengepal erat. Rasanya kali ini ia ingin mencari pelampiasan untuk ia pukuli.


Namun, belum sampai ia memasuki gedung itu, lima orang laki-laki bertubuh kekar dengan penutup kepala tiba-tiba muncul mengitari dirinya. Ezio menatap mereka aneh.


“Pukulin dia!” perintah salah seorang dari mereka. Tanpa menunggu lama, kelimanya langsung menyerang Ezio dengan pukulannya. Ezio berusaha menghindar, tapi naas pipi tampannya itu terkena bogeman.


Merasa tidak terima cowok itu menonjok mereka satu per satu dengan amarahnya. Bugh! Bugh! Bugh! Salah seorang dari mereka menendang Ezio. Ezio langsung saja menyerang mereka membabi buta, tidak peduli lagi jika orang itu mati.


Satu orang lagi langsung menarik Ezio, menahannya di bantu oleh yang lain. Sedang dua orang, langsung saja membogem Ezio berkali-kali di pipinya.


Ezio berusaha melakukan perlawanan, namun tubuhnya ditahan kuat. Satu lawan lima yang membuat Ezio akhirnya dipukuli. Bugh! Hingga pukulan terakhir pada perut Ezio membuat darah keluar dari mulutnya.


“Bawa dia!”


***


A/N


AYO GESS KOMENNYA! LIKENYA! KALO SUKA SLCERITANYA JANGAN LUPA SHARE!😘